Senin, 03 Desember 2012

Sejarah Diabetes Mellitus

Seperti dikutip dari situs News Medical, istilah diabetes diciptakan Aretaeus, seorang filsuf dari Kapadokia, Yunani. Istilah ini berasal dari kata Yunani “diabainein”, yang berarti berjalan atau berdiri dengan kaki terbelah. Dari sinilah konon asal mula penggunaan “diabetes” sebagai nama untuk penyakit yang melibatkan pembuangan urine berlebihan. Kata diabetes pertama yang tercatat dalam bahasa Inggris dalam bentuk diabete, dalam sebuah teks medis yang ditulis sekitar tahun 1425.
Pada tahun 1675, seorang dokter dari Inggris bernama Thomas Willis menambahkan kata mellitus, dari bahasa Latin yang berarti madu, sebuah referensi untuk rasa manis dari urine. Rasa manis ini diketahui setelah melihat urine orang Yunani kuno, China, Mesir, India, dan Persia yang disukai semut. Matius Dobson pada tahun 1776 mengungkapkan bahwa rasa manis itu disebabkan kelebihan gula dalam urine dan darah penderita diabetes.
Penyakit diabetes mellitus dipandang sebagai hukuman mati di zaman kuno. Bahkan, filsuf Hippocrates memilih untuk tidak menyebutkan penyakit itu. Bisa jadi hal ini dilatarbelakangi Hippocrates merasa penyakit itu tak dapat disembuhkan. Aretaeus tidak berusaha untuk mengobatinya, tetapi tidak bisa memberikan prognosis yang baik. Ia hanya berkomentar bahwa hidup (dengan diabetes) pendek, menjijikkan, dan menyakitkan.
Apabila diuraikan lagi, sejarah perjalanan penyakit yang juga disebut kencing manis ini masih sangat panjang. Jelasnya, mereka yang punya riwayat keturunan menderita diabetes, yang disebut diabetisi, berpontensi besar mewarisi penyakit ini.
Umumnya, gejala diabetes baru terdeteksi di atas usia 40. Namun, bukan berarti mereka yang tak memiliki riwayat keturunan takkan terkena penyakit ini. Bukan berarti pula orang muda tak akan terkena penyakit ini. Selain faktor genetic, penyebab penyakit ini adalah perubahan gaya hidup, kebiasaan makan yang buruk, perubahan komposisi tubuh, adanya penyakit penyerta, usia lanjut, dan pemakaian obat-obatan rutin. ***

Sumber:
  • KOMPAS edisi Jumat, 30 November 2012 hal. 12

0 komentar:

Posting Komentar