Minggu, 24 Juni 2012

PERSAGI

Singkatan dari Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia, merupakan suatu gerakan nasionalisme di bidang seni rupa yang muncul/lahir 23 Oktober 1938 di salah satu sekolah dasar Jakarta di Gang Kaji. Kemunculan PERSAGI dilatarbelakangi kemajuan upaya pencarian identitas diri dan penumbuhan semangat kebangsaan yang marak pada masa-masa tersebut, yang di bidang politik didorong oleh upaya pencapaian kemerdekaan. Didukung oleh makin kuatnya aspirasi dan asas kebangsaan yang tumbuh semakin kokoh di bidang pendidikan. Di sisi lain, para seni rupawan tidak mau ketinggalan dengan para mitranya di bidang sastra, yang bercita-cita mendobrak konvensi lama dan beku untuk melahirkan corak yang baru. Anggota PERSAGI dapat disebutkan Agoes Djaja (merangkap Ketua), S. Sudjojono (pernah jadi Sekretaris), L. Setijoso Rameli, Abdulsalam, S. Sudiardjo, Saptaria Latif, H. Hutagalung, S. Tutur, Sindusisworo, TB Ateng Rusyian, Syuaib Sastradiwilja, Sukirno dan Suromo. Tujuan perjuangan PERSAGI adalah mengembangkan seni lukis di kalangan bangsa Indonesia dengan mencari corak Indonesia Baru. Maksudnya untuk mendapat bentuk, interpretasi mengenai lingkungan dan alam lain, sehingga corak seni lukis Indonesia tidak membebek saja yang dating dari Barat. Metode belajar yang ditempuh selain melukis bersama juga menyelenggarakan diskusi, ceramah, pameran dan memperbincangkan masalah seni global sampai ke Indonesia.
PERSAGI menyelenggarakan pameran pertama kali sekitar tahun 1938 di took buku Kolfi, Jakarta. Setelah sebelumnya ditolak oleh pengurus yayasan saat mengajukan proposal ke Bataviaseche Kuntkrings. Menurut sekretarisnya, J de Loos Haakman, permintaan PERSAGI ditolak karena prasangka kaum pribumi hanya cocok menjadi petani. Ternyata kemudian, pameran di Kolfi tersebut mengejutkan para kritikus seni dan para pelukis Belanda, antara lain Henry van Velihusyen yang mengakui kualitas gambar para anggota PERSAGI. Barulah kemudian pada pameran kedua, PERSAGI dapat diselenggarakan di  Kuntkrings pada akhir tahun 1938. Usia PERSAGI memang pendek, karena dengan masuknya Jepang pada bulan Maret semua organ perjuangan bangsa dibubarkan dan digabung dalam POETERA (Poesat Tenaga Rakyat). Namun aspirasi nasionalisme PERSAGI yang selalu didengungkan oleh tokoh terpentingnya , S. Sudjojono makin tersisa hingga kapan pun, bahwa karya seniman harus jujur, karya-karya seninya ibarat ‘cap jempol” yang tertinggal di pintu. Lukisan ibarat jiwa ketok (bahasa Jawa) yang manusia secara pribadi harus kelihatan di atas kanvas. Tidak boleh menjiplak dan menjadi duplikat orang lain. ***

0 komentar:

Posting Komentar