Rabu, 07 Oktober 2015

Kantor Pos Besar Yogyakarta

Penjajahan Belanda membawa pengaruh pada aspek kehidupan masyarakat Indonesia, baik aspek ekonomi, religi, seni dan filsafat, maupun arsitektur dan interior bangunan yang berkembang pada saat itu. Masa kolonial Belanda telah memberi pengaruh positif dalam perkembangan arsitektur kota. Jejak-jejak arsitektur kolonial turut memberi warna khas wajah kota Yogyakarta. Karakteristiknya yang kuat menjadikan arsitektur kolonial sebagai langgam yang mudah dikenal, seperti misalnya gedung Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Kantor pos ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 2 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi kantor pos ini berada di sebelah barat Gedung Bank Indonesia dan di sebelah timur BNI 46, atau tepat berada di pojok tenggara dari perempatan benteng.
Bangunan kantor pos ini dibangun pada tahun 1912 dari hasil rancangan insinyur-insinyur yang tergabung dalam Burgerlijke Openbare Werken (BOW), sebuah Departemen Pekerjaan Umum semasa pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan megah yang berdiri di sudut pertemuan antara Jalan Panembahan Senopati (dulu bernama Kampementstraat) dan Jalan Trikora (dulu dikenal dengan Kadasterstraat) ini, memiliki luas bangunan 1.121,45 m² di atas lahan seluas 6.400 m².


Bangunan ini dibangun sebagai fungsi kantor pos dari awal berdirinya hingga saat ini. Dulu namanya Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor. Kondisi bangunan ini masih terawat dengan baik. Di atas bangunan ini terlihat atap dormer selurus vertikal pintu utamanya. Dormer adalah jendela yang diletakkan pada atap bangunan. Jendela ini merupakan bagian dari ruangan di bawah atap, dibuat menjorok keluar dalam posisi tegak lurus dan sering memiliki atap tersendiri.
Selain dormer, bangunan ini juga memiliki kekhasan pada bukaan yang berada di fasadnya. Bukaan di kantor pos ini ada dua jenis,  yaitu bukaan persegi panjang dan bukaan setengah lingkaran. Namun di antara bukaan tersebut, yang dominan menonjol pada fasad adalah bukaan setengah lingkaran, jumlahnya ada enam buah. Tujuan bukaan pada kantor pos ini untuk memasukkan sinar matahari ke dalam bangunan tersebut.
Bangunan kantor pos ini menghadap ke arah utara, atau ke arah benteng Vredeburg. Denah bangunan berbentuk tapal kuda ini menerapkan konsep arsitektur transisi. Perubahan gaya arsitektur pada zaman transisi atau peralihan (antara tahun 1890 sampai tahun 1915), dari gaya arsitektur Indische Empire Style (abad 18 dan 19) menuju arsitektur Kolonial Modern (setelah tahun 1915) sering terlupakan. Mungkin karena waktunya relatif singkat.
Karya yang bisa digolongkan sebagai arsitektur transisi sekarang kebanyakan sudah dibongkar. Tapi beruntunglah Kantor Pos Besar Yogyakarta yang masih berdiri dengan kokoh. Kekokohan ini menjadi saksi akan perjalanan bangunan tersebut yang telah beberapa kali berganti nama hingga menjadi PT. Pos Indonesia (Persero) seperti sekarang ini. *** [160915]

0 komentar:

Posting Komentar