Thursday, September 6, 2012

Taman Sriwedari

Menurut sejarah sebelum dibangun Taman Sriwedari, daerah di sekitar tempat itu dikenal sebagai Desa Talawangi, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kadipolo, di mana batas utara adalah Jalan Besar  Purwosari (sekarang Jalan Slamet Riyadi), sebelah barat berbatasan dengan Jalan Mangunjayan (sekarang Jalan Bayangkara), batas sebelah timur adalah Jalan Pasar Kembang (sekarang Jalan Honggowongso), dan sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Besar Baron (sekarang Jalan Dr. Rajiman). Jalan Dr. Rajiman merupakan jalan tertua yang ada di Kota Solo sebelum dibangun Jalan Slamet Riyadi. Jalan tersebut dibuat ketika akan dilakukan pindahan Kraton Kartasura ke kraton yang baru di Desa Sala (Solo).
Di sebelah utara jalan besar depan Sriwedari terdapat Desa Gumuk, dulu di daerah ini banyak gunduk-gundukan yang lama kelamaan menjadi gumukan maka dari itu daerah ini dinamakan Kampung Gumuk.


Sedangkan desa di sebelah barat Gumuk adalah Gentan, akan tetapi setelah di daerah tersebut berdiri Dalem (rumah) Pangeran Mangkubumi, daerah tersebut dikenal sebagai Kampung Mangkubumen hingga kini.
Sebelah selatan Gumuk pinggir jalan besar, tepatnya di depan Taman Sriwedari, kala itu terdapat pohon Benda yang begitu rindang, yang begitu nyaman untuk berteduh di kala musim kemarau. Daerah itu lalu dikenal dengan nama Benda, yang menjadi halte trem yang dari Sangkrah menuju Purwosari. Dulu trem tersebut dari Purwosari menuju ke timur sampai Gladag, lalu belok ke utara melewati Benteng Vastenburg lalu Pasar Gede ke utara menuju Stasiun Jebres. Namun ketika Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV bertahta, jalur trem tersebut dipindah dari Purwosari ke timur hingga Sangkrah lalu ke timur lagi terus ke selatan hingga Baturetno melintasi Sukoharjo, Nguter dan Wonogiri.


Pada saat pindahan kraton dari Kartasura menuju Solo (Surakarta) pada tahun 1745, di Solo masih banyak tanah yang luas dan lebar. Namun setelah memasuki zamannya Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono X (1839-1939) sudah ramai. Sedangkan yang menjalankan pemerintahan kala itu adalah Pepatihdalem Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV. Sang Patih yang bertanggung jawab menjalankan roda pemerintahan memikirkan kemajuan serta keuntungan bagi pemerintah, maka memerintahkan menggarap tanah Talawangi yang sampai bertahun-tahun masih menjadi lahan luas yang belum didayagunakan. Tanah Talawangi ini sudah dikenal para abdidalem supranatural di Kraton Kartasura bahwa tanah Talawangi yang dianggapa angker tersebut pantas menjadi milik raja. Setelah dibersihkan lalu dibuatlah taman, yang diberi nama Taman Sriwedari. Banyak orang yang menyebut Kebon Rojo atau Kebun miliknya raja.
Pembuatan Taman Sriwedari tersebut menghabiskan biaya ribuan gulden, lantaran di dalamnya dipelihara binatang hasil buruan yang beraneka warna digolong-golongkan berdasarkan jenisnya. Begitu juga tanamannya yang berwarna-warni dengan keindahan tanaman bunganya.
Adapun bentuk tanah yang ditempati Taman Sriwedari berbentuk persegi panjang yang membujur dari barat ke timur. Yang sebelah barat dulu berbentuk taman, yang sekarang telah berubah menjadi Stadion R. Maladi (Stadion Sriwedari). Di sebelah barat daya, dibuat Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan sebelum dipindah ke Kentingan. Bagian tengah menjadi taman hiburan, yang terdiri dari gedung wayang orang (1911), bioskop (sekarang menjadi Gedung Kesenian Solo) maupun Taman Hiburan Rakyat (THR). Di sebelah timur dari utara ke selatan, ada Museum Radyapustaka, telaga buatan yang diberi nama segaran (dalam bahasa Jawa berarti lautan). Di tengah segaran terdapat punthuk seperti gumuk membentuk pulau , yang diberi bangunan panggung yang ditembok melingkar dengan dihiasi kaca yang berwarna-warni dan diberi ukira-ukiran. Bangunan tersebut dinamakan Panti Pangaksi. Di sekitar panggung tadi dihiasi dengan arca-arca yang terbuat dari batu andesit, sehingga tampak asri dan menyenangkan. Bagian bawah panggung dibuat seperti gua, yang diberi nama “Guwa Swara”, berasal dari kata guwa dan swara yang berarti “Gua Suara”. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan perangkat gamelan keraton, yakni Gamelan Satiswaran. Penyediaan ruangan Guwa Swara dilakukan untuk memastikan bahwa gamelan selalu siap saat diperlukan, misalnya untuk mengiringi suatu perayaan. Di sepanjang paruh abad ke-20 M, khususnya selama masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X, diadakan acara perayaan besar di Sriwedari pada setiap peringatan ulang tahun Susuhunan.
Sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi Malam Selikuran. Dalam bahasa Jawa, Malam Selikuran berarti malam ke-21 pada bulan Ramadhan. Pada setiap malam yang sering disebut juga sebagai malam Lailatul Qadar ini, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan warga Solo menggelar tradisi berupa Kirab Seribu Tumpeng. Kirab ini dimulai dari pelataran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan berakhir di Taman Sriwedari. Seribu tumpeng yang diarak tersebut kemudian diperebutkan oleh warga di Taman Sriwedari karena dipercaya mengandung berkah. Inilah yang disebut Malam Selikuran dan tradisi ini masih dijalankan hingga sekarang. Tradisi Malam Selikuran diyakini sudah muncul sejak zaman para wali, kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Demak, Mataram, Kartasura, hingga kemudian Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Di sebelah timur Stadion Sriwedari atau bekas Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan, dulunya adalah kebun binatang, yang terdiri dari aneka satwa. Sri Susuhunan Pakubuwono X menambah koleksi di Taman Sriwedari dengan memelihara berbagai jenis hewan di lingkungan taman. Di sisi sebelah selatan, ada banyak rusa yang ditempatkan tidak jauh dari bangunan paviliun yang nyaman. Sebagian dari paviliun tersebut dibangun dengan konsep terbuka dan bertingkat untuk tempat istirahat sekaligus refreshing. Selain itu, di sisi utara, terdapat sejumlah kandang untuk memelihara beberapa jenis hewan liar, termasuk buaya dan kura-kura. Tak jauh dari situ, masih terdapat sejumlah kandang lainnya yang digunakan untuk menampung binatang-binatang buas, seperti harimau dan macan kumbang. Di sisi selatannya lagi, terdapat kandang monyet, siamang, dan orangutan. Ada juga kandang untuk gajah dan berbagai jenis unggas, seperti ayam liar dan ayam emas. Namun, sekarang kebun binatang tersebut telah dipindah ke Taman Satwa Taru Jurug.
Peresmian Taman Sriwedari dilakukan dengan meriah. Siang diadakan sedekah dari PB X yang dijadikan rebutan bagi pengunjung. Malam harinya di putar film (bioskop)  dan wayang orang dengan diselingi kembang api. Peresmian tersebut memang dilakukan dengan besar-besaran dengan mengundang perwakilan dari bangsa lain.
Peresmian Taman Sriwedari diberi sinengkalan “Luwih Katon Estining Wong”, tahun Dal 1831 atau tahun 1899. ***

Kepustakaan:
  • R.M. Sajid, 1984, Babad Sala, Solo: Rekso Pustoko

0 comments:

Post a Comment