Senin, 29 Juli 2013

Masjid Raya Al Mashun

Lokasi masjid bersejarah ini berdekatan dengan Istana Deli, di Kecamatan Medan Maimun, Medan. Masjid Raya Al Mashun mulai dibangun pada 21 Agustus 1906, selesai dan dibuka untuk umum pada 10 September 1909. Saat itu, yang berkuasa di Kesultanan Deli adalah Sultan Mamun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX. Seluruh biaya pembangunan masjid, yang diperkirakan mencapai satu juta gulden, ditanggung sendiri oleh Sultan. Namun konon,  Tjong A Fie, salah satu tokoh paling berpengaruh di Medan, yang juga terkenal dengan kekayaan, kedermawanan, dan akulturasinya juga punya kontribusi mendukung pembangunan masjid ini.
Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun dirancang oleh arsitek Belanda Van Erp, yang juga merancang Istana Maimun. Namun kemudian prosesnya dikerjakan JA Tingdeman. Van Erp dipanggil ke Pulau Jawa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk ikut merestorasi Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Untuk mengerjakan masjid tersebut, Tingdeman mengimpor beberapa bahan bangunan seperti marmer untuk dekorasi dari Italia dan Jerman, kaca patri dari China, serta lampu gantung dari Perancis.
Masjid ini merupakan masjid kerajaan, oleh sebab itu dibangun sangat megah. Ketika itu, Sultan berprinsip, kemegahan masjid lebih utama daripada istananya sendiri. Ada tiga sebutan populer untuk masjid ini, yaitu Masjid al Mashun, Masjid Deli, dan Masjid Agung Medan. Salah satu kelebihan masjid ini adalah bentuknya yang masih asli, belum mengalami perubahan.
Bangunan masjid terbagi menjadi tiga, yaitu ruang utama, tempat wudhu, dan gerbang masuk. Ruang utama digunakan sebagai tempat shalat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat beranda yang menempel dan menjorok keluar. Di depan setiap beranda terdapat tangga. Pada beranda depan yang terletak di timur, terdapat plengkung majemuk, seperti yang terdapat di masjid-masjid Andalusia.


Sisi kiri (selatan-timur) dan kanan (utara-timur) ruang shalat utama dikelilingi oleh gang. Gang ini mempunyai deretan bukaan (jendela tak berdaun) lengkung yang berdiri di atas balok, bukan kolom. Bentuk denah segi delapan pada ruang utama diperlihatkan dengan kolom-kolom berbentuk silindris pada setiap titik sudut marmer. Kolom-kolom tersebut menyangga plengkung yang bentuk dan hiasannya bercorak Moorish dan Arabesque. Di atas plengkung tersebut, terdapat tambour (dinding tumpuan kubah) utama. Kubah utama terbesar mengatapi bagian tengah di depan mihrab dan mimbar. Bentuk kubah itu mengikuti model Turki, dengan bentuk patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikelilingi oleh kubah-kubah berbentuk sama, tetapi berukuran lebih kecil.
Pada bagian depan di sebelah timur, terdapat gerbang. Keberadaan gerbang ini memperkuat arah posisi kiblat. Diduga desain ini mendapat pengaruh dari arsitektur masjid-masjid kuno di India, Arab dan Mesir. Dalam posisi terpisah, terdapat gerbang utama dengan arsitektur India, terpisah dari ruang utama. Bentuknya berupa bujur sangkar beratap datar. Pada sisi kanan (utara-timur) masjid terdapat minaret dengan bentuk yang unik, dengan dengan bujur sangkar yang menyangga bagian atasnya yang berbentuk silindris. Hiasan badan minaret merupakan campuran model Mesir, Iran dan Arab. Pengaruh Gotik juga terdapat pada masjid ini, antara lain tampak pada bagian atas jendela yang berambang patah. Mihrabnya yang indah, terbuat dari marmer dan diatapi oleh kubah runcing.
Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau, seluruh ornamen di dalam masjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan kaya dengan hiasan bunga dan tetumbuhan.  *** [051111]

Kepustakaan:
Nur Asiah, 2009, Seri Ensiklopedia Ilmu Pengetahuan Sosial Peninggalan Bersejarah Indonesia, Jakarta: PT Mediantara Semesta
LIONMAG The Inflight Magazine of Lion Air Edisi Juli 2013

0 komentar:

Posting Komentar