Thursday, May 24, 2012

Museum Brawijaya


Usaha untuk pendirian Museum Brawijaya telah dilakukan sejak tahun 1962 oleh pemrakarsanya, yaitu Brigjen TNI (Purn) Soerachman (Mantan Pangdam VIII/Brawijaya tahun 1959 – 1962). Adapun maksud pendirian museum ini  adalah untuk membuktikan kepada masyarakat mengenal sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya rakyat Jawa Timur sejak 1945 yang secara terus menerus membuktikan dharma bhaktinya kepada ibu pertiwi.
Pembangunan gedung Museum Brawijaya ini mendapat partisipasi dari Martha, seorang pemilik hotel di Tretes, Pandaan, Pasuruan. Martha menyatakan kesanggupannya untuk menanggung biaya pembangunan  gedung museum, sedangkan pemerintah daerah Kotamadia Malang menyediakan lokasi tanah yang terletak di Taman Indrakila (sekarang Jl. Ijen 25A Malang) seluas ± 10.500 m² dengan luas gedung pameran, perpustakaan dan perkantoran ± 3.200 m².
Pelaksanaan pembangunan gedung Museum Brawijaya, arsitekturnya diserahkan sepenuhnya kepada Zidam VIII/Brawijaya dan dipercayakan kepada Kapten Czi. Ir. Soemadi yang akhirnya dilaksanakan pada tahun 1967 sampai dengan tahun 1968.


Sebelum gedung museum diresmikan, terlebih dahulu dilakukan pemberian nama yang berdasarkan Keputusan Pangdam VIII/Brawijaya nomor Kep/75/IV/1968 tanggal 16 April 1968 tentang pemberian nama Museum Brawijaya dengan sesanti “Citra Uthapana Cakra”. Citra berarti sinar atau cahaya, uthapana artinya yang membangun atau membangkitkan, dan cakra memiliki makna kekuatan atau semangat. Jadi secara keseluruhan Citra Uthapana Cakra dapat diartikan sebagai “Sinar yang membangkitkan semangat/kekuatan”.
Pada tanggal 4 Mei 1968, gedung Museum Brawijaya diresmikan dengan suatu upacara resmi. Dalam upacara tersebut, Pangdam VIII/Brawijaya menunjuk Kolonel (Purn) DR. Soewondo (mantan Pangdam VIII/Brawijaya pada tahun 1952) mewakili pinisepuh keluarga besar Brawijaya untuk bertindak sebagai inspektur upacara dan dihadiri oleh Pangdam VIII/Brawijaya Mayjen TNI M. Yasin beserta keluarga Brawijaya.
Setelah pelaksanaan reorganisasi Bintaldam VIII/Brawijaya dan likuidasi Jarahdam VIII/Brawijaya ke dalam fungsi Bintal pada tahun 1986, maka terbentuklah organisasi baru Bintaldam V/Brawijaya sehingga Museum Brawijaya berada di bawah komando Bintaldam V/Brawijaya.



Koleksi Museum Brawijaya

Halaman depan
Di halaman depan Museum Brawijaya terdapat taman senjata yang diberi nama “Agne Yastra Loka”, di mana agne berarti api, yastra artinya senjata, dan loka mempunyai arti tempat atau taman. Sehingga dapat diartikan secara bebas sebagai “tempat/taman senjata yang diperoleh dari api revolusi 1945.
Di taman tersebut dipamerkan sejumlah benda, seperti:

Tank
Tank ini adalah buatan Jepang dengan bobot 14 ton hasil rampasan arek-arek Surabaya pada bulan Oktober 1945, selanjutnya oleh rakyat Surabaya dipakai untuk melawan sekutu dalam perang “10 November 1945” yang kemudian dikenal sebagai “Hari Pahlawan”. Oleh karena pada waktu itu pengetahuan teknis mengenai tank belum dikuasai, maka akhirnya tank ini ditinggalkan setelah dirusak peralatan tempurnya. Pada tahun 1949 tank ini dikuasai oleh TNI kemudian tahun 1967 diserahkan ke Museum Brawijaya.

Penangkis Serangan Udara
Dua pucuk senjata berat Penangkis Serangan Udara (PSU) buatan Jepang dengan model Double Loop Luchdoel yang dikenal dengan Pompom Double Loop ini berhasil direbut oleh pemuda BKR dari tentara Jepang dalam suatu pertempuran pada bulan September 1945 yang kemudian dipergunakan oleh BKR dalam rangka mempertahankan kemerdekaan baik dari serangan tentara sekutu maupun tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dalam pertempuran di barat Bangkalan senjata tersebut berhasil menembak jatuh dua buah pesawat tempur Belanda.

Meriam 3,7 inch (Si Buang)
Dalam menghadapi serangan Jepang pada bulan Maret 1941 pihak Belanda menempatkan meriam 3,7 inch buatan pabrik Viekers Amstrong Australia model MK-ii AP 3,7 inch dengan panjang 5 meter dan bernomor L/3557 di pantai Desa Betering, Kabupaten Gresik sebagai salah satu pertahanan Belanda, akan tetapi pada akhirnya berhasil dirampas oleh tentara Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, meriam tersebut dikuasai oleh tentara Belanda yang waktu itu membonceng pasukan Sekutu.
Pada tanggal 10 Desember 1945 pasukan TKR bersama-sama dengan lascar pejuang yang lain mengadakan serangan terhadap kedudukan tentara Belanda di pos pantai desa Betering. Dalam pertempuran sengit yang berlangsung hampir 6 jam tersebut, TKR berhasil mendesak kedudukan tentara Belanda dan merampas meriam 3,7 inch dari tentara Belanda. Selanjutnya TKR bergerak menuju Lamongan dengan membawa meriam  hasil rampasannya. Dalam perjalanan terjadi pertempuran yang mengakibatkan gugurnya seorang prajurit TKR bernama Kopral Buang. Untuk mengenang jasa-jasa prajurit tersebut kemudian meriam ini diberi nama “Si Buang”.
Pada masa perang kemerdekaan I, meriam tersebut dibawa berpindah-pindah tempat yaitu ke Mojokerto ke desa Wringin Anom Krian akhirnya ke desa Cukir. Jombang dalam rangka mengadakan perlawanan terhadap tentara Belanda. Pada saat tentara Belanda berhasil menguasai Jombang, meriam tersebut ditinggalkan oleh TKR setelah dirusak terlebih dahulu.

Tank Amphibi AM Track
Kendaraan tempur amphibi AM Track ini pernah dipergunakan oleh tentara Belanda yang menduduki Kota Malang pada masa perang kemerdekaan I. Akan tetapi usaha tentara Belanda ini mendapat perlawanan dari pasukan TRIP sehingga terjadilah pertempuran yang sengit di Jalan Salak dan sekitar lapangan pacuan kuda antara tentara Belanda yang mempunyai persenjataan lengkap dengan pasukan TRIP yang senjatanya sangat minim dan terbatas sehingga mengakibatkan 35 orang anggota pasukan TRIP gugur. Jenasahnya dimakamkan dalam kuburan missal sebelah utara ujung timur Jalan Salak dan tempat ini sekarang dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan TRIP Malang.

Patung Jenderal Sudirman
Pembuatan patung Jenderal Sudirman dimaksudkan untuk mengabadikan dan mengenang jasa-jasa Panglima Besar Jenderal Sudirman. Pada waktu itu walaupun dalam keadaan sakit beliau tetap berada di tengah-tengah pasukannya untuk memimpin gerilya, berpindah-pindah tempat dalam rangka melawan tentara Belanda. Hal ini merupakan suatu penampilan sifat pejuang, pemimpin dan pahlawan yang mengabadikan diri sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara sehingga beliau disebut sebagai Bapak TNI.

Ruang lobby
Ruangan ini terletak di antara ruang koleksi I dan ruang koleksi II. Di ruang ini terdapat 2 buah relief (lukisan timbul di dinding) dan dua perangkat lambang-lambang Kodam (badge) di Indonesia.

Relief sebelah selatan melukiskan wilayah kekuasaan Majapahit juga dipahatkan perahu Hongi yang menggambarkan bahwa Majapahit memiliki armada laut yang kuat sehingga berhasil mempersatukan Nusantara serta pahatan Raden Wijaya dalam bentuk Harihara.

Releif sebelah utara menunjukkan daerah-daerah tugas yang pernah dijalani oleh pasukan-pasukan Brawijaya dalam rangka menegakkan kemerdekaan, menumpas gerakan separatis dan gerombolan pengacau keamanaan serta tugas internasional sebagai pasukan perdamaian dan keamanan PBB di luar negeri (Mesir, Kongo, Timur Tengah, Vietnam dan lain-lain).

Badge Kodam/Kotama TNI AD di Indonesia:
Sebelah utara ditampilkan badge Kodam/Kotama TNI AD dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1985 sejumlah 17 Kodam, yaitu:
  • Kodam I/Iskandar Muda                 : Aceh
  • Kodam II/Bukit Barisan                  : Sumatera Utara
  • Kodam III/17 Agustus                    : Sumatera Barat
  • Kodam IV/Sriwijaya                       : Sumatera Selatan
  • Kodam V/Jaya                                : Jakarta
  • Kodam VI/Siliwangi                        : Jawa Barat
  • Kodam VII/Diponegoro                  : Jawa Tengah
  • Kodam VIII/Brawijaya                   : Jawa Timur
  • Kodam IX/Mulawarman                 : Kalimantan
  • Kodam X/Lambung Mangkurat      : Kalimantan Timur
  • Kodam XI/Lambung Bungai           : Kalimantan Tengah
  • Kodam XII/Tanjung Pura               : Kalimantan Barat
  • Kodam XIII/Merdeka                   : Sulawesi Utara
  • Kodam XIV/Hasanuddin               : Sulawesi Selatan
  • Kodam XV/Pattimura                    : Ambon
  • Kodam XVI/Udayana                    : Bali
  • Kodam XVII/Cendrawasih            : Irian Jaya

Sebelah selatan dipamerkan badge Kodam setelah reorganisasi TNI AD yang berlaku mulai 1 April 1985 berjumlah 10 Kodam, meliputi:
  • Kodam I/Bukit Barisan                   : Sumatera Utara
  • Kodam II/Sriwijaya                        : Sumatera Selatan
  • Kodam III/Siliwangi                        : Jawa Barat
  • Kodam IV/Diponegoro                   : Jawa Tengah
  • Kodam V/Brawijaya                       : Jawa Timur
  • Kodam VI/Tanjung Pura                 : Kalimantan
  • Kodam VII/Wirabuana                   : Sulawesi
  • Kodam VIII/Trikora                       : Irian Jaya/Papua
  • Kodam IX/Udayana                       : Bali dan Nusa Tenggara
  • Kodam Jaya                                   : Jakarta

Pada tahun 2002 diaktifkan kembali Kodam/Kotama:
  • Kodam Iskandar Muda                  : Aceh
  • Kodam Pattimura                           : Ambon

Halaman tengah

Gerbong Maut
Pada masa perang kemerdekaan I tanggal 21 Juli 1947 tentara Belanda mendarat di Pasir Putih dan menyerang beberapa kota termasuk Bondowoso. Dalam pertempuran tersebut tentara Belanda menahan sejumlah pejuang di penjara Bondowoso.
Gerbong barang nomor GR 10152 adalah salah satu dari 3 gerbong yang pada tanggal 23 September 1947 pukul 02.00 menjelang pagi para tawanan yang berada di penjara Bondowoso (berjumlah 100 orang) diangkut dengan menggunakan 3 buah gerbong barang untuk dipindahkan ke Surabaya. Karena berseak-desakan dalam gerbong yang sempit dan pintu serta jendelanya tertutup rapat selama dalam perjalanan, sehingga udara dalam gerbong sangat panas dan mengakibatkan banyak pejuang yang meninggal, sedangkan yang masih hidup menggedor-gedor minta air dan minta dibukakan pintu agar udara dapat masuk, tetapi tentara Belanda yang mengawal menjawab “Air tidak ada, yang ada hanyalah peluru”. Ketika sampai di Stasiun Wonokromo, Surabaya, sebagian besar pejuang 46 orang meninggal dunia, 42 orang dalam keadaan sakit/lemas dan 12 orang sehat. Kemudian 12 orang pejuang yang masih sehat dimasukkan dalam penjara Kali Sosok, Surabaya.

Perahu Segigir
Pada bulan November 1947 Belanda berhasil menduduki Pasongsongan, Sumenep. Pasukan Joko Tole (Sabililah) di tempat tersebut terpaksa mengundurkan diri ke Desa Prenduan pesisir antara Sumenep dan Pamekasan.
Markas baru di desa tersebut diketahui oleh pihak Belanda, kemudian Belanda merencanakan penyerbuan ke Desa Prenduan, rencana Belanda untuk mengadakan penyerbuan ke Desa Prenduan diketahui oleh mata-mata pihak pejuang kemudian dilaporkan kepada Letkol Chandra Hasan, Komandan Resimen Joko Tole.
Menjelang malam secara diam-diam Letkol Chandra Hasan memindahkan pasukannya ke Paiton, Kabupaten Probolinggo, sedangkan pemerintahan sipil dipindahkan ke Tuban. Perahu inilah yang digunakan Letkol Chandra Hasan untuk memimpin pasukannya melawan Belanda, namun beberapa perahu yang lain ditembak oleh pesawat udara Belanda.

Ruang I
Memamerkan benda-benda koleksi dari tahun 1945 sampai dengan tahun 1949. Adapun koleksi yang dipamerkan adalah:
  • Foto-foto Panglima Kodam di Jawa Timur sejak tahun 1945 hingga sekarang.
  • Lukisan pakaian seragam PETA, HEIHO dan pejuang. Hitam pakaian tentara Gerilya. Coklat pakaian tentara Heiho. Baju jas hijau dan sepatu lars pakaian tentara PETA, dan hijau krah putih pakaian BKR/TKR.
  • Lukisan Pamen, Pama, Bintara dan Tamtama prajurit PETA.
  • Burung merpati pos yang pernah digunakan sebagai kurir di daerah Komando Ronggolawe Lamongan/Bojonegoro dengan front Surabaya pada tahun 1946.
  • Termos terbuat dari tempurung kelapa yang pernah digunakan oleh tentara PETA pada masa penjajahan Jepang.
  • Pedang Samurai sebagai kelengkapan Perwira Jepang yang berhasil direbut oleh TKR dari tentara Jepang di perkebunan Ngrakah, Sepanon, Kabupaten Kediri.
  • Meja kursi yang digunakan untuk perundingan penghentian tembak menembak (gencatan senjata) antara TKR/pejuang dengan Sekutu di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1945. Pihak Indonesia diwakili oleh Bung karno dan Bung Hatta, sedangkan pihak Sekutu diwakili oleh Mayjen Havtorn dan Brigjen Mallaby.
  • Senjata buatan pabrik senjata Mrican, Kediri tahun 1945 sampai dengan tahun 1946.
  • Alat perhubungan atau radio yang pernah digunakan oleh Den Hub Brawijaya pada tahun 1945 – 1946.
  • Lukisan pertempuran Surabaya sekitar 10 November 1945 yang melatarbelakangi hari Pahlawan, dengan semboyan “MERDEKA ATAU MATI”, lebih mati berkalang tanah daripada hidup di bawah telapak kaki penjajah.
  • Senjata-senjata hasil rampasan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kemudian dilanjutkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan baik melawan tentara Jepang maupun Belanda dengan sekutunya. Sebagai bekal untuk mempertahankan kemerdekaan, para pejuang berusaha merebut senjata dan peralatan perang yang lain dari tentara Jepang. Dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya berhasil merebut senjata dan peralatan perang lainnya dari tangan tentara Jepang.Perang untuk mempertahankan kemerdekaan kemudian dilanjutkan dengan menghadapi tentara Sekutu dan Belanda selama perang kemerdekaan para pejuang berhasil merampas senjata-senjata baik dalam pertempuran maupun melalui penyergapan-penyergapan.
  • Peta pendudukan musuh dan kantong-kantong gerilya serta garis pertahanan TKR.
  • Peta perang kemerdekaan I (21 Juli 1947) menggambarkan gerakan serangan tentara Belanda serta pertahanan TKR dan pejuang RI di daerah-daerah perbatasan.
  • Peta perang kemerdekaan II (19 Desember 1948) yang menggambarkan gerakan serangan tentara Belanda terhadap daerah dan kedudukan pasukan TKR dan pejuang RI di seluruh Jawa Timur dan juga menggambarkan kedudukan pertahanan pasukan kita yang kemudian dilanjutkan gerakan penyusupan ke dalam daerah pendudukan Belanda dengan taktik perang gerilya.
  • Peralatan yang pernah dipakai Jenderal Sudirman (peralatan makan, meja, kursi, bambu runcing, dipan, tempat air wudhu) saat memimpin gerilya di desa Loceret, Bajulan, Nganjuk.
  • Peta rute gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman yang dimulai dari Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 10 Juli 1949 menuju Jawa Timur dan kembali lagi ke Yogyakarta melalui rute yang berbeda menempuh perjalanan 1009 Km.
  • Alat-alat kesehatan yang pernah digunakan dr. Hadiyono yang gugur menghadapi Belanda dalam pertempuran di Krian, Mojokerto pada tahun 1948.
  • Pakaian dan matel Letkol dr. Soebandi, dokter Brigade III/Damarwulan merangkap sebagai Resimen Militer Jember yang gugur bersama Letkol Moch. Srudji, Komandan Brigade III/Damarwulan dalam suatu pertempuran yang sengit melawan Belanda di Karang Kedawung sebelah selatan Jember pada tanggal 8 Februari 1949.
  • Peralatan yang pernah digunakan oleh Kapten Soemitro dalam perang kemerdekaan menghadapi Belanda di daerah Nongkojajar, Pasuruan pada tahun 1948.
  • Lukisan yang menceritakan pada saat Jenderal Sudirman mengadakan inspeksi pasukan di Malang dalam rangka persiapan pemulangan tawanan perang Jepang.
  • Lukisan pertempuran tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby di depan gedung Internatio Jembatan Merah, Surabaya, pada tanggal 30 Oktober 1945.
  • Lukisan pertempuran di depan gedung Kempetai (Markas tentara Jepang) untuk merampas persenjataan Jepang. Tempat ini sekarang didirikan Tugu Pahlawan.
  • Lukisan yang mengisahkan pemberangkatan tawanan Jepang di Stasiun Kereta Api Malang Selatan (Stasiun Kota Lama) pada tahun 1945.
  • Lukisan pemberangkatan tawanan Jepang ke Pelabuhan Probolinggo menuju Pulau Galang pada tahun 1945.
  • Lukisan serah terima Samurai dari Brigjen Wabe Sigewa kepada Jenderal Sudirman pada tanggal 28 April 1946 di Malang.
  • Mata uang yang pernah berlaku di Indonesia pada masa revolusi.
  • Senjata peninggalan TRIP yang pernah dipakai dalam pertempuran di Gunungsari tanggal 28 November 1945.
  • Mobil sedan keluaran Pabrik Desoto USA tahun 1941 yang pernah digunakan Kolonel Sungkono, Panglima Divisi I/Jawa Timur 1948.
  • Panji-panji/lambang-lambang Satuan yang pernah digunakan oleh kesatuan-kesatuan Kodam VIII/Brawijaya pada tahun 1945.

Ruang II
Memamerkan benda-benda koleksi dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1976. Koleksi yang dipamerkan adalah:
  • Peta Kota Malang dan perkembangannya mulai dari zaman pemerintahan Belanda hingga beralih kepada Republik Indonesia dari tahun 1919 hingga sekarang.
  • Foto-foto Walikota Malang dari zaman pemerintahan Belanda sampai sekarang.
  • Meriam dan bejana besi hasil rampasan operasi Seroja Timor-Timur oleh pasukan Kodam Brawijaya tahun 1975 sampai dengan tahun 1976.
  • Senjata rampasan dari PRRI/Permesta. Pada tahun 1958 terjadi pemberontakan oleh PRRI di Sumatera Barat serta Permesta di Sulawesi Tengah dan Utara. Untuk menumpas pemberontakan tersebut dibentuk satuan tugas operasi militer yang diberi nama “Operasi 17 Agustus”. Dalam operasi tersebut, pasukan Brawijaya berhasil menangkap dan menawan tokoh-tokoh pemberontak serta merampas bermacam-macam senjata berat maupun ringan (STTB dan SMB).
  • Mesin hitung (kalkulator) dan alat cetak kartu, computer pertama yang digunakan oleh Jawatan Keuangan Kodam VIII/Brawijaya.
  • Maket Patung Raden Wijaya sebagai Prabu Brawijaya.
  • Teks Sapta Marga dan Sumpah Prajurit terbuat dari marmer yang pernah dipasang di ruang hening Makodam V/Brawijaya.
  • Peta penugasan pasukan Brawijaya yang merupakan petunjuk daerah-daerah penugasan pasukan-pasukan Brawijaya di seluruh wilayah Indonesia dalam rangka menumpas pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia.
  • Alat musik yang pernah digunakan oleh Detasemen Musik Kodam V/Brawijaya ini merupakan hasil rampasan dari tentara Belanda pada tahun 1952.
  • Peralatan perang yang digunakan pasukan Brawijaya untuk merebut Irian Barat pada operasi Trikora tanggal 19 Desember 1961 terdiri dari pakaian tutul, paying terjun, dan senjata.
  • Peralatan tradisional rakyat Irian Jaya yang diperoleh pada waktu pasukan Brawijaya melaksanakan Operasi Trikora.
  • Lukisan timbul Mayjen Soeharto untuk mengenang saat menjabat sebagai Panglima Mandala dalam rangka merebut kembali Irian Barat dari kekuasaan Belanda pada tahun 1961.
  • Atribut dr. Arjoko. Kapten dr. Arjoko dari Jawatan Kesehatan Kodam VIII/Brawijaya yang gugur di Irian Jaya pada bulan Maret 1964 akibat pesawat udara yang ditumpanginya jatuh di Ganyem, Irian Jaya.
  • Bendera Katanga yang merupakan hasil rampasan dari pemberontakan di Kongo saat pasukan Brawijaya bersama-sama pasukan lain bertugas di Kongo pada tahun 1962 sampai dengan tahun 1963 (Kontingen Garuda II).
  • Pakaian seragam tentara Papua buatan Belanda yang berhasil dirampas oleh pasukan Brawijaya.
  • Meja dan lilin yang pernah digunakan sesepuh Brawijaya untuk azas pembinaan keluarga besar Brawijaya pada tahun 1966 di Candi Penataran.
  • Peralatan Topografi yang pernah digunakan oleh Brigade Topografi Angkatan Darat pada tahun 1945.
  • Senjata-senjata hasil rampasan Operasi Trisula dalam rangka penumpasan sisa-sisa komunis di Blitar Selatan tahun 1968.
  • Senjata-senjata hasil rampasan Operasi Seroja di Timor Timur oleh Pasukan Brawijaya tahun 1975 sampai dengan tahun 1976.
  • Album nama-nama prajurit Brigif 2 Dharma Yudha yang gugur dalam Operasi Seroja Timor Timur pada tahun 1975 sampai dengan tahun 1976.
  • Bendera Portugal hasil rampasan Brigif Linud 18 pada Operasi Seroja 1975.
  • Mata uang Jepang yang beredar di Indonesia.
  • Patung burung elang merupakan lambang satuan Brigif 10 yang dilikuidasi pada tahun 1975.
  • Piala dan tanda penghargaan dari satuan Kodam Brawijaya yang dilikuidasi.
Perpustakaan Museum
Perpustakaan Museum Brawijaya merupakan tempat untuk mengoleksi buku-buku dan dokumen-dokumen (Audio Visual) sejarah perjuangan TNI, karya-karya umum dan referensi yang terkait dengan pendabdian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. *** [280112]

Sumber :
  • __________ , 2008. Sekilas Mengenal Museum Brawijaya, Malang: Bintaldam V Brawijaya

0 comments:

Post a Comment