Rabu, 16 Desember 2015

Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Katedral Ende

Nasib baik menghampiri saya. Tepat di depan penginapan, banyak hilir mudik angkot. Hal ini membantu saya dalam mewujudkan hasrat heritage tourism di Kota Ende. Kali ini saya mengunjungi sebuah gereja lawas dengan gaya arsitektur yang menawan. Gereja tersebut adalah Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Katedral Ende, atau bisa disebut dengan Gereja Katedral Ende saja. Gereja ini terletak di Jalan Katedral No. 5 Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi gereja ini sebelah timur Kantor Pos Ende, atau di sebelah utara KUD Baranuri.
Ide pendirian gereja ini datang dari Uskup Mgr. Verstraelen, sebagai tempat ibadah umat Katolik, dan sekaligus sebagai gereja Katedral Keuskupan Sunda Kecil. Peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan dengan upacara yang dipimpin oleh Uskup Mgr. Arnold Verstraelen, SVD pada 18 Mei 1930. Persiapan pembangunan gereja dipercayakan kepada Pastor Paroki, Pater Huijlink. Proses pembangunan gereja ini memakan waktu sekitar dua tahun, dengan ditandai dengan pentasbihan oleh Uskup Mgr. Arnold Verstraelen pada 7 Februari 1932.


Pemilihan lokasi gereja Katedral ini didasari atas pertimbangan bahwa lokasi gereja tersebut yang berdekatan dengan Biara Santo Yosef, dan menjadi satu kawasan dengan kompleks Misi Ende (sekarang menjadi Keuskupan Agung Ende). Pada waktu pendirian gereja ini, Ende belumlah menjadi sebuah kabupaten dan belum menjadi Keuskupan Agung Ende (Archidioecesis Endehenus) seperti saat ini. Karena Kabupaten Ende sendiri baru terbentuk pada tahu 1958, dan Keuskupan Agung Ende pada tahun 1961. Gereja Katolik ini memang lahir karena kegigihan para misionaris Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah.
Gereja ini memiliki pelataran yang cukup luas, sehingga ketika memasuki halaman gereja ini sudah tampak bangunan gereja yang menjulang, Dilihat dari fasade bangunan gereja, terlihat bahwa bangunan gereja ini menggunakan gaya arsitektur Neo-Gothic yang telah disesuaikan dengan arsitektur tradisional suku Ende, terutama bentuk atapnya.
Gereja ini mempunyai satu menara di sebelah kanannya yang di atasnya dipasang sebuah salib, dan pada dinding menara terdapat jam sebagai penanda waktu. Sedangkan, di bagian kiri depan gereja ada patung Kristus yang lumayan besar yang seolah-olah menyambut setiap jemaat yang akan bersembahyang di dalam gereja tersebut. Patung Kristus tersebut berdiri di atas bola dunia, dan di bawah bola dunia terdapat tulisan Christus Rex Mundi (Kristus Raja Dunia).
Tepat di atas pintu utama gereja terdapat tulisan Christo Regi (Kristus Raja), dan di atas tulisan adalah kaca yang dibingkai lima pilar yang berbentuk lengkungan. Fungsinya adalah pencahayaan, yaitu untuk menyerap sinar mentari agar bisa masuk ke dalam ruang utama gereja.
Berdasarkan laman kebudayaan.kemendibud.go.id, Gereja Katedral ini tercatat sebagai salah satu inventaris warisan budaya di Kabupaten Ende. BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Gianyar telah melakukan upaya pelestarian terhadap warisan atau cagar budaya di Kabupaten Ende, antara lain yaitu penempatan juru pelihara, pemetaan serta dokumentasi terhadap Gereja Katedral. *** [250915]



0 komentar:

Posting Komentar