Kamis, 07 Juni 2012

Prasasti Tugu


Prasasti Tugu berasal dari pertengahan abad ke-5 M dengan menggunakan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Prasasti ini dipahatkan pada batu berbentuk bulat telur berukuran sekitar 1 meter.
Dalam prasasti ini, terdapat pahatan hiasan tongkat yang ada pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.
Prasasti ini ditemukan di tepi sungai Cakung, daerah Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Informasi sejarah yang terdapat di dalam Prasasti Tugu paling lengkap dan panjang apabila dibandingkan dengan prasasti-prasasti Tarumanegara yang lain.
Prasasti Tugu dikeluarkan pada era pemerintahan Purnawamman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa atau selesai dibangunnya penggalian Sungai Candrabaga dan Sungai Gomati. Penggalian tersebut dimaksudkan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang acap terjadi pada masa pemerintahan Purnawarmman, dan kekeringan yang kerap terjadi pada musim kemarau.

Petikan prasasti tersebut antara lain menyebutkan sebagai berikut:
"Sebelum Candrabhaga (Kali Bekasi) digali oleh raja diraja, sang Guru yang bertangan kuat, setelah sampai di kota terkenal, masuk ke laut. Pada tahun ke-22 tahtanya yang semakin makmur, Purnawarmman - yang bersinar karena kemakmuran dan kebaikannya serta yang menjadi panji raja-raja manusia - menggali Sungai Gomati yang indah dan bersinar dan berisi air bersih, panjang 6.122 tombak digali dalam 21 hari, dimulai pada paruh gelap hari ke-8 bulan Phalguna dan selesai pada paruh terang hari ke-13 bulan Caitra. Sungai itu melintasi tanah kediaman Sang Kakek dan Penasihat Kerajaan, kini mengalir setelah didoakan oleh para pendeta dengan persembahan seribu ekor sapi." ***

0 komentar:

Posting Komentar