Jumat, 18 September 2015

Gedung KONI DIY

Kawasan nol kilometer Yogyakarta merupakan kawasan yang berada di seputaran perempatan benteng, mulai dari sebelah utara alun-alun sampai di Pasar Beringharjo. Kawasan nol kilometer ini tergolong sebagai pusat kota Yogyakarta. Sebagai pusat kota, kawasan nol kilometer menyimpan memori sejarah dengan deretan bangunan kuno yang terdapat di kawasan tersebut. Salah satunya adalah gedung KONI DIY.
Gedung KONI ini terletak di Jalan Trikora No. 4 Kampung Kauman RT. 38 RW. 11 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan gedung BNI 46, atau sebelah barat Kantor Pos Besar.
Dari data Potensi Budaya di Kecamatan Gondomanan Yogyakarta, diketahui bahwa bangunan gedung KONI ini didirikan pada tahun 1775 oleh masyarakat Tionghoa. Orang Tionghoa di Yogyakarta sudah mulai menetap sejak kota Yogyakarta pertama kali didirikan pada tahun 1755. Hal itu diikuti dengan adanya seorang kapten Tionghoa untuk daerah Mataram pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I bernama To In. Selain To In, ada sosok Tan Jin Sing yang menjadi kapten, penerjemah, asisten, sekaligus teman baik dari Sultan Hamengku Buwono III. Ia juga mempunyai peran penting dalam membantu Sultan Hamengku Buwono III menjadi sultan. Nama Jawanya adalah Secodingrat dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT), yang kemudian menjabat bupati dan tinggal di Ndalem Secodingratan (sekarang menjadi Bank Indonesia).
Dari sejarah orang Tionghoa di Yogyakarta, terlihat bahwa masyarakat Tionghoa mempunyai hubungan yang erat dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meskipun banyak masyarakat Tionghoa saat itu lebih berorientasi ke Barat dan Tiongkok, etnis Tionghoa di Yogyakarta tetap menghormati dan menghargai Sultan dan kraton sebagai penguasa Yogyakarta. Hubungan yang baik antara masyarakat Tionghoa dan Kesultanan Yogyakarta dapat terlihat dari bangunan klenteng yang berdiri di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta. Kesultanan Yogyakarta memberikan suatu wilayah untuk masyarakat Tionghoa bertempat tinggal dan membuka usaha serta berkumpul. Salah satunya tempat berkumpul orang-orang Tionghoa adalah gedung yang digunakan untuk kegiatan KONI ini.


Semula bangunan tersebut masih belum sebesar ini, namun seiring perjalanan waktu bangunan tersebut menjadi besar. Kemudian ketika orang-orang Tionghoa memiliki perkumpulan yang diberi nama Chung Hua Tsung Hui (CHTH) pada akhir 1945 atau setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut digunakan untuk pertunjukan kesenian sekaligus untuk koordinator kelompok atau klub kesenian Tionghoa hingga tahun 1965. Di gedung pertunjukan CHTH ini pernah berlangsung pergelaran dua lakon sekaligus. Yang satu lakon saduran Hendrik Ibsen di bawah sutradara Sunardi, dan satu lagi lakon saduran Arnold Strindberg di bawah sutradara Umar Kayam. Aktris dan aktor terkemuka dari kalangan mahasiswa ketika itu, antara lain Irawati (istri Masri Singarimbun) dan Heryani (istri Busono Wiwoho), WS Rendra dan Purbatin Hadi. Akan tetapi, sejak Umar Kayam melanjutkan studi ke Amerika Serikat untuk meraih gelar MA di New York University (1963) dan Ph.D di Cornel University, Ithaca (1965), seolah repetoar-repetoar pun turut meredup.
Pada perkembangannya, nama gedung CHTH berganti nama menjadi BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) pada tahun 1964. BAPERKI ini bertugas untuk memuluskan integrasi orang Tionghoa kepada Republik Indonesia, dan pada awalnya memang tidak terafiliasi PKI atau komunis atau kiri.
Akan tetapi, seiring menguatnya hubungan PKI dengan Partai Komunis Tiongkok maka pengaruh komunis di BAPERKI semakin kuat dan mencengkeram BAPERKI, dan hal ini sesuai dengan ideologi BAPERKI yang menolak menghilangkan kebudayaan Tiongkok dari warga negara Indonesia yang keturunan Tiongkok.
BAPERKI yang pada waktu itu kegiatannya telah berafiliasi dengan PKI, mendirikan sebuah universitan dengan nama Res Publika. Ruang kuliahnya berada di bagian belakang gedung BAPERKI, yang kala itu masih dipakai sebagai tempat latihan bulutangkis oleh perkumpulan Chung Hua Tsing Nien Hui atau sering disebut dengan Tsing Nien Hui (TNH) saja. Suatu ketika terjadi perselisihan antara pihak universitas dengan organisasi TNH yang membawahi olahraga bulutangkis tersebut. Berlarut-larutnya perselisihan ini, akhirnya tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sehingga, TNH melaporkan masalah tersebut kepada aparat yang berwenang, di mana pada waktu itu ditangani dan diselesaikan oleh Corps Polisi Militer (CPM) di bawah komando Kolonel Mas Subagio. Akhirnya, ruangan yang dipakai Universitas Res Publika dikembalikan kepada TNH untuk dapat digunakan berlatih bulutangkis kembali, dan kemudian diperluas dengan angkat besi, tenis meja, judo dan billiard.
Pada waktu meletus peristiwa G30S/PKI, gedung BAPERKI ini sempat direbut dan dikuasai oleh ormas komunis. Kemudian aparat militer merebutnya dengan melakukan kontak sejata. Setelah berhasil dikuasai oleh aparat militer, gedung BAPERKI tersebut tidak diperbolehkan digunakan untuk kegiatan apapun termasuk kegiatan olahraga. Sejak saat itu, gedung BAPERKI dikuasai oleh TNI dari Batalyon 403 di bawah komando Kapten Gideon.
Lalu, gedung BAPERKI ini digunakan sebagai kantor Kesra Kodya Yogyakarta, dan sejak tahun 1978 gedung ini digunakan sebagai gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau biasa disingkat menjadi gedung KONI DIY.
Gedung yang memiliki luas bangunan 1.000 m² di atas lahan 1.000 m² ini memiliki denah segi empat dengan atap limasan. Pada bagian depan terdapat berada dengan tiang besi, sedangkan di bagian belakang masih terdapat ruang pertunjukkan untuk kesenian.
Terbersit berita bahwa setelah gedung baru KONI yang berada di bagian timur GOR Amongrogo nanti ditempati, rencananya gedung lama KONI DIY yang telah berusia ratusan tahun lebih akan dialihfungsikan menjadi Museum Olahraga DIY. *** [061012]

Kepustakaan:
http://databudaya.net/index.php/databudaya/databudayaatribut/cabud/id/1937
https://groups.yahoo.com/neo/groups/umarkayam/conversations/messages/32
http://m.kompasiana.com/setiawan_78/lekra-gerwani-BAPERKI-pki_552fd1206ea83460418b4638
http://tnh-judo.blogspot.co.id/2008/12/profil-klub-tnh.html
http://www.kompasiana.com/inunknastiti/harmoni-kehidupan-cina-di-kota-gudeg_550e6c6d813311b82cbc6293
http://www.kompasiana.com/ismawatiretno/sepuluh-pusaka-heritage-di-yogyakarta-nol-kilometer_54ffaff1a33311894c510e3b

0 komentar:

Posting Komentar