Minggu, 20 Mei 2012

Sekaten

Perayaan Sekaten dimulai sejak bertahtanya Sultan Syah Alam Akbar Jumbun Sirullah Brawijaya (Raden Patah) di Demak. Pada masa itu, Raden Patah membangun sebuah masjid yang kemudian lebih dikenal dengan Masjid Demak. Pembangunan masjid yang dipimpin langsung oleh para Walisongo tersebut selesai pada tahun 1403 Çaka. Masjid tersebut oleh Raden Patah digunakan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kini lazim disebut sebagai perayaan “Maulud Nabi”. Perayaan Maulud Nabi ini disepakati oleh para Wali untuk melakukan syiar dengan menggunakan gamelan pusaka peninggalan raja-raja terdahulu supaya masyarakat tertarik dengan syiar tersebut.
Oleh Keraton Surakarta, perayaan Sekaten hingga kini masih tetap dilestarikan sebagai rangkaian upacara-upacara adat yang dilakukan setiap tahun dari tanggal 5 hingga 12 Rabbingulawal (hari kelahiran Nabi Muhammad SAW).
Di dalam Bahasa Jawa, kata “Sekaten” berasal dari kata “Sekati”, yang artinya setimbang; di dalam menimbang hal yang baik dan yang buruk. Di dalam perayaan Sekaten, Keraton Surakarta mempergunakan seperangkat gamelan bernama Kyai Guntur Madu sebagai lambang Syahadat Tauhid dan Kyai Guntur Sari yang melambangkan Syahadat Rasul.
Konon, menurut kepercayaan, barang siapa yang memakan sirih tepat pada waktu gamelan Sekaten pertama kali dibunyikan, akan awet muda. Dan para petani berkeyakinan bila mempergunakan cambuk yang dibeli pada waktu Sekaten maka ternak yang mereka pelihara akan  cepat berkembang biak dan luput dari wabah penyakit. Maka pada waktu Sekaten banyak dijumpai penjual sirih dan cambuk.
Puncak perayaan Sekaten/”Grebeg Mulud”, tepat pada tanggal 12 Rabbingulawal, dikeluarkanlah sepasang “Gunungan” (Lanang dan Wadon) sebagai lambang kemakmuran yang merupakan Hajad Dalem Sinuhun Pakoe Boewono dan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan berkah dan rahmat yang dipusatkan di Masjid Agung Kraton Surakarta.
Berbagai kegiatan dan prosesi upacara adat Maleman Sekaten, biasanya diisi dengan prosesi gamelan sekaten, pasar malam, pameran maupun Gunungan Grebeg Mulud.
Diharapkan Sekaten selain sebagai perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan syiar yang dilakukan para Walisongo, juga agar Sekaten tetap ada sebagai kekayaan budaya bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur sebagai cermin jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk itu harus dilestarikan keberadaannya agar tidak tergeser oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. ***
               

0 komentar:

Posting Komentar