Rabu, 18 Juli 2012

“Nenek moyangku orang pelaut”, bukan semboyan kosong

Pelaut Nusantara sudah melakukan perdagangan global sejak Alaf Pertama Tarikh Umum. Dengan kapal sederhana mereka menyeberangi samudera membawa rempah-rempah sampai Asia Barat, Madagaskar, bahkan pesisi timur Afrika. “Perahu-perahu itu tidak digerakkan oleh layar, tetapi oleh semangat dan keberanian,” ujar kagum Plinius, sejarawan Romawi. Pelayaran-pelayaran ini juga disebut dalam sumber kuno seperti Kitab Yunani Petunjuk Pelaut ke Lautan Erythrea (Samudera Hindia).
Perniagaan Nusantara yang maju pesat menumbuhkan sentra-sentra pembuatan kapal tradisional yang tersebar dari barat sampai ke timur. Model kapal yang dibuat berjumlah ratusan dengan keistimewaan masing-masing. Sayangnya, perniagaan Nusantara surut setelah masa kolonialisme. ***


                                                                                                                                              

0 komentar:

Posting Komentar