Selasa, 15 Desember 2015

Taman Nasional Kelimutu

Berkunjung ke Ende, buat sebagian orang terasa belum lengkap tanpa mengunjungi Taman Nasional Kelimutu (Kelimutu National Park). Sebuah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam.
Taman Nasional Kelimutu mencakup luas wilayah sekitar 5.356,50 hektar yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 679/Kpts-II/1997 Tanggal 10 Oktober 1997. Taman nasional ini merupakan yang terkecil dari enam taman nasional di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Secara administratif lokasinya berada di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Detsuko, Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Untuk menuju Taman Nasional Kelimutu tidaklah sulit karena jalan utama menuju kawasan tersebut berada di tepi jalan arteri Ende-Maumere. Bisa menggunakan bis jurusan Maumere tapi harus berjalan lumayan jauh menuju ke pintu masuk Taman Nasional Kelimutu. Jika rombongannya terdiri dari 6-8 orang bisa carter mobil ke sana dengan biaya sekitar 750 ribu dari Kota Ende, tapi kami memilih menggunakan jasa ojek dengan biaya hanya 100 ribu sekitar 6 jam pulang pergi. Selain irit, juga bisa menikmati perjalanan dengan seksama karena pada waktu kami ke sana, cuaca cukup bersahabat. Perjalanan dengan ojek dari Hotel Safari tempat kami menginap sampai ke areal parkir kawasan Taman Nasional Kelimutu, memerlukan waktu sekitar dua jam.
Sekitar satu kilometer lebih sebelum sampai ke areal parkir, kami harus membayar karcis masuk pengunjung Taman Nasional Kelimutu sebesar 5 ribu dan pengojeknya pun harus membayar karcis masuk juga. Setelah itu, kami akan melalui jalan hotmix seukuran 4 meter menanjak dan berkelok-kelok sampai areal parkir. Dalam perjalanan ini, kami melintasi kawasan agrowisata. Di kiri-kanan jalan tersebut, kami bisa menyaksikan aneka tanaman yang ada di kawasan argowisata yang membentuk hutan tersebut, seperti pohon ampupu (Eucalyptus urophylla), cemara (Casuarina junghuniana), aro (Wendlandia paniculata), poni atau pakis gunung (Cyatea sp), dan lain-lain. Ada sekitar 250 tanaman dan 3 tanaman endemik. Semua itu terdiri dari 79 jenis pohon dan 15 jenis tanaman bawah.


Tanpa terasa perjalanan yang berkelok-kelok tersebut, sampailah kami di areal parkir. Kami harus berpisah sementara dengan tukang ojek, karena kedua tukang ojek ingin beristirahan dan menunggu di areal parkir sampai minum kopi. Sementara, rasa penasaran akan keingintahuan berikutnya kami terpaksa melanjutkan perjalanan terus hingga ke atas dengan jalan kaki, karena memang kendaraan tidak diizinkan naik ke atas kecuali para petugas rescue atau Tim SAR dari Taman Nasional Kelimutu.
Dalam perjalanan ini, kami akan melintasi arboretum seluas 4,5 hektar. Dalam bahasa Latin, arboretum berasal dari kata arbor yang berarti pohon, dan retum yang berarti tempat. Sedangkan arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangkbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.
Arboretum memiliki fungsi sebagai tempat koleksi keanekaragaman jenis flora Taman Nasional Kelimutu. Dari yang dilalui tersebut, kami melihat tanaman mboa (Melastoma malabatricum), poni atau pakis gunung (Cyatea sp),  aro (Wendlandia paniculata), bongo (Ficus Fistulosa), singgi (Litsea resinosa), gari (Schefflera lucida), dan mera meke (Pittosporum molucanum).
Setelah melintasi arboretum, kami menjumpai banyak pohon cemara (Casuarina Junghuniana). Orang setempat menyebutnya dengan tanaman bu, dan beberapa tanaman endemik Kelimutu, yaitu uta onga (Begonia kelimutuensis), turuwara (Rhondodenron renschianum), dan arengoni (Vaccinium varingiaefolium). Selain keanekaragaman flora, di Taman Nasional Kelimutu juga banyak terdapat jenis fauna yang mendiaminya, seperti kelelawar (Cynopterus nusatenggara), tikus lawo atau teu lawo (Rattus hainaldi), tikus besar Flores atau deke (Papagomys armandvillei), cacurut munggis rumah (Suncus murinus), musang luwak atau beku (Paradoxurus hermaphroditus), babi hutan (Sus scrofa), ular (Trimeresurus albolabris), elang coklat (Accipiter fasciatus wallacii), perkutut loreng (Geopeli striata maugeus), burung bondol atau hijau dada merah ( Erythrura hyperythra obscura), burung Kancilan Flores (Pachycephala nudigula nudigula Hartert), ayam hutan hijau (Gallus varius), burung perkici pelangi (Trichoglossus haematodus weberi), dan anis hutan (Zoothera andromedae). Selain itu, di Taman Nasional Kelimutu juga terdapat burung Garugiwa (Monarcha sacerdotum). Burung ini memiliki suara merdu mengiringi matahari terbit di sekitar danau. Burung yang tergolong endemik Flores ini sekarang sudah sangat langka, masyarakat setempat menyakini burung tersebut sebagai burung arwah. Burung tersebut mempunyai ciri-ciri: kepalanya berwarna hitam, paruh warna hitam dengan garis putih, gelambir kulit warna merah, dan menggelembung saat berkicau, bulu hitam di bawah gelambir, bulu bagian sayap punggung dada dan ekor berwarna hijau kekuningan pada bagian atas, kaki berwarna hitam serta bulu sayap dan ekor bagian bawah berwarna hitam.


Perjalanan kaki sepanjang 3 sampai 4 kilometer tersebut, akhirnya sampai juga kami puncak gunung yang ditandai dengan adanya tugu Soekarno sebagai monumen. Di sekitar tugu tersebut dipasang pagar tralis, agar supaya keselematan pengunjung terjaga karena di atas kecepatan angin cukup kencang. Sehingga bila tidak hati-hati, pengunjung bisa tergelicir masuk ke dalam danau-danau yang terdapat di kawasan puncak tersebut. Inilah Gunung Kelimutu! Kelimutu merupakan gabungan dari kata “keli” yang berarti gunung, dan kata “mutu” yang berarti mendidih.
Gunung Kelimutu yang berada di ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut (dpl), tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Tubusa bersama dengan Gunung Kelido (1.641 m dpl) dan Gunung Kelibara (1.630 m dpl). Ketiganya membangun kompleks yang bersambungan kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dan kaldera Sokoria. Letak puncak-puncak gunung api ini terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus lebih kurang utara-selatan.
Dari ketiga gunung tersebut, Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitas sampai sekarang yang merupakan kelanjutan kegiatan gunung api tua Sokoria.
Tubuh Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika (bom, lapili, scoria, pasta, abu, awan panas dan lahar) serta lelehan lava. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya dengan topografi kasar sedang dibangun oleh aliran piroklastika dan lahar serta lelehan lava andesit, penyebaran lereng barat selatan berelief sedang, dibangun oleh kegiatan Kelimutu muda tapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar.
Pada puncak Kelimutu terdapat 3 buah sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau kawah dengan warna air yang berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi, bernama Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai (danau hijau) dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru). Tiwu Ata Polo atau Ata Polo Lake dianggap sebagai tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai atau Nuwa Muri Ko’o Fai Lake merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Sedangkan, Tiwu Ata Mbupu atau Ata Mbupu Lake adalah tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Itulah kenapa Danau Kelimutu kerap dikenal sebagai Danau Tiga Warna, artinya ketiga danau yang memiliki warna yang berbeda-beda tersebut berada di kawasan yang dikenal dengan Gunung Kelimutu meski sebenarnya ketiga danau tersebut memiliki nama sendiri-sendiri.


Sejarah Gunung Kelimutu memang kurang dikenal, namun menurut keterangan penduduk setempat gunung dengan ketiga danau berwarna ini telah ada sepanjang sejarah di mana dinding di antara 2 danau di bagian timur dahulunya bisa dilalui orang, tetapi sekarang dinding semakin menipis dan hampir lenyap akibat peristiwa vulkanik berupa letusan dan gempa.
Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelimutu meletus dahsyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam Watukali, kemudian meletus kembali pada tahun 1869-1870 disertai aliran lahar dan membuat suasana gelap gulita di sekitarnya di mana hujan abu dan lontaran batu hingga mencapai Desa Pemo.
Gunung Kelimutu pertama kali ditemukan oleh B.C.Ch.M.M. van Suchtelen, seorang controleur onderafdeling Ende dan sekaligus peneliti, pada tahun 1915. Namun, Gunung Kelimutu baru dikenal oleh masyarakat luas ketika salah seorang pastor bernama Y. Bouman, SVD menuliskan kekagumannya pada Gunung Kelimutu yang menyimpan pesona Danau Tiga Warna dalam sebuah tulisannya pada tahun 1929. Sejak itulah Gunung Kelimutu dikenal dunia dengan indahnya Danau Tiga Warna yang memikat hati pengunjung. Mereka berkunjung untuk menikmati keindahan Danau Tiga Warna yang oleh masyarakat setempat dianggap angker.
Ketika dalam masa pengasingan di Ende, Flores, dari tahun 1934 sampai dengan tahun 1938, Soekarno atau Bung Karno pernah mengunjungi Gunung Kelimutu. Keterpesonaan akan Gunung Kelimutu dan situasi masyarakat setempat yang menganggapnya masih angker mengilhami Bung Karno dalam menulis naskah drama yang diberi judul Rahasia Kelimutu. Naskah yang terdiri dari 7 babak ini akhirnya dipentaskan di Gedung Imaculata, milik Katedral Ende. Pementasan ini dilakukan oleh Toneel Club Kelimutu yang didirikan oleh Bung Karno bersama sahabat-sahabatnya di Ende, dan distrudarai langsung oleh Bung Karno. Naskah drama Rahasia Kelimutu ini mengisahkan kepecayaan masyarakat akan hal-hal tahyul, yang dinilai menghambat kemajuan dan merintangi langkah menuju modernitas. Tentunya dalam 7 babak tersebut diselipkan drama yang mengisahkan keindahan dan keelokan Gunung Kelimutu dengan Danau Tiga Warna tersebut.
Ketiga danau kawah selalu mengalami perubahan warna air. Perubahan warna air kawah erat kaitannya dengan aktivitas vulkanik dan perubahannya tidak mempunyai pola yang jelas tergantung kegiatan magmatiknya.
Kalangan ilmuwan dan peneliti memberikan informasi bahwa kandungan kimia berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas aktivitas vulkanik dan sinar matahari adalah faktor penyebab perubahan warna air. Tercatat beberapa peneliti ketiga danau tersebut, seperti B.C.Ch.M.M. van Suchtelen (1915), Ch.C.F.M. Le Roux (1916), H. Horneman (1922), G.L.L Kemmerling (1929), O. Jaag (1938), Ch. E. Stehn (1940), M.N. van Padang (1951), G.A. de Neve (1952), N.I. Adnawidjaja (1958), J. Matahelumual (1960), E. Abdul Patah Amidjad (1961), dan K. Kusumadinata.
Peneliti-peneliti tersebut yang mencatat adanya perubahan warna air yang terjadi pada ketiga danau kawah yang terdapat di Gunung Kelimutu. Di Kelimutu Documentary Board terpampang beberapa kronologis perubahan warna yang pernah terjadi pada ketiga danau tersebut. Jadi, jangan heran bila antara kunjungan Anda dengan temen Anda di lain waktu akan menghasilkan gambar foto yang menunjukkan perbedaan warna airnya. *** [250915]

Kepustakaan:
Kelimutu Documentary Board
www.tnkelimutu.com

0 komentar:

Posting Komentar