Jumat, 30 Oktober 2015

Vihara Buddha Prabha Yogyakarta

Kesempatan melihat sebuah klenteng di Kota Yogyakarta, berlangsung pada waktu penulis selesai melakukan pertemuan dengan salah seorang Dosen Psikologi dari UI di Prawirotaman (16/08). Pulangnya dari Prawirotaman, penulis sengaja melakukan jalan kaki menuju Stasiun Yogyakarta karena memang berkeinginan menjajal backpacker dalam rute tersebut. Salah satu bangunan kuno yang dijumpai adalah sebuah klenteng tua yang memiliki arsitektur khas Tiongkok. Klenteng tersebut dikenal dengan nama Vihara Buddha Prabha.
Vihara ini terletak di Jalan Brigjend Katamso No. 3 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi vihara ini berada di sebelah timur Kompleks Sekolah Marsudirini, atau tepatnya berada di selatan perempatan lampu merah Gondomanan.
Menurut catatan yang disimpan oleh pengelola klenteng, Vihara Buddha Prabha ini mulai dibangun pada tanggal 15 Agustus 1900 dan selesai pada tahun 1907 atas usaha seorang mantan Mayor Tionghoa bernama Yap Ping Liem, di atas tanah hibah yang diberikan pada tahun 1845 oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V yang memerintah untuk kedua kalinya dari tahun 1828 hingga 1855. Hibah tersebut memang dimaksudkan untuk membangun rumah ibadah bagi masyarakat Tionghoa yang bermukim di Yogyakarta.


Awalnya nama bangunan vihara ini adalah Hok Tik Bio, yaitu tempat kebaktian bagi Hok Tik Sin yang oleh orang Tionghoa dipercaya sebagai Dewa Bumi. Namun, pada masa Orde Baru berkuasa, nama klenteng yang berbau Tiongkok diganti namanya menjadi Vihara Buddha Prabha. Karena pada waktu itu hanya terdapat lima agama resmi yang diakui oleh pemerintah, sehingga unsur Buddha yang tetap diizinkan untuk digunakan.
Vihara Buddha Prabha yang memiliki lahan seluas 1.150 m² ini menghadap ke barat dan dikelilingi oleh halaman yang cukup luas. Bangunan vihara ini berdenah persegi panjang, yang terdiri atas ruang utama di tengah, ruang sisi utara, ruang sisi selatan, dan ruang belakang, sedangkan di tengah-tengah bangunan vihara terdapat pelataran terbuka. Ciri utama dari vihara ini adalah atapnya berbentuk Ngang San dengan bubungan yang kedua ujungnya melengkung ke atas. Atapnya dihiasi dengan dua patung naga berekor tegak ke atas yang sedang mengapit bola api. Bola api ini merupakan simbol dari mutiara milik Sang Buddha. Dalam tradisi Tionghoa, naga melambangkan kekuatan dan perlindungan, sedangkan bola api melambangkan kesucian.
Pada dinding, pilar, dan bagian lain dari bangunan vihara ini, terdapat banyak lukisan atau ukiran berlatarbelakang budaya Tiongkok dengan berbagai ragam hias. Pada ruang utama vihara ini terdapat beberapa altar sembahyang lengkap dengan patungnya. Altar yang berada di tengah ruangan merupakan altar pemujaan bagi Buddha Gautama, Dhyani Bodhisatva Avalokiteswara, Prajna-Paramita, dan Maitreya. Selain itu juga terdapat altar untuk memuja Hok Tik Cing Sin, Day Yang Sing Kun, Day Ing Poo Sat, Kong Tik Coen Ong, dan Thian Siang Sing Bo yang merupakan Dewa Utama dalam Taoisme.
Pada ruang samping kiri terdapat altar untuk pemujaan bagi Hiang Thian Siang, sedangkan di ruang samping kanan terdapat altar untuk memuja Kwan Tee Koen dan Kong Hu Cu. Di ruang belakang terdapat altar untuk melakukan persembahan kepada tokoh-tokoh Buddha yang dilambangkan dalam patung-patung berukuran kecil yang menggambarkan Buddha Gautama, Dhyani Buddha Amitabha, Bhaisajyaguru Buddha, Dhyani Bodhisatva Avalokiteswara dan Maitreya. Di ruang atas yang merupakan ruang tambahan, terdapat altar untuk Buddha Gautama, Dhyani Buddha Amitabha, Bhaisajyaguru, Ananda, dan Sariputra.
Bangunan vihara ini merupakan bangunan kuno yang telah terdaftar sebagai warisan budaya dan heritage tertanggal 26 Maret 2007 berdasarkan Surat Perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007, dan di halaman depan vihara juga telah dipasangi papan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan yang menunjukkan bahwa bangunan vihara ini merupakan cagar budaya yang dikenal luas oleh masyarakat Yogyakarta sebagai Klenteng Gondomanan. *** [160815]

0 komentar:

Posting Komentar