Selasa, 08 April 2014

Gereja Katedral Santa Maria Tak Bernoda Asal

Pada masa sebelum munculnya perkebunan di Sumatera Utara, Kota Medan berada di bawah Padang. Namun sejak munculnya industri perkebunan di Sumatera Utara atau tepatnya Sumatera Timur, pertumbuhan Kota Medan mengalami peningkatan yang cukup drastis. Medan muncul sebagai pusat kegiatan ekonomi, administrasi pemerintahan, politik dan kebudayaan. Medan sebagai pusat kegiatan ekonomi perkebunan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi kaum pendatang untuk mengadu nasib. Akibatnya berbagai macam kelompok etnik di antaranya Karo, Toba, Mandailing, Minangkabau, Aceh, Tionghoa, Jawa, India, Eropa, dan lain-lain  menjadi penghuni Kota Medan bersama-sama dengan etnik asli orang Melayu.
Medan, kala itu, adalah sebuah kota dengan penduduk yang dianggap sebagai Nusantara mini pada era kolonial Belanda. Multikulturalisme menjadi warna tersendiri bagi Kota Medan dengan kemajemukan sosio kultural. Komunitas yang telah hadir menjadi bagian dalam perkembangan kebudayaan di Medan, tidak hanya pada tataran hubungan sosial saja namun melingkupi juga pada tataran keagamaan. Karena, masing-masing etnik yang bermukim di Medan tentunya akan membawa keyakinan masing-masing, dan sekaligus ingin diimplementasikan.


Puluhan orang yang mayoritas terdiri dari orang India Tamil maupun Belanda penganut Katolik guna melaksanakan aspek keagamaannya membutuhkan tempat beribadah, maka pada tahun 1879 dibangunlah gereja yang cukup sederhana, yaitu berupa sebuah gubuk beratap daun rumbia dan ijuk.
Seiring bertambahnya jumlah umat yang pada tahun 1884 sudah berjumlah 193 orang, maka sejak tahun itu sudah dipikirkan bagaimana memperbaiki dan memperbesar gubuk beratap daun rumbia dan ijuk tersebut. Barulah pada tahun 1905, ketika umat Katolik sudah berjumlah 1.200 orang, pembangunan gereja yang sekarang ini mulai dilaksanakan.  Pembangunan gereja pada tahun 1905 tersebut diprakarsai dan dilaksanakan oleh para Pastor Ordo Jesuit yang bekerja di Medan. Gereja Katedral ini pada waktu itu dibangun dengan dinding batu, beratap seng dan sebagian masih beratap daun rumbia dan ijuk serta diresmikan pada bulan November tahun itu juga.
Pada 30 januari 1928, gereja mengalami perluasan sekitar 6 meter dengan menambah bagian panti imam, ruang pengakuan dosa serta dengan pelataran depan dan menara. Perluasan dan pembangunan permanen tersebut dirancang oleh arsitek kelahiran Den Haag, Belanda, yang bernama Johannes Martinus (Han) Groenewegen dan dilaksanakan oleh Langereis & Co, sebuah biro arsitek tertua di Sumatera Timur yang didirikan pada Agustus 1890 oleh GD Langereis.
Hasil dari rancangan arsitek dan pelaksanakan tersebut, gereja ini masih bisa disaksikan hingga sekarang. Gereja ini terletak di Jalan Pemuda No. 1 Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi gereja ini berada di depan BTN Cabang Medan atau di sebelah selatan Bank Mandiri Cabang Kesawan.
Gereja berlanggam kolonial Belanda ekspresionisme ini dikenal dengan Gereja Katedral Santa Maria Tak Bernoda Asal, seusai dengan tulisan besar yang berada di depan gereja menghadap ke Jalan Pemuda. Selain itu, gereja ini merupakan  salah satu bangunan tua bersejarah dan bernilai arsitek yang tinggi di kota Medan ini. *** [140314]

Kepustakaan:
Suprayitno, 2005, Medan Sebagai Kota Pembauran Sosio Kultur Di Sumatera Utara Pada Masa Kolonial Belanda, dalam Historisme Edisi Khusus (Lustrum) No. 21/Tahun X/Agustus 2005
http://en.wikipedia.org/wiki/Medan_Cathedral
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.303102133042873.87784.156341177718970&type=1
http://parokikatedralmedan.com/tentanggereja.php

0 komentar:

Posting Komentar