Rabu, 09 April 2014

GPIB Immanuel Medan

Semenjak Sumatera Timur dibuka perkebunan oleh pemerintah Hindia Belanda, Medan menjadi kota yang multietnis lantaran banyaknya sejumlah suku yang ada di Nusantara maupun Mancanegara kala itu berdatangan untuk mengadu nasibnya di tanah-tanah perkebunan tersebut.
Dari berbagai etnis yang ada, maka muncullah keberagamaan dari bentuk fisik, sistem religi, hukum, arsitektur, makanan dan keseniannya.
Namun dari sekian keberagaman tersebut, yang paling terlihat keunikan dan keberagamannya adalah dari segi arsitektur. Hal itu dapat diamati dari tempat ibadah yang tersebar di seluruh Kota Medan. Salah satunya adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel.
Gereja ini terletak di Jalan Dipnegoro No. 25 – 27 Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi bangunan gereja berada di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara.
GPIB Immanuel merupakan bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI). Teori gereja ini didasarkan pada ajaran reformasi dari Yohanes Calvin, seorang reformator Perancis yang belakangan pindah ke Jenewa dan memimpin gereja di sana.
Dalam memenuhi salah satu semboyannya dalam menjadikan Nusantara sebagai daerah koloni, yaitu glory melalui penyebaran agama, pemerintah Hindia Belanda yang berada di Nusantara meminta kepada Kerajaan Belanda untuk mengirimkan sejumlah pendeta ke Nusantara. Selain pekabaran Injil, pengutusan ini juga untuk memelihara kerohanian para saudagar, pegawai, dan militer Belanda. Lalu, timbullah ide untuk membangunan sebuah gereja di seluruh Nusantara, termasuk Medan.


Pada 21 Oktober 1921 dilakukan pembangunan sebuah gereja di Medan dengan menempati sebuah lahan kebun tembakau. Setelah selesai, gereja tersebut dikenal dengan Indische Kerk atau Staatskerk. Bangunan ini menjadi tempat peribadatan bagi komunitas Belanda yang asli dari Negeri Belanda maupun keturunan Belanda yang ada di Medan yang dulunya berasal dari Ambon dan sekitarnya (kini dikenal dengan istilah Indonesia Bagian Timur). Maka, kala itu oleh masyarakat setempat, gereja ini dikenal dengan nama “Gereja Ambon”.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gereja ini sempat digunakan sebagai gudang perlengkapan bagi pasukannya. Namun, ketika Indonesia sudah merdeka, gereja ini dikembalikan fungsinya menjadi rumah peribadatan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Medan kala itu.
Pada tahun 1959, Pemko Medan akhirnya menyerahkan bangunan gereja tersebut kepada GPIB, dan sejak itu gereja ini pun beralih nama menjadi GPIB Immanuel hingga sekarang.
GPIB Immanuel ini merupakan gereja tertua yang berada di Kota Medan. Arsitektur bangunannya yang bergaya renaissance masih dipertahankan. Desain interior yang masih dipenuhi material dengan gaya klasik masih menghiasi di dalam bangunan gereja tersebut, seperti altar, mimbar khotbah, kursi jemaat maupu gantungan lampu pada langit-langit.
Selain itu, gereja ini memiliki kubah di bagian menaranya yang membedakan desainnya dengan gereja-gereja lain di Medan. Di bagian menara yang menjulang sekitar 20 meter ini dipasang jam dan sebuah lonceng buatan Belanda tahun 1922. Pada masa itu, kalau jarum jam menunjukkan jam dua belas siang, bandul pada lonceng tersebut akan langsung berdentang secara otomatis dan sekaligus memecah keheningan Kota Medan hingga sejauh 3 kilometer.
Bangunan gereja yang mampu menampung 300 jemaat ini, masih mempesona bagi siapapun yang melintas di lokasi tersebut. Bangunan tua yang sarat akan nilai historis ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang senantiasa harus dijaga kelestariannya, serta juga menjadi salah satu tujuan dari wisata religi yang memamerkan bangunan bersejarahnya dengan sebutan Gereja Lama. *** [140314]

Kepustakaan:
Nora Asteria, Bing Bedjo Tanudjaja dan Baskoro Suryo, Perancangan Buku Wisata Arsitektur Bangunan Religi Sebagai Aset Kota Medan, dalam hasil laporan penelitian di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra, Surabaya
http://www.gpib.org/tentang-gpib/

0 komentar:

Posting Komentar