Selasa, 10 November 2015

Pasar Beringharjo Yogyakarta

Pasar sebagai pusat kegiatan perekonomian daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari struktur bangunan pasar, kondisi fisik pasar, fasilitas, barang yang diperjual belikan, harga yang diperjual belikan, dan intensitas kunjungan para pembeli, selain itu latar belakang historis suatu pasar juga akan mempengaruhi karakteristik suatu pasar. Sebagai contohnya adalah Pasar Beringharjo.
Pasar ini terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 16 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi pasar ini berada di sebelah utara benteng Vredeburg.
Menurut sejarahnya, keberadaan Pasar Beringharjo tidak lepas dari eksistensi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selang dua tahun kratonnya dibangun, Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) I mulai menata nagari atau ibu kota dari Kesultanan Yogyakarta dengan menggunakan sumbu imajiner utara-selatan yang berkorelasi dengan Kraton sebagai poros utamanya ke Tugu Pal Putih di sebelah utara dan Panggung Krapyak di sebelah selatan. Konsep filosofis ini kemudian diwujudkan dalam bentuk jalan yang membentang dan membelah kawasan Malioboro tersebut. Semula kawasan ini masih berupa daerah berlumpur yang banyak ditumbuhi pepohonan beringin (Ficus benjamina). Seiring itu pula, Sultan HB I membangun sarana perdagangan melalui pasar tradisional berupa deretan lapak-lapak saja. Wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh rakyat Ngayogyakarta dan sekitarnya.


Bermula dari deretan lapak-lapak, pasar tersebut kemudian berkembang bersamaan dengan semakin ramainya ibu kota Kesultanan Yogyakarta. Pada waktu Pemerintah Hindia Belanda mulai mengembangkan pemukiman orang Belanda beserta fasilitas publik lainnya di sekitar kawasan pasar tersebut, yang diikuti pula oleh orang-orang Tionghoa, Sultan HB I menangkap situasi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan pasar yang masih sederhana tapi luas dan ramai itu. Pada tanggal 24 Maret 1925, Sultan HB I memberikan proyek pembangunan los-los pasar kepada Perusahaan Beton Hindia Belanda atau Nederlandsch Indisch Beton Maatschappij. Pada akhir Agustus 1925, 11 kios telah terselesaikan, dan kemudian yang lainnya menyusul secara berrtahap. Pada akhir Maret 1926, pembangunan pasar bergaya arsitektur Art Deco selesai dan mulai dipergunakan  sebulan setelah itu.
Sebelum bernama Pasar Beringharjo, pasar ini lebih dulu populer atau dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dengan nama Pasar Gedhe. Nama Pasar Gedhe diberikan karena pasar itu merupakan satu-satunya yang terbesar di seputar Kota Yogyakarta pada waktu itu, serta satu-satunya pula yang terdapat di kawasan jalan utama yang membentang dari depan Kraton sampai Tugu Pal Putih. Pada masa kolonial Belanda, Pasar Gedhe ini pernah mendapatkan julukan sebagai Passer Op van Java, yang mempunyai arti pasar terindah di Pulau Jawa.
Nama Beringharjo diberikan dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Kata “beringharjo” berasal dari gabungan dua kata dari bahasa Jawa, yaitu bering dan harjo. Bering berarti pohon beringin, dan harjo mempunyai arti kebesaran. Dengan demikian, Pasar Beringharjo dapat diartikan sebagai tempat yang diharapkan mampu memberikan pengayoman bagi masyarakat Yogyakarta, seperti layaknya pohon beringin yang dapat menjadi peneduh dari sengatan matahari dan terpaan air hujan, yang di kemudian hari diharapkan dapat memberikan kesejahteraan.
Pasar ini merupakan bagian dari proses kelahiran Kerajaan Islam yang ada di Pulau Jawa, yaitu sebagai perwujudan konsep pembangunan Catur Tunggal yang bertujuan untuk menggenapi keberadaan kraton sebagai pusat kerajaan. Konsep Catur Tunggal ini meliputi bangunan kraton, alun-alun, masjid dan pasar.
Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam barang dagangan dan fasilitas. Barang dagangan yang tersedia mulai dari hasil bahan pangan, kerajinan tangan hingga berbagai macam pengolahan kain batik.
Pasar Beringharjo ini terdiri dari dua bagian bangunan pasar, yaitu Beringharjo barat dan Beringharjo timur. Beringharjo barat merupakan bangunan tiga lantai yang pada umumnya didominasi oleh produk garmen dengan segala aksesoris penunjangnya. Sedangkan, Beringharjo timur juga terdiri dari tiga lantai yang pada umumnya menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, daging sapi, daging ayam, krupuk, emping, dan aneka jajan pasar lainnya. Selain itu, di Beringharjo timur ini juga terdapat penjual tas maupun sepatu namun merupakan produk yang berkualitas sedang, dan bisa ditawar-tawar.
Pengelolaan dan pengembangan Pasar Beringharjo diarahkan ke dalam visi yang diemban oleh  Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta, yaitu “Terwujudnya pasar tradisional dengan pengelolaan modern sebagai pusat perkembangan perekonomian, wisata dan edukasi.” Hal ini bisa dimengerti mengingat daya tarik yang paling signifikan dari Pasar Beringharjo adalah nilai historis dan lokasinya yang sangat strategis. Lokasinya yang berada di kawasan Malioboro dengan diapit oleh beberapa tempat wisata populer di Yogyakarta, seperti Benteng Vredeburg dan Taman Pintar inilah yang membuat tingkat kunjungan konsumen ke pasar sangat tinggi. *** [160815]

0 komentar:

Posting Komentar