Senin, 14 April 2014

Dulu Gudang Tembakau, Kini Sentra Mesin Jahit dan Mesin Obras

Di mana tepatnya bangunan tiga toko berarsitektur China nan megah dan legendaries yang kini menjadi nama jalan, yaitu Jalan Toko Tiga, di Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat? Lalu, di mana toko tembakau merangkap rumah milik Letnan Oey Thay, ayah Oey Tambahsia? Tambahsia dikenal sebagai Casanova China di Batavia di awal abad ke-19.
Lokasi ketiga toko itu tepatnya di Jalan Toko Tiga nomor 28-30, dan 32. Namun, kini jejak kemegahan ketiga bangunan itu sudah sirna. Aroma wangi tembakau pun tak tercium lagi seperti pada tahun 1830-an.
Kala itu, di tepian jalan ini berderet toko dan gudang tembakau terbaik dari seluruh Nusantara, terutama tembakau asal Temanggung, Jawa Tengah. Namun, menurut Anton Wisnu Sudewo (64), pemilik salah satu toko mesin jahit dan mesin obras terbesar di Jalan Toko Tiga, sejak awal 1970-an, kawasan ini berubah menjadi deretan toko mesin jahit dan mesin obras yang memanjang sampai di Jalan Perniagaan Raya (dulu bernama Jalan Pa Tek Kwan).

Lebih dua juta gulden
Tentang Oey Thay, awalnya dia adalah pedagang tembakau asal Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, berdagang tembakau sangat menguntungkan sebab hampir seluruh penduduk Nusantara, termasuk para penghuni Batavia, menyirih dengan tembakau.
Satu dari empat anaknya kemudian menikah dengan putri seorang bupati Pekalongan. Posisi Oey Thay sebagai pengusaha tembakau pun kian kuat. Apalagi, setealah ia ditunjuk pemerintah Hindia Belanda sebagai letnan bagi orang-orang Tionghoa. Kala itu, posisi letnan merupakan pembantu kapitan yang memimpin setiap kampung etnis.
Ketika Oey Thay meninggal, ia mewariskan harta senilai lebih dari dua juta gulden. Harta sebanyak itu disebut-sebut bisa menghidupi sampai keturunannya yang ketujuh. Tapi, belum lagi sampai ke keturunannya yang kedua, salah seorang putranya, Oey Tambahsia, nyaris menghabiskannya.
Sejak remaja, seperti ditulis dalam buku Batavia 1740 (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010), Tambahsia yang berparas tampan itu sudah dekat dengan kehidupan malam, pesta, perempuan, candu, dan kereta-kereta kuda. Hidupnya berakhir di tiang gantungan setelah dinyatakan terlibat pembunuhan terhadap seorang perempuan.

Era Butterfly
Meredupnya usaha konglomerat Oey di Toko Tiga membuat banyak deretan toko dan gudang tembakau tutup. Di tengah kelesuan bisnis, mulai bermunculan usaha jasa menjahit yang diiringi tumbuhnya toko-toko mesin jahit.
Ketika itulah, pada 1978 Anton yang kala itu berusia 23 tahun membuka toko mesin jahit setelah beberapa tahun bekerja di usaha impor mesin jahit keluarga besarnya.
Awalnya, setiap bulan ia hanya mampu menjual 20 mesin jahit “kaki” merek Butterfly buatan Shanghai, Tiongkok, dengan harga setiap mesin Rp 12.500. Tapi, saat booming tahun 1995, tokonya mampu menjual 1.000 unit dengan harga setiap mesin, Rp 200.000.
“Kala itu, pesanan sampai dua kali lipat, tapi toko saya hanya mampu memenuhi permintaan separuh. Itu sudah maksimal karena toko saya baru tutup pukul 24.00,” ucap Anton.
Booming Butterfly itu menandai bangkitnya usaha konfeksi di Tanah Air, terutama Jakarta. Jasa menjahit yang awalnya hanya bermunculan di sekitar Toko Tiga berubah menjadi jasa konfeksi yang meluas sampai hampir ke seluruh Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, hingga kini.
Pada 1997 kembali terjadi booming industri garmen. Industri konfeksi terdesak, sementara industri garmen meluas dari Jakarta sampai Tangerang.
“Kami pun menjadi importer mesin jahit dan mesin obras berkomputer untuk melayani industri garmen yang tiga tahun terakhir ini sudah pindah ke Jawa Tengah,” ungkap Anton.
Usaha tokonya menyuplai mesin jahit dan mesin obras ke lingkungan usaha konfeksi, antara lain di kawasan Kecamatan Tambora, ia hentikan.
Toko-toko mesin jahit dan mesin obras di kawasan Toko Tiga pun tumbuh menjamur mengambil alih pelanggan Obor dengan melayani kebutuhan para pemilik usaha konfeksi.
Menurut pantaun pada Rabu (19/3), belasan toko mesin jahit, mesin obras, toko penjual suku cadang, dan bengkel tampak sibuk melayani puluhan pelanggan.
Salah seorang pengusaha garmen di Kecamatan Tambora, Yupiter, yang dihubungi terpisah mengamini kisah Anton. Kini, sejumlah pengusaha di Tambora sudah beralih ke industri garmen, sementara sebagian lain masih di area usaha konfeksi.
Yupiter menambahkan, toko mesin jahit, mesin obras, suku cadang, dan bengkel yang ada di Toko Tiga kini lebih banyak melayani pelanggan di luar lingkungan Tambora.
“Dulu memang iya, tapi sekarang usaha konfeksi dan industri garmen Tambora, toko, dan bengkel juga menjamur lebih banyak di Jalan Jembatan Lima, Jembatan Besi, Jalan Kerendang, dan Jalan Persima. Lokasinya memang tidak populer karena lebih banyak melayani pelanggan Tambora,” ujar Yupiter. (WINDORO ADI)

Sumber: KOMPAS Edisi 20 Maret 2014 hal. 27

0 komentar:

Posting Komentar