Sabtu, 07 Juli 2012

Museum Nasional

Awal berdirinya Museum Nasional diawali dengan berdirinya himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightment), di mana orang mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Tahun 1752 di Haarlem, Belanda berdiri de Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (perkumpulan ilmiah Belanda) yang mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis yaitu Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG).


Salah seorang pendiri BG adalah JCM Radermacher yang menyumbangkan rumahnya dan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna. Sumbangan Radermacher ini merupakan cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan. Dengan adanya koleksi yang semakin bertambah menyebabkan Pemerintah Belanda membangun museum di lokasi sekarang ini yang telah dibuka secara resmi sejak tahun 1868.


Museum Nasional yang terletak di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia dengan sebutan ‘Gedung Gajah’ atau ‘Museum Gajah’ karena di halaman depan museum terdapat patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang berkunjung ke museum tahun 1871.


Koleksi Museum Nasional

Museum Nasional memiliki lebih dari 140.000 koleksi yang terdiri dari koleksi prasejarah, arkeologi, keramik asing, numismatic/heraldik, kolonial, etnografi dan geografi. Sebagian besar koleksi dikumpulkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda yang diperoleh melalui ekspedisi militer, ekspedisi ilmiah, hadiah, zending dan pembelian.


Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga.
Sebelum gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27, Jakarta Pusat  didirikan, koleksi Museum Gajah termasuk naskah-naskah manuskrip  kuno. Naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Gajah kini disimpan di Perpustakaan Nasional.
Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.


Koleksi yang menarik adalah Patung Bhairawa patung yang tertinggi di Museum Nasional dengan tinggi 414 cm ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi. Patung ini berupa laki-laki berdiri diatas mayat dan deretan tengkorak serta memegang cangkir dari tengkorak di tangan kiri dan keris pendek dengan gaya Arab ditangan kanannya, ditemukan di Padang Roco, Sumatera Barat. Diperkirakan patung ini berasal dari abad ke 13-14. Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam ruang perunggu dalam kotak kaca tersendiri, berbeda nasibnya dengan arca Buddha, arca Hindu tertua di Nusantara, yaitu Wisnu Cibuaya (sekitar 4M) terletak di ruang arca batu tanpa teks label dan terhalang oleh arca Ganesha dari candi Banon.


Ruang Pameran

Ruang pameran di Museum Nasional terdiri dari dua bagian yaitu ruang pameran di Gedung Gajah yang masih mempertahankan sistem penataan pada masa Kolonial, sementara di Gedung Arca yang merupakan gedung baru dengan sistem penataan yang tematik untuk memperlihatkan kehidupan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
Ruang pameran di Gedung Arca terdiri dari empat lantai. Lantai 1 dipamerkan manusia dan lingkungan, lantai 2 dipamerkan ilmu pengetahuan dan ekonomi, lantai 3 dipamerkan organisasi sosial dan pola pemukiman, dan lantai 4 dipamerkan koleksi emas serta keramik asing. *** [040712]

0 komentar:

Posting Komentar