Sabtu, 07 Juli 2012

Kartogafi, Peta Pelayaran Mengubah Wajah Dunia

Dalam pelayaran, selain alat-alat navigasi dan penguasaan astronomi, para pelaut juga membutuhkan peta. Maka, berkembanglah kartografi yang dapat diartikan sebagai suatu seni, ilmu, dan teknik pembuatan peta yang melibatkan ilmu geodesi, fotogrametri kompilasi, dan reproduksi peta.
Abdullah Al-Idris (1099-1166 M) atau Abu Abdullah Muhammad ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Idris Ash-Sharif, asal Ceita (Spanyol) dikenal sebagai ahli geografi dan pembuat peta dunia. Ia membuat globe dari bahan perak seberat 400 kilogram, yang memuat ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran, serta pegunungan. Terdapat pula informasi tentang jarak, panjang, dan ketinggian dengan sangat tepat. Sehingga, umat manusia dapat mengetahui dengan tepat, letak benua atau kawasan yang dituju.
Sebagai pelengkap petanya, Al-Idris juga membuat teks geografi yang diberi nama Kitab Al-Rujari (Book of Roger). Kitab ini mendeskripsikan secara komprehensif mengenai informasi geografis yang terdapat pada peta bola dunia yang digambarkan itu. Al-Idris juga berhasil mengukur garis pusat bumi dan berjaya pada jarak 22.900 batu, setara dengan 42.185 kilometer. Keberhasilan ini tak banyak berbeda dengan ukuran garis pusat sebenarnya, yakni 40.068 km. Simbol-simbol dalam peta serta tulisan untuk menjelaskan isi peta ditulis dalam huruf kaligrafi Arab.
Peta lain yang cukup terkenal adalah peta Ptolomeus yang dibuat pada 1482. Di peta ini, dunia digambarkan tanpa Afrika Selatan, Pasifik, dan benua Amerika. Pasalnya, wilayah terebut saat itu belum diketahui oleh bangsa Eropa. Bahkan, Asia pun digambarkan secara sembarangan. Namun, pemetaan kawasan Mediterania tampak akurat.
Selain itu, pada 1588, Inggris menerbitkan Mariner’s Mirrour yang merupakan atlas laut pertama. Peta ini juga berisi sekumpulan gambar dan diagram yang menampilkan garis-garis pantai yang terkenal di dunia.
Penggunaan peta oleh para pelaut kita sebenarnya telah dicatat bangsa Portugis pada awal abad ke-16. Bangsa Portugis, dalam hal ini Alburquerque, berupaya keras untuk mendapatkan peta tersebut dan pernah mengirim sebuah peta berbahasa Jawa kepada rajanya, tetapi sayangnya kapal yang membawa peta tersebut tenggelam. Sampai kini, tak pernah ditemukan lagi peta kuno yang pernah dibuat bangsa Indonesia. ***

0 komentar:

Posting Komentar