Rabu, 19 Desember 2012

Tari Tor-Tor

Tari Tor-Tor merupakan salah satu jenis tari khas suku Batak, yang aslinya bernama Manortor. Menurut sejarah, tari Tor-Tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Selanjutnya roh yang dipanggil akan masuk ke dalam patung-patung batu yang merupakan simbol dari para leluhur. Sesuai kepercayaan mereka, patung tersebut kemudian bergerak layaknya orang sedang menari. Gerakannya cenderung kaku seperti kaki yang berjinjit-jinjit dan gerakan tangan lainnya.
Sedangkan jika dilihat dari jenisnya, tari Tor-Tor dikenal beberapa macam. Ada yang dinamakan Tor-Tor Pangurason atau tari pembersihan. Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
Selanjutnya ada tari Tor-Tor Sipitu Cawan atau tari tujuh cawan. Tari ini biasa dilakukan ketika menyambut sebuah acara besar yakni saat pengukuhan seorang raja. Tarian ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak Gunung Pusuk Buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung atau pisau tujuh sarung.
Terakhir, ada Tor-Tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tarian ini dimainkan oleh para dukun dengan tujuan agar mendapatkan jalan keluar untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah yang menimpa mereka. Karena tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
Dalam perkembangannya, tujuan tari ini mengalami perubahan. Dulu, tarian ini dilakukan untuk seremoni saat orang tua atau ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Tapi kini tarian Tor-Tor biasanya hanya dilakukan ketika menyambut para wisatawan yang datang berkunjung.

Beragam Makna Gerakan
Tarian ini tidak boleh dilakukan dengan sembarang gerakan. Para penarinya mesti mengikuti sejumlah aturan yang ada. Misalnya, ada pantangan di mana penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas. Jika itu dilakukan, maka artinya sang penari dianggap siap menantang siapapun, baik dalam ilmu perdukunan, ilmu bela diri maupun ilmu tenaga dalam lainnya.
Secara garis besar, ada empat gerakan dalam tari Tor-Tor. Pertama, adalah Pangurdot, yaitu gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu. Kedua, gerakan Pangeal, merupakan gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu.
Selanjutnya, adalah Pandegal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya. Dan terakhir gerakan keempat adalah Siangkupna, yaitu menggerakkan bagian leher. Sementara itu, ulos atau kain khas suku Batak harus digunakan bagi para penari Tor-Tor.
Menariknya, keindahan tari Tor-Tor akan tampak jika si penarinya memiliki perasaan terhadap tujuan dari tariannya itu. Misalnya si penari melakukan tarian untuk orang tua yang meninggal. Akan tampak tarian tersebut memiliki ‘roh’ dan dapat menggetarkan siapa saja yang melihatnya.
Tarian Tor-Tor juga akan tampak indah, jika si penarinya benar-benar tulus memberikan ucapan selamat datang dan rasa hormat kepada para tamu yang datang dalam sebuah perhelatan atau penyambutan wisatawan. ***

Sumber:
  • Merpati Archipelago Inflight Magazine Edisi 19 Desember 2012 hal. 20-21

0 komentar:

Posting Komentar