Rabu, 24 Oktober 2012

Pemberdayaan Kota Lama

Perlu waktu lama untuk menemukan kembali koleksi buku terbitan tahun 1933 tentang sejarah kota Semarang. Membuka buku itu, saya merasa seperti napak tilas ke kawasan Kota Lama, yang pada masa lalu sebagian orang menyebutnya Outstadt.
Arsitek UNDIP Murtomo B Adji dalam Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman: Arsitektur Kolonial Kota Lama Semarang (2008) menyebutkan luas kawasan itu terpisah dari blok di sekitarnya, seperti “kota” tersendiri sehingga ada yang menyebut Little Netherland.
Hingga saat ini masyarakat masih bisa melihat sisa kebesaran kawasan itu. Sejumlah bangunan kuno yang pada masa Hindia Belanda difungsikan sebagai perkantoran masih berdiri kokoh. Ada yang terpelihara dengan baik semisal Gereja Immanuel (Gereja Blenduk), termasuk yang direfungsikan seperti kantor Bank Mandiri dan PT. Asuransi Jiwasraya.
Karena itu, saya mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kota Lama, baru-baru ini (SM, 05/10/12), yang bertujuan antara lain melestarikan sekaligus memberdayakan kawasan itu. Festival juga terkait dengan penyambutan Visit Jateng 2013.
Upaya itu perlu kita acungi jempol mengingat ada pihak swasta berpartisipasi. Artikel saya di harian ini edisi 20 November 2007 juga menyebutkan, “Kota Lama harus kita manfaatkan untuk tempat penyelenggaraan festival, seni budaya, atau tempat lomba masakan dan jajanan khas Semarang.”
Membaca buku sejarah kota ini dan pemberitaan Festival Kota Lama, membuat saya merasa perlu mengingatkan arti penting mengonservasi kawasan itu, yang memiliki nilai kesejarahan tinggi dan keunikan, berbeda dari landmark kota besar lain di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri kehadiran Kota Lama tidak terlepas dari sejarah pembentukan kota ini. Gedung-gedung di Kota Lama dibangun di satu kompleks atau blok yang memang didesain untuk sentra perdagangan bangsa Belanda, China, dan pribumi. Di antara gedung-gedung itu, ada Hotel Jansen, yang kini sudah rata dengan tanah.

Kota Perdagangan
Perjalanan sejarah Semarang sebagaimana ditulis Liem Thian Joe (Riwayat Semarang, 2004) menyebutkan sejak abad 18 – 19 kota ini sudah menjadi kota perdagangan. Ia juga menulis pada 1896 kota ini sudah memiliki sarana dan prasaran perhubungan angkutan laut, serta informasi dan komunikasi.
Tentu fasilitas atau perangkat yang tersedia sangat minim dan sederhana, seperti sepeda dan gerobak untuk mengangkut hasil bumi gudang ke pelabuhan. Tahun 1863, Semarang bahkan sudah menerbitkan lembaran iklan Semarangsch Nieuws en Advertentieblad, media untuk mempromosikan perdagangan.
Dalam perkembangannya, lembaran iklan itu berganti format menjadi surat kabar, dengan nama de Locomotief.
Kawasan Kota Lama dibelah oleh jalan besar, Heerenstraat (kini Jalan Letjen Soeprapto), dan seorang tokoh Belanda Sneevliet menamai itu Benedenstat (Kota Bawah). Penamaan itu untuk membedakan penyebutan daerah Candi sebagai Kota Baru atau Kota Atas.
Heerenstraat merupakan embrio pusat perdagangan, dengan perusahaan yang menonjol antara lain Mirandolle Voute & Co (bisnis utama gula) dan Kian Gwan (kongsi milik Oei Tjie Sien, pengekspor hasil bumi).
Pada masanya perusahaan itu sangat terkenal dan tahun 1905 mulai menjalankan usahanya dari perkantoran di Kota Lama.
Pemangku kebijakan juga perlu menata lalu lintas di kawasan itu, termasuk lalu lintas ke tempat rekreasi lain di kota ini. Penataan arus lalu lintas sekaligus untuk menciptakan kenyamanan dan menjaga gedung-gedung tua itu dari getaran yang ditimbulkan kendaraan berat yang melintas di dekatnya.
Selain itu, perlu membuat brosur terkait Kota Lama, yang bisa dititipkan di rumah makan, hotel, stasiun, terminal, bandara, dan pelabuhan, yang menjadi akses masuk wisatawan.
Upaya itu untuk melengkapi promosi melalui internet. Pemkot harus lebih serius membenahi Kota Lama supaya bisa dipasarkan melalui kegiatan lokal, regional, ataupun internasional. *** [R. Haryanto, warga Semarang]

Sumber:           
  • SUARA MERDEKA edisi Seni, 22 Oktober 2012.

0 komentar:

Posting Komentar