Kamis, 28 Juni 2012

Jejak Verhoeven di Flores

Father Theodor Verhoeven (1907-1990) adalah seorang pastor Katolik asal Belanda yang bertugas di Flores. Resminya, dia adalah pengajar Bahasa Latin dan Yunani di Seminari Mataloko di Kabupaten Ngada. Selama sekitar 17 tahun bertugas mengajar, Verhoeven juga meletakkan dasar-dasar penting arkeologi di Flores.
Dia belajar Sejarah Klasik dan Arkeologi di University of Utrect, Belanda, kemudian melanjutkan studi dalam bidang sejarah klasik di Univeristy of Leiden, Belanda. Penelitian masternya adalah tentang ekskavasi Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno yang hancur akibat letusan gunung dan terkubur sampai kemudian digali oleh para peneliti.
Fachroel Aziz dan MJ Morwood dalam Geology Palaeontology and Archaelogy of The Soa Basin, Central Flores, Indonesia (2009) menyebutkan, minat Verhoeven meneliti jejak arkeologi di Flores bermula tahun 1950-an. Awalnya, Verhoeven penasaran dengan penemuan tulang-belulang yang sangat besar oleh Raja Nagakeo di Boawae tahun 1957. Tulang tersebut muncul akibat erosi di sebuah kampung Ola Bula, Kabupaten Ngada. Verhoeven kemudian mengenali bahwa tulang tersebut adalah fosil stegodon (gajah purba).
Hal itu mendorong Verhoeven untuk lebih serius merintis penelitian kehidupan purba di Flores. Dia lantas melakukan penggalian besar di Ola Bula dan menemukan fosil stegodon. Sebagai alternatif, dia juga mengembangkan penelitian di Cekungan Soa, Kabupaten Ngada.
Tahun 1963, Verhoeven kembali menggali di Mata Menge dan Boa Lesa, sekitar 3,5 kilometer dari Ola Bula. Di dalam dua situs itu, ditemukan fosil stegodon dan artefak batu. Tahun 1968, peneliti ini menyimpulkan, stegodon dan manusia purba telah ada di Flores. Entah bagaimana caranya, binatang dan manusia itu sampai di pulau tersebut. Verhoeven bersama koleganya, Father Johannes Maringer, mengungkapkan hasil penelitian beserta bukti-buktinya di beberapa jurnal Anthropos. Bukti-bukti itu diabaikan oleh peneliti arkeologi mapan karena mereka meragukan identifikasi artefak batu itu. Muncul juga anggapan, Verhoeven termasuk peneliti amatir.
Meski begitu, peneliti paleontologi dan pengajar di Utrecht University, Paul Sondaar, dan peneliti Pusat Survei Geologi Bandung, Fachroel Aziz, tertarik untuk menelusuri temuan Verhoeven. Pada awal tahun 1990-an, keduanya dan beberapa peneliti lain kembali menggali beberapa situs yang pernah diteiliti Verhoeven, yaitu Mata Menge dan Tangi Talo. Mereka menemukan fosil stegodon, kura-kura raksasa, dan komodo yang diperkirakan berusia sekitar 900.000 tahun lalu (Tangi Talo) dan 730.000 tahun lalu (Mata Menge).
Hingga kini, penelitian di Soa terus dilakukan oleh banyak peneliti dari Indonesia dan mancanegara, seperti Belanda atau Australia. Kajian yang dirintis Verhoeven pada pertengahan tahun 1950-an itu ternyata menjadi modal penting untuk menguak tabir kehidupan purba di Flores. ***

*) KOMPAS edisi Sabtu, 23 Juni 2012 hal. 35

0 komentar:

Posting Komentar