Kamis, 29 Juni 2017

Kerkhof Purworejo

Pada waktu berkobar perang yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro dengan laskarnya, Purworejo yang dulu masih bernama Bagelan, menjadi sebuah medan perluasan pertempuran. Sehingga untuk mengantisipasi perang tersebut, pada tahun 1829 pasukan Belanda berusaha membangun sebuah benteng di Kedung Kebo untuk menghadapi berkecamuknya perang, dan sekaligus mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro.
Dari siniliah kemudian Purworejo berkembang menjadi sebuah kota militer kolonial atau garnizun. Garnizun secara harafiah berarti kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap dalam sebuah kota atau benteng. Jadi, yang dimaksud dengan kota garnizun secara harafiah bisa diartikan sebagai sebuah kota di mana terdapat kelompok pasukan dalam jumlah besar yang menetap di kota tersebut.


Dari jenis kota inilah, muncul berbagai fasilitas militer dengan simbol-simbol yang mengikutinya. Ruang-ruang kota dihubungkan dengan jalan-jalan yang memudahkan untuk saling berinteraksi bagi kepentingan militer yang kemudian juga untuk memudahkan aktivitas ekonomi. Spasial inti menjadi peneguh kekuasaan kolonial pada waktu itu, yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas pemerintah dengan segala perangkat bangunan pendukungnya (Musadad, 2001). Di samping bangunan tersebut terdapat permukiman masyarakat Eropa, kantor-kantor pemerintah, fasilitas pendidikan yang dikelola oleh orang Eropa, rumah sakit, sarana peribadatan mereka, dan kompleks pemakaman.
Pemakaman Belanda di Jawa dikenal dengan sebutan kerkop. Kata tersebut berasal dari bahasa Belanda kerkhof. Secara harafiah, kerk berarti gereja dan hof berarti taman. Istilah tersebut awalnya digunakan untuk pemakaman yang berada di halaman gereja. Kemudian melebar ke luar gereja yang secara umum dapat diartikan sebagai makam atau pekuburan. Termasuk kuburan Belanda atau orang-orang Eropa yang bermukin di Purworejo kala itu dikenal dengan Kerkhof Purworejo. Makam ini terletak di Jalan Mayor Jenderal Sutoyo RT. 03 RW. 07 Kelurahan Sindurjan, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Makam ini berada di sebelah selatan Rutan Kelas B Purworejo atau tepatnya berada di sebelah barat RST.


Makam Belanda ini, konon diresmikan pada tahun 1850 dengan diberi nama Het Kerkhof van Poerworedjo, yang memiliki lahan seluas 1,78 hektar. Seperti kerkhof lainnya, umumnya sebelum memasuki areal pemakaman terlebih dahulu akan dijumpai pintu gerbang masuk ke kompleks pemakaman. Pintu gerbang masuk Kerkhof Purworejo ini memiliki warna khas yang didominasi oleh warna kuning dan merah. Pintu gerban ini masih dalam bentuk aslinya, dan di bawah gevel gerbang tertulis ‘Memento Mori’ (Ingatlah akan kematian). Cuplikan kalimat dari bahasa Latin ini umumnya memang ditulis di atas makam Belanda. Hal ini untuk mengingatkan manusia bahwa semua manusia juga akan mati seperti yang ada di dalam makam, sehingga sudah sepantasnyalah manusia disuruh ingat akan kematinnya. Kata-kata ini selaras dengan judul novelnya Far Choinice, Memento Mori: Ingat Matimu!
Kemudian tulisan di bawah Memento Mori masih terdapat tulisan lagi, yaitu Makam Kerkhope. Sebuah bentuk kesalahkaprahan yang dipasang di pintu gerbang tersebut, baik tulisan maupun maknanya. Secara etimologi, kata makam berarti kuburan. Kubur sendiri berasal dari bahasa Arab, yang berarti memendam, melupakan, memasukkan, mengebumikan. Sedangkan, maksud dari tulisan kerkhope itu sebenarnya menunjuk pada kata dalam bahasa Belanda, kerkhof, yang artinya juga makam atau kuburan. kalau kata makam bersanding dengan kata kerkhope, yang terjadi adalah kesalahkaprahan saja. Untuk penamaan sebuah kuburan atau makam yang ada di Jawa, umumnya dimulai dengan kata makam kemudian diikuti oleh nama daerah. Jadi, untuk kuburan Belanda yang ada di Purworejo ini nama sebenarnya adalah Het Kerkhof van Poerworedjo, tapi kalau mau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa ditulis ‘Makam Belanda Purworejo’ atau ‘Kerkop Purworejo’.


Pada kartu pos berjudul Kerkhoflaan te Poerworedjo yang dicetak dan diterbitkan oleh Toko Van Laar Poerworedjo pada tahun 1912 memperlihatkan, bahwa jalur menuju makam Belanda tersebut dulunya sangatlah asri. Deretan pohon kenari (Canarium indicum) menghiasi sepanjang jalur menuju makam Belanda tersebut. Rindang dan sejuk udaranya.
Memasuki makam, mata pengunjung akan tertuju kepada jirat-jirat (grafsteen) kuno yang ada dalam kompleks makam ini. Jirat-jirat ini, dalam bahasa Jawa disebut dengan kijing (batu kubur di makam). Di makam ini terdapat sejumlah variasi kijing, mulai dari yang sederhana yang pada umumnya berbentuk empat persegi panjang dengan epitaph di atasnya, hingga yang rumit berbentuk rumah, tugu dan mauseleom yang kaya akan penuh hiasan ornamen. Makam berbentuk tugu ada sekitar 79 buah, sementara yang berbentuk mausoleum berjumlah 4 buah (Chawari, 2003).


Di makam ini disemayamkan beberapa orang Belanda maupun Eropa lainnya, di antaranya Wilhelm Graf von Taubenheim, seorang letnan Hindia Belanda berdarah biru ningrat Jerman. Selain itu, ada  H.W.L. Tellings, seorang kapten infateri dan jasad-jasad Zwarte Hollands. Zwarte Holland, atau Londo Ireng, ini dulunya merupakan orang-orang dari Afrika (Ghana dan Burkina Faso) yang disewa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memperkuat pasukannya di Purworejo.
Pada saat ini, kondisi kuburan Belanda ini terlihat kurang terawat. Ada beberapa nisan yang sudah rusak dan hilang, karena antara tahun 1970 sampai dengan 1980 banyak dilakukan penjarahan di kompleks makam ini. Hanya karena tergiur akan marmernya, penjarah tersebut seolah meniadakan sejarah untuk dikenang oleh generasi-generasi berikutnya.
Alangkah baiknya jika kompleks pemakaman Belanda ini terus dirawat dan dilestarikan. Selain bisa menjadi objek wisata, juga bisa dijadikan ruang terbuka hijau. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo bisa belajar ke Museum Taman Prasasti di Jakarta. Museum tersebut dulunya juga merupakan kompleks makam Belanda yang ada di Jakarta, kemudian direnovasi dan disulap menjadi sebuah museum kuburan yang bersih nan historis. Seyogyanya, kerkhof Purworejo juga dikembangkan seperti museum tersebut. *** [100517]

Kepustakaan:
http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=7469 [030617]
http://kucoytop.tripod.com/articles/chawari.htm [030617]
http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/7?q_searchfield=poerworedjo [030617]

0 komentar:

Posting Komentar