Jumat, 10 Agustus 2012

Kerajaan Mataram

Pada abad ke-16, sebelum Belanda menjajah Hindia Belanda, Nusantara terdiri atas beberapa kerajaan yang saling bersaing yang pada waktu tidak bersamaan menguasai Pulau Jawa. Kerajaan Jawa yang besar dan terakhir, dikenal dengan nama Mataram II, didirikan pada tahun 1587 oleh Panembahan Senopati. Pada puncak kejayaannya, pengaruh kerajaan ini tidak saja tersebar ke luar Jawa, tetapi sampai ke daerah yang sekarang bernama Malaysia.
Pada zaman pemerintahan Raja Amangkurat II, Kerajaan Mataram, yang pada mulanya terletak di Kota Gede, di pinggiran yang sekarang bernama Kota Yogyakarta, berpindah tempat beberapa kali antara tahun 1587 dan 1680. Raja Amangkurat II inilah yang mendirikan kraton di Kartasura, dekat kota yang sekarang bernama Surakarta (Solo). Pada zaman pemerintahan raja ini hubungan antara kraton dan pemerintahan kolonial Belanda membantu pangeran saingannya untuk dijadikan raja baru yang bergelar Sunan Paku Buwono I.
Penobatan Paku Buwono I, yang disusul oleh serangkaian perang perebutan kekuasaan akhirnya berkat bantuan Belanda berlanjut dengan dinobatkannya cucu Paku Buwono I menjadi Paku Buwono II. Daerah Paku Buwono II di Kartasura kemudian diserang oleh saingannya raja dari Pulau Madura, sebuah pulau yang terletak di sebelah pantai timur Laut Jawa. Sebagai balasan atas bantuan yang diberikan oleh Belanda dalam menahan serangan ini, Paku Buwono II dipaksa memberikan bagian penting dari wilayah kekuasaannya kepada pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, pada tahun 1745, Paku Buwono II pindah dan membangun istana baru di Surakarta, yang bernama Surakarta Hadiningrat, kraton utama di Solo.

Perpecahan di Kerajaan Mataram
Perebutan kekuasaan di dinasti Mataram terjadi lagi, kali ini, antara Paku Buwono II dan saudara tirinya, Pangeran Mangkubumi. Ketika Paku Buwono II digantikan oleh putranya, Paku Buwono III. Mangkubumi juga mengangkat dirinya sebagai raja dan mendirikan pemerintahan tandingan di Yogyakarta. Karena kekuasaan Pangeran Mangkubumi bertambah besar, Belanda turun tangan menengahi pertikaian itu dengan jalan mengadakan Perjanjian Giyanti. Isinya, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kasunanan Surakarta di bawah pimpinan Paku Buwono III dan Kesultanan Yogyakarta di bawah Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I. Perjanjian Giyanti ditandatangani oleh kedua raja ini pada tahun 1755 dan pada tahun yang sama konstruksi kraton utama Yogyakarta, Ngayogyakarta Hadiningrat, dibangun oleh Hamengku Buwono I.
Pemberontakan kasunanan di Surakarta masih belum berakhir. Raden Mas Said, seorang pangeran lainnya yang merasa tidak puas, memisahkan diri dari kraton dan atas restu Sunan mendirikan kerajaan yang merdeka di Surakarta. Dengan gelar Mangkunegoro I, Raden Mas Said menjadi pemimpin kerajaan kedua di Surakarta dan pada tahun 1757 ia membangun istananya sendiri bernama Pura Mangkunegaran.
Perpecahan terakhir pada kerajaan Mataram terjadi dalam tahun 1813, yaitu pada masa pemerintahan Inggris di Hindia Belanda, yang hanya berlangsung selama empat tahun. Seperti apa yang telah dilakukan Belanda, Gubernur Inggris Thomas Stamford Rafles memanfaatkan pertikaian politik lainnya, yang kali ini terjadi di Kraton Yogyakarta, dengan cara mendukung berdirinya kerajaan lain yang merdeka di dalam kerajaan Yogyakarta. Pangeran Natakusuma, paman Hamengku Buwono III yang berkuasa, pada waktu itu, dinyatakan sebagai kepala pemerintahan baru, yang berpusat di istana yang dibangun pada tahun 1813, yang letaknya hanya beberapa kilometer dari Kraton Yogyakarta. Pangeran Natakusuma memakai gelar Paku Alam I dan kratonnya dinamakan Pura Pakualaman.

Pusat alam semesta
Masyarakat Jawa percaya bahwa kekuasaan para pemimpin dinasti Jawa merupakan anugerah dari Tuhan. Raja dianggap sebagai pemimpin spiritual, politik dan social di kalangan masyarakat Jawa, sedangkan kraton sebagai pusat simbolik dan fisik alam semesta. Kehidupan setiap orang Jawa, dari kalangan petani sampai kalangan bangsawan aristocrat, diatur dan diawasi oleh hak istimewa raja. Sejak didirikannya istana Yogyakarta dan Surakarta, masyarakat Jawa secara keseluruhan dianggap sebagai perluasan lingkungan kraton.
Keempat kraton tersebut mempunyai bentuk ciri arsitektur yang sama seperti yang tampak pada Pendopo, Dalem, Keputren, Kesatrian, yang semuanya menjadi Dalem kraton. Di sekeliling Taman Dalem dibangun kantor, kandang kuda, tempat tinggal para abdi dalem, bengkel kerja, dan pemukiman para bangsawan yang kurang dikenal beserta keluarga mereka. Seluruh kompleks ini dikelilingi oleh dinding tembok yang kokoh bagaikan benteng yang melindungi kedua kraton utama, yang jika dilihat dari dalam seperti “kota tertutup”.

Pelindung Kesenian dan Kebudayaan
Pada saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, kesultanan Jawa menyerahkan kekuasaan politiknya kepada pemerintah republic di Jakarta. Tanggung jawab dan beban mempertahankan keamanan dilepaskan, agar dapat lebih memusatkan perhatian kepada kekayaan dan kehidupan di dalam kraton, yaitu berupa masyarakat dan benda-benda kraton yang ditata secara estestis guna pengembangan seni dan upacara kerajaan. Para seniman dan pengrajin yang secara tradisional mendapat pengayoman dari kraton diberi kedudukan yang lebih terhormat, sedangkan seni wayang, tari, musik, sastra dan kerajinan tangan tradisional diperhalus dan diperindah. Dalam batas tembok masing-masing masyarakat Jawa keempat kraton ini mengembangkan ciri khas tersendiri, misalnya yang terlihat pada perbedaan busana, gaya pertunjukan, benda seni artifisial, upacara-upacara kerajaan yang terperinci.

Masa Kini
Walaupun kekuasaan dalam bidang politik berkurang, pengaruh kraton dalam tradisi dan budaya tetap kuat dan berlangsung sampai sekarang. Pulau Jawa adalah pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia dan kebudayaan historis merupakan kebudayaan yang paling berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia. Sampai sekarang pun dalam lubuk sanubari masyarakat Indonesia tradisi kraton tetap dihormati. Warga yang sekarang tinggal di keempat kraton itu merupakan turunan langsung dari Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram. Di alam lingkungan tembok kraton ketaatan ritual dan upacara kerajaan tetap dilaksanakan untuk menghormati kebiasaan dan tata cara tradisi Jawa yang terus hidup berabad-abad lamanya. ***

Sumber:
Buku Kratons of Java. Funds for this publication were made available through the American Express Foundation’s philanthropic program.



0 komentar:

Posting Komentar