Jumat, 30 Oktober 2015

Kompleks Sekolah Marsudirini Yogyakarta

Melangkah ke arah timur setelah selesai melihat-lihat bangunan Bruderan FIC dan SMPN 2 Yogyakarta, Anda akan ketemu dengan bangunan kuno lainnya yang tak kalah menariknya. Bangunan yang fasadnya memperlihatkan gevel-gevelnya ini dikenal dengan Kompleks Sekolah Marsudirini. Kenapa dinamakan demikian? Karena di dalam bangunan sekolah tersebut terselenggara beraneka jenjang pendidikan di bawah naungan Yayasan Marsudirini Perwakilan Yogyakarta. Jenjang pendidikan tersebut, meliputi TK Marsudirini (Mater Dei), SD Marsudirini 1 dan 2, SMP Marsudirini (Maria Immaculata), dan SMA Marsudirini (Santa Maria).
Kompleks sekolah ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 32 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi kompleks sekolah ini berada di sebelah timur SMPN 2 Yogyakarta, atau sebelah barat Vihara Buddha Prabha.
Kehadiran Kompleks Sekolah Marsudirini ini tidak terlepas dari jasa Monseigneur (Mgr) Lijnen. Tim Penulis Yayasan Marsudirini dalam bukunya, Kemarsudirinian Buku Siswa X untuk SMA/K Kelas X Semester I & II (Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2010) mengisahkan, Mgr. Lijnen adalah salah seorang di antara pastor-pastor Belanda yang bertugas di Hindia Belanda. Mula-mula ia bertugas di Padang lalu dipindahkan ke Semarang menjadi Pastor Paroki Gedangan. Ia adalah seorang pastor yang mempunyai jiwa sangat sederhana dan ugahari. Segala kelebihan yang ia miliki digunakan untuk keperluan gereja. Berkat jasa dan pengorbanannya, Paus Pius I menganugerahinya bintang kehormatan dan ia berhak memakai gelar Monseigneur.


Sebagai Pastor Paroki Gedangan, ia melihat kesibukan para pengurus panti asuhan Katolik yang sudah bertahun-tahun ada di parokinya. Ia berusaha mendapatkan tenaga, sarana-prasarana untuk meningkatkan perbaikan pendidikan  bagi gadis-gadis remaja Hindia Belanda. Maka ia kemudian menghadap Mgr. Franken, Uskup Clophinipi, mohon persetujuan pergi ke negeri Belanda untuk memperoleh rohaniwati yang bersedia mengambilalih tugas mengurusi lembaga panti asuhan Gedangan.
Pada bulan Januari  1869, Mgr. Lijnen tiba di negeri Belanda. Ia mengunjungi biara induk Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus di Heythuysen Belanda untuk memohon tenaga yang sangat ia dambakan. Meskipun Moeder Aloysia (pemimpin Susteran OSF) tidak berada di tempat, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Diceriterakannya secara panjang lebar tentang tanah Jawa kepada para Suster sambil membangkitkan semangat misioner mereka. Para Suster mendengarkan ceriteranya dengan penuh semangat.
Beberapa waktu dibutuhkan oleh Moeder Aloysia dan Dewannya untuk mempertimbangkan secara matang tentang tempat, jarak, dan situasi yang belum menentu serta keterpencilan misi Hindia Belanda.
“Saya tidak akan mengirimkan Suster ke tempat yang tidak dapat diadakan visitasi secara teratur,” tegas Moeder Aloysia.
Mgr. Lijnen, seorang misionaris yang tak kenal lelah itu berkata, “Moeder, aku akan masuk ke kapelmu dan tidak akan keluar sebelum aku mendapat berita bahwa yatim piatuku diberi beberapa orang Suster.”
Tuhan mendengarkan doa Mgr. Lijnen. Rencana menjadi kenyataan. Moeder Aloysia merasa tergerak hatinya untuk menerima tawaran pelayanan kasih di tanah misi. Pendaftaran secara sukarela segera diumumkan pada pesta pertobatan Santo Paulu tanggal 25 Januari 1869.
Dua ratus Suster menyatakan kesediannya untuk dikirim ke tanah misi. Ini merupakan suatu pernyataan semangat merasul yang sungguh luar biasa. Tuhan benar-benar berkarya di hati para Suster untuk memenuhi panggilan-Nya. Sepuluh Suster dipilih untuk diutus. Nama-nama mereka diumumkan pada Hari Raya Santo Yosef tanggal 19 Maret 1869. Mereka adalah Moeder Alphonsa Houben sebagai pemimpin, Sr. Marina Deideren, Sr. Aurelia van de Pas, Sr. Lucie Porten, Sr. Yosepha Wisink, Sr. Plechelma Scholten, Sr. Odilia Ten Pol, Sr. Antonine Reuner, Sr. Nicoline Yacobe, dan Sr. Suzanna Broam. Mereka berasal dari beberapa komunitas.
Tidak terbayangkan, betapa besar keberanian dan kebanggaan mereka. Berani meninggalkan tanah air dan segala yang mereka cintai, bangga karena boleh menjadi perintis karya misidi tempat yang sungguh sangat jauh. Para Suster dengan rela dan berani berkelana demi Tuhan. Para Suster misionaris ini dipersiapkan dengan menjalani masa persiapan selama 6 bulan. Mereka mengikuti retret penyegaran selama 10 hari. Perpisahan dengan para Suster diadakan secara sederhana, akrab, dan mengesankan.
Pada tanggal 4 September 1869, Mgr. Lijnen mempersembahkan Perayaan Ekaristi Agung meriah. Moeder Aloysia, Moeder Celestine, dan Sr. Stanislas mengantar kesepuluh Suster misionaris ke Wisma Keuskupan di Roermond untuk mendapatkan berkat perjalanan dari Mgr. Paredis, Uskup di Roermond. Perjalanan diteruskan ke Rotterdam. Perayaan Ekaristi terakhir di tanah air tercinta dipersembahkan oleh Mgr. Lijnen di Gereja Jesuit di Rotterdam. Dalam khotbahnya ia mengucap syukur kepada Tuhan atas segala anugerah yang dilimpahkan kepada 10 Suster misionaris. Anugerah istimewa itu telah memungkinkan para Suster untuk dengan berani menempuh kehidupan baru di tanah misi yang jauh. Mereka adalah tenaga tangguh dan terpercaya yang dapat diandalkan untuk menjadi alat penyalur kasih Tuhan bagi anak-anak yatim piatu di Semarang.


Setelah para misionaris bersiap diri untuk berangkat ke tanah misi Hindia Belanda, kapal Jacoba Cornelia juga telah siap di pelabuhan untuk mengangkut para misionaris. Jacoba Cornelia adalah nama sebuah  kapal layar besar. Kira-kira pukul 13.00 kapal Jacoba Cornelia meninggalkan Roterdam.
Dengan penuh rasa haru dan bangga para sanak keluarga dan para Suster mengantar para misionaris. “Selamat tinggal tanah airku yang tercinta, selamat tinggal orangtua, sanak keluarga, sahabat dan teman sepanggilan. Kedamaian telah kauberikan kepadaku. Iman, harapan, dan cinta telah kautanamkan dalam diriku. Kini aku meninggalkan semuanya untuk selamanya. Tuhan berkatilah semua yang telah berjasa dan telah mencintai saya”. Demikianlah ungkapan hati mereka sampai daratan menghilang dari pandangan mereka.
Perjalanan awal lancar, cepat, dan tenang. Mereka mengalami angin ribut pada tanggal 9 September 1869, namun masih dapat teratasi dengan baik. Tetapi sehari kemudian, kapal diangkat dan dipukul ombak ganas. Tanggal 12 September 1869, kapal Jacoba Cornelia diserang badai yang sangat dahsyat. Semua penumpang tak putus-putusnya berdoa penuh kepercayaan mohn belas kasihan Tuhan untuk terhindar dari bahaya. Kapal Jacoba Cornelia mengalami kerusakan berat. Situasi menjadi sangat mengkhawatirkan. Semua berdoa, mempersembahkan kurban hidup mereka kepada Tuhan jika memang itulah yang menjadi kehendak Tuhan. Tuhan mendengarkan doa mereka semua. Angin dapat beralih dan kapal dapat diputar.
Pada tanggal 13 September 1869, kapal Jacoba Cornelia tiba di Ramsgate. Setelah situasi agak tenang, Moeder Alphonsa menulis surat ke Belanda menceriterakan semua yang telah mereka alami secara rinci.
Beberapa waktu kemudian Moeder Alphonsa menulis surat lagi dan menceriterakan keadaan Sr. Suzanna yang sakit radang paru-paru karena kedinginan. Kemudian disusul berita telegram yang menyatakan bahwa Sr. Suzanna sakit keras dan tidak dapat ikut berlayar lagi. Menanggapi berita itu dengan segera Moeder Aloysia berangkat ke Ramsgate bersama Sr. Cunigonde Iding untuk menggantikan Sr. Suzanna. Sesampainya mereka di Ramsgate, mereka menemukan Sr. Suzanna telah sehat dan siap berlayar. Sr. Cunigonde merasa kecewa. Maka Moeder Aloysia memutuskan keduanya boleh berangkat.
Pada tanggal 20 Oktober 1869, kapal Jacoba Cornelia meneruskan perjalanannya ke Hindia Belanda. Perjalanan lancar. Pada tanggal 21 Januari 1870 para awak kapal sudah dapat melihat pantai Pulau Jawa dan Sumatera dari kajauhan. Pukul 23.00 , kapal Jacoba Cornelia berlabuh di pantai pelabuhan Bapa Nicolas. Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya  tanggal 22 Januari 1870 pukul 4 pagi. Udara segar dan angin sepoi-sepoi mengiringi perjalanan mereka. Kira-kira pukul 11.00, kapal Jacoba Cornelia berlabuh di Batavia.
Kesebelas misionaris menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah misi Hindia Belanda. Mereka dijemput oleh Pastor Moersel dan dibawa dengan trem ke Biara Ursulin. Dengan ramah para Suster Ursulin menerima dan memberikan penginapan kepada para misionaris.
Setelah beberapa hari beristirahat di Batavia, para Suster meneruskan perjalanan mereka ke Semarang. Mereka tiba di pelabuhan Semarang pada tanggal 5 Februari 1870 pukul 01.00. Mgr. Lijnen segera diberitahu tentang kedatangan para Suster. Pada keesokan harinya, pagi-pagi buta tanggal 6 Februari 1870 ia menjemput para Suster di kapal Jacoba Cornelia lalu menghadap Mgr. Claessen. Penuh keramahan dan kebahagiaan ia menyambut para Suster. Ucapan selamat datang dan perkenalan pertama diwarnai oleh rasa syukur dan terima kasih disertai harapan semoga para Suster dapat membaktikan diri mereka dengan sebaik-baiknya demi kepentingan anak-anak yatim piatu di Semarang.
Kedatangan para Suster di Hindia Belanda pertama kali memang bertujuan untuk mendidik dan memelihara anak-anak yatim piatu. Sejalan dengan perubahan waktu, aktivitas para Suster tidak lagi hanya dalam rumah yatim piatu. Ketika jumlah anak yatim piatu semakin menurun karena diambil oleh orangtuanya, maka karya para Suster diarahkan ke dunia pendidikan, kesehatan, dan sosial. Untuk menangani dunia pendidikan, para Suster mulai membuka sekolah-sekolah, seperti karya para Suster OSF di Yogyakarta. Pada tanggal 1 April 1902 para Suster mulai membuka Taman Kanak-Kanak (Froebelschool) dengan 12 murid dan 18 anak putri untuk belajar jahit menjahit dan pekerjaan tangan. Kemudian para Suster tersebut membuka Sekolah Dasar pada 1 Juli 1902 yang dinamai Leeshool.
Pada tanggal 19 April 1904, diadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan kompleks biara dan ruang-ruang sekolah. Kemudian pada tanggal 8 Desember 1904 bangunan biara dan sekolah yang baru diberkati dan diberi nama Maria School (Sekolah Santa Maria). Pada tanggal 28 Juni 1920 dibuka pendidikan Sekolah Dasar Interamata yang kelak menjadi cikal bakal SD Marsudirini.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan pada tahun 1952, yang menyatakan bahwa sekolah-sekolah harus dikelola oleh satu yayasan, maka pada awalnya sekolah-sekolah yang telah didirikan oleh para Suster OSF yang berkarya di Yogyakarta bernaung di bawah Yayasan Kanisius. Tetapi agar tidak membebani Yayasan Kanisius dengan urusan-urusan tambahan, pada tahun 1954 dibentuklah Yayasan Marsudirini yang bertugas mengelola dan membina sekolah-sekolah. Nama Marsudirini berasal dari gabungan kata Mar, Su, Di, Ri, dan Ni. Mar merupakan singkatan dari Maria, Su kependekan dari Suci, Di singkatan dari Dyah, Ri merupakan kependekan dari Rinumpaka, dan Ni adalah singkatan dari Niskala. Sehingga, bila kata-kata gabungan tersebut menjadi satu rangkaian kata, yaitu Marsudirini, mempunyai makna Maria Perawan Berhiaskan Kemurnian.
Bangunan Kompleks Sekolah Marsudirini bergaya arsitektur Indis dengan fasad yang khas berupa gevel. Bangunan ini menghadap ke utara dan memanjang dari timur ke barat. Bentuk pintu dan jendela menggunakan krepyak dengan model daun pintu dan jendela ganda (kupu tarung).
Bagian bangunan yang digunakan sebagai biara atau Susteran adalah bagian tengah. Bangunan ini cukup tinggi dan di bagian atapnya terdapat salib. Denah bangunan ini kalau dilihat atas tampak berbentuk salib.
Bangunan Kompleks Sekolah Marsudirini sampai sekarang masih berfungsi seperti pada awal dibangun, dan telah ditetapkan sebagai bangunan warisan budaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Yogyakarta Nomor 798/Kep/2009. *** [160815]

Kepustakaan:
https://books.google.co.id/books?id=NP6pO_3YIeIC&pg=PA17&lpg=PA17&dq=suster+osf&source=bl&ots=N7waOh_KQ1&sig=Y0su35Sg9_1VbYJLUrPWm1RwN78&hl=id&sa=X&ved=0CBgQ6AEwATgUahUKEwiV76ue-9jlAhWSkY4KHb0dAnU#v=onepage&q=suster%20osf&f=false
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/06/23/selayang-pandang-kompleks-sekolah-marsudirini/

0 komentar:

Posting Komentar