Kamis, 29 Oktober 2015

Bruderan FIC Yogyakarta

Pada waktu tumbuh dan berkembangnya perkebunan tebu semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), berbagai jenis pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan dan pendidikan juga turut bermunculan. Pada waktu itu, komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat.
Seiring dengan perkembangan komunitas Belanda di Yogyakarta, Pemerintah Hindia Belanda juga mulai membangun fasilitas-fasilitas pendukung yang diperlukan oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Yogyakarta. Salah satu fasilitas pendukung bagi pendidikan dan keagamaan, dibangunlah Bruderan FIC di kawasan nol kilometer Yogyakarta.
Bruderan ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 18 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi Bruderan ini berada di sebelah timur Kantor Bank Indonesia Yogyakarta, atau di sebelah selatan benteng Vredeburg.
Y. Indarti N, Tri Hartini dan Sri Suharini dalam tulisannya yang berjudul Kilas Sejarah Bruderan FIC Yogyakarta (Buletin Narasimha No. 07/VII/2014) mengulas mengenai keberadaan Bruderan FIC di Yogyakarta, sebagai berikut:
Kegiatan pewartaan agama Katolik bagi orang-orang Jawa berlangsung pada periode 1914-1940. Perkembangan karya misi tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran para misionaris Serikat Jesus atau yang sering dikenal dengan ordo Jesuit. Dalam melakukan pengembangan misi di antara orang-orang Jawa, sejak awal telah disadari oleh para misionaris Jesuit bahwa sekolah dapat dijadikan salah satu sandaran dan sekaligus sebagai bentuk karya sosial yang nyata dalam pengembangan misi tersebut. Kebutuhan baru masyarakat untuk memperoleh pengajaran modern dapat dikatakan mempunyai kesesuaian dengan fungsi strategis sekolah bagi proses pewartaan agama Katolik. Dengan demikian sekolah harus dikelola secara baik dan sedapat mungkin terus ditambah jumlahnya.


Dalam rangka pengembangan sekolah tersebut, maka misionaris Jesuit sangat mengharapkan peran aktif para Bruder biarawan. Mereka dianggap memiliki pengalaman dan ketekunan yang tinggi serta perhatian dan dasar-dasar kerohanian yang kuat. Para Bruder tersebut dinilai tidak hanya akan dapat memberikan ilmu pengetahuan tetapi juga sendi-sendi keagamaan kepada peserta didik dan guru-guru pendidiknya melalui interaksi sosial dan keteladanan hidup setiap hari.
Keinginan ordo Jesuit untuk melibatkan para Bruder dalam mengelola sekolah misi juga terwujud di Yogyakarta. Kedatangan mereka di Hindia Belanda sebenarnya telah lama dinantikan oleh misionaris Jesuit. Permohonan bantuan tenaga secara resmi diajukan pertama kali oleh pemimpin misi Jesuit, yaitu P.J. van Santen. Pada tahun 1919 permintaan tersebut diulangi kembali oleh P.J. Hoeberechts. Setelah disanggupi, maka pada tahun 1920 lima orang Bruder FIC yang pertama berangkat ke Hindia Belanda dengan tujuan Yogyakarta.
Perlu diketahui bahwa Kongregasi Bruder FIC dalam bahasa Latin disebut dengan Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis, dalam bahasa Inggris disebut dengan Congregation of the Brothers of the Immaculate Conception of the Blessed Virgin Mary. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda (FIC). Kongregasi tersebut didirikan oleh Pastor Ludovicus Rutten pada tanggal 21 November 1840 di Kota Maastricht, Belanda. Pada tanggal 28 Desember 1919, ketika dirayakan pesta berdirinya 75 tahun kongregasi, ada pengumuman dari Dewan Umum bahwa pada tahun 1920 akan dibuka Bruderan FIC di Yogyakarta. Hal ini bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah sehingga dapat mendukung karya misi Katolik di Kota Yogyakarta. Dari 113 Bruder yang mendaftarkan diri ke Dewan Umum untuk menjadi misionaris di Jawa, akhirnya pada pesta Paskah pada tahun 1920 Dewan Umum mengumumkan bahwa akan ada 5 Bruder yang ditulis menjadi misionaris, yakni Br. August, Br. Lebuinus, Br. Eufrasius, Br. Contantius, dan Br. Ivo.
Pada hari Minggu tanggal 8 Agustus 1920, sesudah misa agung di Biara Induk De Beyart di Maastricht, Br. August dilantik sebagai pemimpin Komunitas FIC St. Fransiskus Xaverius di Yogyakarta. Pada tanggal 14 Agustus para misionaris pertama yaitu Br. August, r. Constantius, Br. Lebuinus, Br. Eufratius, dan Br. Ivo berangkat ke Jawa naik kapal Wilis dari pelabuhan Rotterdam menuju Batavia. Dan pada tanggal 19 September 1920 mereka sampai di Tanjung Priok. Pada waktu itu Pastor van Lith sendiri yang hadir di pelabuhan untuk mengucapkan “Selamat Datang”. Hal ini merupakan suatu peristiwa yang mengandung makna bahwa betapa pentingnya kedatangan mereka. Di Batavia mereka menginap semalam di Gereja Katedral. Pada tanggal 20 September 1920, mereka melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah melewati Cirebon, Purwokerto, Kroya, Kebumen hingga sampai di Yogyakarta. Di Stasiun Tugu mereka dijemput oleh Superior Misi, Pastor Hoeberechts. Sesudah disambut di Pastoran Kampementstraat (pastoran Kidul Loji sekarang) dan bertemu dengan Pastor Henri van Driesche. Para Bruder baru tersebut mendapat rumah sangat dekat dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berbatasan dengan alun-alun, tepatnya di Kampementstraat atau sekarang Jalan Panembahan Senopati No. 18 Yogyakarta. Sejak itu, tanggal 20 September dikenang dan diperingati sebagai tanggal hadirnya para Bruder FIC di Indonesia.
Dewan Pusat di Maastricht menyatakan bahwa para Bruder yang diutus akan bekerja untuk anak-anak pribumi di Hindia Belanda, dalam hal ini anak-anak Jawa. Dengan demikian HIS (Hollandsch-Inlandsche School) adalah satu-satunya tipe sekolah yang dapat menerima para Bruder. Pada tahun 1920 dua buah HIS Putera di Yogyakarta diambil alih pengelolaannya oleh para Bruder FIC asal Maastricht, Belanda. Perlu diingat bahwa para Bruder FIC selain mengelola HIS Putera di Yogyakarta, sebagian dari mereka juga mengelola HIS Putera di Muntilan. Kongregasi biarawan dari Maastricht ini memang sangat akrab dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Di Belanda pada tahun 1920-an mereka mengelola lebih dari 50 sekolah. Pada tanggal 7 Juli 1921 komunitas Yogyakarta diperkuat lagi dengan kedatangan Br. Laurentius dan Br. Marcellianus.
Peran para Bruder dalam proses pewartaan Katolik menjadi lebih luas ketika pada tahun 1922 dipercaya untuk mengelola percetakan/penerbitan Kanisius yang hingga saat ini memiliki sumbangan besar bagi gereja dan masyarakat Indonesia. Para Bruder secara nyata berperan dalam menebarkan pengaruh dan ikut membentuk wacana-wacana baru melalui buku-buku yang diterbitkan. Dapat dikatakan bahwa buku memiliki fungsi strategis untuk mengatasi keterbatasan komunikasi lisan. Mengingat penerbit Kanisius merupakan bagian integral dari perangkat pengembangan misi, maka arah kebijakan perbukuannya juga tidak akan menyimpang dari kerangka pewartaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedatangan para Bruder baru tersebut di Yogyakarata sangat bermanfaat bagi kegiatan misi. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun sejak kedatangan rombongan pertama, Kongregasi Bruder FIC telah dapat mengelola suatu divisi baru tanpa harus mengabaikan sektor pengajaran yang dipercayakan kepadanya. Kongregasi Bruder FIC melalui percetakan Kanisius selain berperang dalam pengadaan buku juga ikut menciptakan lapangan pekerjaan bagi sejumlah umat Katolik di Yogyakarta.


Perlu diketahui bahwa misionaris Jesuit mendirikan “Perkumpulan Kanisius” yang kemudian hari berubah namanya menjadi “Yayasan Kanisius” yang mengelola sekolah-sekolah Katolik di Yogyakarta. Para Bruder menjadi guru di bawah Kanisius sebagai pengurus sekolah, baik sekolah Eropa maupun Jawa. Segala gaji masuk kas Kanisius sehingga Kanisiuslah yang membayar 100 gulden sebulan kepada Bruder-Bruder yang tak termasuk subsidi. Pada tahun 1922 Perkumpulan Kanisius membangun gedung HIS dan Bruderan (rumah Bruder). Gedung sekolah HIS tersebut bertingkat 2 dengan 18 ruang kelas. Pada tanggal 13 Januari 1923 gedung sekolah tersebut diberkati. Setelah pembangunan sekolah tersebut selesai, kemudian direncanakan untuk mulai membangun gedung Bruderan yang baru. Pada waktu arsitek J. Th. van Oyen sudah membuat perhitungan untuk pembangunan gedung Bruderan tersebut, tetapi karena biayanya dianggap terlalu tinggi sehingga tidak dapat diterima.
Pada tanggal 1 Maret 1923 dua rumah tentara diserahkan kepada pihak misi. Pada waktu itu, kongregasi membayar 52.000 gulden. Pembongkaran rumah tersebut dimulai pada tanggal 24 Maret 1923. Perkumpulan Kanisius yang melakukan penandatangan kontrak pembangunan gedung Bruderan seperti pada pembangunan sekolah yang telah dilakukan terlebih dahulu. Dalam buku Donum Desursum diuraikan bahwa setelah rumah militer tersebut dibongkar, maka para Bruder dapat melihat Kampementstraat dan Benteng Vredeburg dari jendela rumah mereka. Pada tahap pertama pembangunan gedung baru Bruderan meliputi kamar tamu, kapel dan beberapa tempat tidur. Pembangunan tahap pertama selesai pada bulan Oktober 1923 sehingga komunitas Bruder tersebut dapat segera pindah tempat. Pada tanggal 7 Desember 1923 Sakramen Mahakudus dilaksanakan di kapel baru dan hari berikutnya dilaksanakan Misa Agung pertama.
Selanjutnya dilakukan pembangunan gedung Bruderan tahap kedua yang terdiri atas ruang rekreasi, ruang makan, dapur dankamar tidur. Pada Maret 1924 Bruderan baru tersebut diberkati oleh Pastor Frans Strater. Akhirnya para Bruder dapat menempati perumahan yang lebih sesuai dan sekarang dikenal dengan Bruderan FIC Fransiskus Xaverius.
Para Bruder misionaris, selain berkarya di sekolah, juga berusaha menarik panggilan para pemuda pribumi ke Kongregasi FIC. Dua tahun sesudah kedatangan mereka di Yogyakarta, ada dua calon Bruder FIC pribumi dan keduanya menerima pendidikan sebagai Bruder FIC di Belanda. Pada tahun 1924, kedua calon Bruder FIC pribumi yaitu Br. Aloysius Sugiardjo dan Br. Jacobus Hendrowarsito mengikrarkan kaul pertama di Maastricht. Calon-calon berikutnya juga mengalami pendidikan sebagai calon Bruder FIC di Belanda.
Sejak tanggal 1 Agustus 1936 dimulailah pendidikan calon Bruder di Jawa dan sampai hari ini pendidikan tersebut berjalan terus. Dengan berkembangnya jumlah Bruder FIC pribumi, maka berkembang pula jumlah komunitas dan karya yang ditangani. Para Bruder tetap berusaha melanjutkan dan membangun pondasi Kongregasi yang telah dibangun Pastor Rutten dan Br. Bernardus beserta para misionaris yang datang ke Hindia Belanda. Dapat dikatakan bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1920, yaitu tahun berdirinya misi FIC di Hindia Belanda dan bulan Desember 1941 ketika pecah Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik, karya para Bruder  berkembang dengan lancar. Dari Belanda secara teratur ada Bruder-Bruder baru diutus ke Jawa untuk mengajar di sekolah-sekolah dasar maupun menengah yang makin bertambah jumlahnya.
Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang. Dalam masa penjajahan Jepang, kehidupan rakyat semakin sulit. Pada tanggal 12 April 1942 Bruderan Yogyakarta disita oleh tentara Jepang. Bruderan kemudian dipakai untuk Kempetai. Hampir semua Bruder Belanda diinternir oleh Jepang. Mereka yang diinternir dibawa ke kamp-kamp yang kehidupannya begitu menyedihkan. Makanan amat kurang dan fasilitas hidup pun jauh dari layak. Dengan kata lain, kehidupan para Bruder begitu menyedihkan. Untunglah pada waktu itu, FIC telah melahirkan para Bruder pribumi. Mereka adalah Br. Aloysius Soegihardjo, Br. Timotheus Wignjosoebroto, Br. Petrus Claver Atmosoejitno, Br. Mario Hardabudja, dan Johanes de Deo Wangsadimedja. Para Bruder pribumi inilah yang menjadi “penyelamat” kehidupan para Bruder dan kelangsungan FIC di Hindia Belanda. Dari luar kamp, para Bruder sedapat mungkin meringankan beban hidup para Bruder yang diinternir.
Sekolah-sekolah misi yang menggunakan bahasa Belanda juga ditutup dan dibubarkan. Dengan demikian sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) juga dibubarkan karena Sekolah Menengah Katolik pada waktu itu tidak diperbolehkan. Untuk itu, para Bruder pribumi yang tidak diinternir kemudian menempati asrama bekas MULO tersebut. Pada waktu itu tinggal 2 orang Bruder yang tinggal di bekas asrama bekas MULO. Asrama tersebut penuh dengan perabot rumah milik Bruderan.
Asrama para Bruder sangat dekat dengan Kempetai sehingga selalu ada kemungkinan salah seorang anggota Kempetai mengunjungi tempat mereka. Pada tahun 1943 asrama para Bruder tersebut mendapat pemeriksaan dari Kempetai. Pada waktu itu para Kempetai yang melakukan pemeriksaan heran melihat asrama penuh dengan perabot rumah dan sebagainya. Br. Mario yang tinggal di asrama tersebut menjelaskan bahwa semua itu milik Gereja Katolik. Perundingan dengan anggota Kempetai tersebut menggunakan bahasa Jepang. Pemeriksaan berlangsung dengan baik, dan ketika akan meninggalkan asrama para anggota Kempetai memeriksa harmonium yang ditempatkan di dekat pintu. Harmonium tersebut model Perancis, bentuknya mirip dengan lemari. Pada waktu anggota Kempetai bertanya apakah itu radio, Br. Mario menjelaskan bahwa itu bukan radio tetapi alat untuk mengiringi perayaan ibadat. Kemudian para Kempetai tersebut mendengarkan lagu Katolik. Lagu tersebut rupanya berkenan di hati dan telinga anggota Kempetai tersebut. Ketika para anggota Kempetai hendak pulang mereka berpesan: “Apabila para Bruder pernah mengalami gangguan, katakan saja kepada kami”. Sesudah itu tidak ada anggota Kempetai yang berkunjung ke asrama tersebut.
Pada tahun 1945, para Bruder mulai merasakan bahwa tentara Nippon mulai lunak dalam tindakannya. Mereka sering melihat orang Jepang dalam pakaian preman atau sipil. Pada tanggal 5 Juli 1945 Pastor Paroki Bintaran yaitu Romo Martowerdaya memberitahukan bahwa Kempetai akan meninggalkan Bruderan di Kidul Loji. Pada waktu itu Br. Mario tinggal sendirian karena Br. Petrus Claver pindah ke Bara menjabat Superior Misi sekaligus pemimpin Novis di Bara. Br. Mario berhasil memperoleh surat keterangan rangkap dua di atas meterai yang menyatakan bahwa rumah atau Bruderan tersebut akan dikembalikan kepada pemilik yang sah. Br. Mario menerima semua kunci Bruderan, sehingga ia segera dapat memulai membersihkan gedung serta mengatur penjaganya. Pada waktu itu para guru belum berani untuk membantu membersihkan gedung Bruderan. Br. Mario dengan dibantu para murid dan pemuda mulai membersihkan Bruderan. Para pemuda tersebut sibuk mencari senjata dengan cara memeriksa semua kamar Bruderan, membuka semua lemari dan laci. Akan tetapi mereka tidak menemukan revolver maupun granat tangan. Selain itu mereka juga menggali lubang di sebelah selatan kapel, tetapi juga tidak menemukan senjata maupun granat.
Berkat pertolongan para murid dan pemuda, maka tugas tersebut dapat terlaksana. Ruangan Bruderan dapat ditempati kembali dan Br. Mario kemudian menempati memilih kamar yang dekat pintu masuk, sedangkan beberapa murid tidur dalam kamar-kamar lain. Pada tanggala 13 September Br. Leonardo datang ke Yogyakarta. Kedatangan Br. Leonardo tersebut membantu Br. Mario mempersiapkan gedung Bruderan menerima para Bruder yang akan datang dari Jawa Barat, Bandung dan Cimahi. Selepas masa internir para Bruder kembali mengolah kehidupan dan karya-karya yang hancur kembali ditata.
Sesudah tahun 1950 ketergantungan pemimpin FIC di Indonesia pada Kongregasi di Belanda semakin berkurang. Kongregasi FIC di jawa semakin mandiri, meskipun bantuan keuangan dari Belanda masih tetap diharapkan dan dibutuhkan. Dengan adanya pasang surut situasi politik dan ekonomi di Indonesia ikut mempengaruhi keadaan para Bruder. Hubungan dengan Belanda dapat dikatakan semakin longgar atau bahkan putus sama sekali, pada waktu Pemerintah Indonesia melarang kontak apapun dengan Belanda. Dengan kata lain, misi di Jawa harus mandiri, yaitu bertindak sendiri dan mengambil keputusan sendiri.
Dalam perkembangan hingga sekarang, jenis karya Kongregasi FIC di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta pada khususnya tidak banyak berubah. Pengajaran dan pendidikan tetap merupakan karya utama. Karya pelayanan bidang pendidikan Kongregasi FIC berada di bawah naungan Yayasan Pangudi Luhur (YPL) yang berpusat di Semarang. Yayasan itu mengurus lembaga pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA. Beberapa Bruder yang saat sekarang tinggal di Bruderan FIC adalah Br. Herman Yoseph, Br. Valentinus Naryo, Br. FX. Teguh Supono, Br. Christoforus Sangsung, Br. Wensilaus Parut, dan Br. Andreas Purwanto.
Bangunan Bruderan FIC berbatasan dengan SMA Pangudi Luhur di sebelah barat, Kantor Pelayanan Pajak Pratama di sebelah timur, Jalan Panembahan Senopati di sebelah utara, dan pemukiman penduduk di sebelah selatan. Bangunan ini menghadap ke utara dan di depannya terdapat halaman yang dibatasi dengan pagar besi.
Bangunan bernah O, dan terdiri dari 5 bangunan yaitu bangunan depan, bangunan sayap barat, bangunan sayap timur, bangunan belakang, dan kapel. Ketinggian dinding dari kelima bangunan yang terbuat dari bata berplester setebal 30 cm, dan dicat warna putih krem. Permukaan dinding bawah diberi tatanan batu andesit setinggi 65 cm yang dicat warna hitam pada batunya, dan di sela batu dicat warna putih, kemudian di atasnya terdapat list setinggi 15 cm. Lantai bangunan dari tegel warna abu-abu ukuran 20 cm x 20 cm dengan pelisir tegel warna merah dengan ukuran sama. *** [160815]

0 komentar:

Posting Komentar