Jumat, 13 November 2015

Gedung DPRD DIY

Koridor Jalan Malioboro menjadi salah satu simbol bagi Kota Yogyakarta dan mempunyai fungsi bangunan bersejarah yang ada di kota tersebut. Meskipun dari dulu hingga kini Koridor Jalan Malioboro tetap menjadi kawasan perdagangan (komersial), namun masih menyisakan sejumlah bangunan kuno. Karena fungsi bangunan bersejarah bisa menjadi penanda sebuah perjalanan bagi daerah tersebut. Salah satunya adalah Gedung DPRD DIY.
Gedung DPRD ini terletak di Jalan Malioboro No. 54 Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara Maliboro Mall, atau selatan Dinas Pariwisata DIY.
Dulu, bangunan gedung DPRD DIY ini bernama Loge Mataram. Nama resminya dalam bahasa Belanda adalah Loge Mataram te Djokjakarta, Nederlands Oost-Indië. Didirikan pada tahun 1870 bersamaan dengan semakin bertambahnya jumlah orang Belanda maupun Eropa lainnya yang berada di Yogyakarta. Pada umumnya mereka menetap di Yogyakarta karena berhubungan dengan pesatnya perekonomian Yogyakarta dengan hadirnya 17 pabrik gula. Perkembangan industri gula ini menyebabkan infrakstruktur tumbuh pesat, seperti rel kereta api dan jalan raya yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan kawasan penghasil gula. Tidak hanya itu saja, orang-orang Belanda maupun Eropa lainnya juga menanamkan investasinya di sejumlah perkebunan tebu untuk memasok pabrik gula yang lumayan banyak itu.


Loge (orang Jawa menyebutnya Loji) bermakna rumah atau gedung yang besar, sedangkan Mataram diilhami para pendiri loge yang sadar akan kebesaran Jawa. Jadi, pilihan nama Loge Mataram ini didasarkan pada keberadaan tempat loge yang dibangun tersebut, yaitu di pusat kerajaan pewaris trah Mataram.
Dahulu, Loge Mataram ini merupakan pusat teosofi dan gerakan Freemansonry. Freemansonry atau dalam bahasa Belanda disebut Vrijmetselarij,  merupakan Tarekat Mason Bebas yang sempat berkembang di Hindia Belanda. Tarekat ini mengumumkan diri sebagai sebuah organisasi persaudaraan internasional.
Paham Mason mulai masuk ke wilayah Yogyakarta ditandai dengan pendirian Loge Mataram di Yogyakarta pada tahun 1870 atas prakarsa tiga puluh orang anggota Mason. Di antaranya terdapat nama-nama seperti Weijnschenk, Raaff, Soesman, dan Monod de Froindeville. Mereka adalah orang-orang Indo-Eropa yang kaya, yang pada awal abad 19 membeli tanah-tanah yang luas dari Sultan dan berhasil mengembangkannya.
Dalam perjalanannya, Loge Mataram dikenal juga dengan sebutan Loji Setan. Dinamakan demikian karena dalam setiap pertemuan Tarekat Mason Bebas tersebut, para anggotanya sering melakukan aktivitas ritual memanggil arwah-arwah atau roh-roh. Sehingga, loji tersebut kelihatan angker dan seram.
Pada masa jayanya Tarekat Kaum Mason Bebas di bawah Timur Agung Nederland di Hindia Belanda mempunyai sekitar 1.500 anggota, terbagi dalam 25 bentara. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai Kantor Agraria. Kemudian, pada waktu Yogyakarta menjadi ibu kota Negara Republik Indonesia pada tahun 1946, gedung ini digunakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY) hingga sekarang.
Pada masa Agresi Belanda yang ingin merebut kembali Hindia Belanda setelah Indonesia sudah merdeka, mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Setiap kehadiran orang Belanda di Indonesia yang sudah merdeka pada waktu itu mendapat tekanan, sehingga hal ini menyebabkan anggota Freemansonry dengan cepat merosot. Semua kegiatan Tarekat Mason Bebas pun akhirnya berakhir pada Februari 1961 lewat Lembaran Negara Nomor 18 Tahun 1961 di mana Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemansonry di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.
Karena pada waktu disita, gedung tersebut digunakan sebagai DPRD DIY maka fungsi gedung tersebut tetap dipertahankan hingga kini menjadi gedung DPRD DIY, dan masih bisa disaksikan kemegahan gedungnya yang memiliki gaya arsitektur Indische Empire Style. Gedung ini mempunyai kemiripan dengan gedung Freemasonry yang ada di Jakarta, yang sekarang menjadi Gedung Kimia Farma Jakarta.

Kepustakaan:
Dr. Th. Stevens, 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
http://www.academia.edu/12786053/Golongan_Kemasonan_Sekolah_Netral_dan_Masyarakat_Yogyakarta
http://www.tasteofjogja.org/contentdetil.php?kat=artk&id=OTM=&fle=Y29udGVudC5waHA=&lback=a2F0PWFydGsmYXJ0a2thdD0xNyZsYmFjaz0=&page=2

0 komentar:

Posting Komentar