Selasa, 13 Mei 2014

GPIB Jemaat Immanuel Depok

Berdasarkan catatan historis yang ada, Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel Depok merupakan kelanjutan dari Jemaat Masehi Depok yang ditetapkan sejak tanggal 28 Juni 1714, dan baru dilembagakan menjadi GPIB Jemaat Immanuel pada tanggal 7 Desember 1955 menjadi Jemaat ke-58 di jajaran Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat.
Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 April 1956, terjadi pengalihan aset berupa tanah dan gedung gereja dari Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) kepada Majelsi Sinode GPIB pada tanggal 24 April 1956.
Gereja ini terletak di Jalan Pemuda No. 70  RT.02 RW.08 Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, atau tepatnya berada di sebelah barat Gedung YLCC. Lokasi ini merupakan kawasan Kota Depok Lama.
Menurut Yano Jonathans dalam bukunya, Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe (2011), Gereja ini dibangun beberapa tahun setelah kedatangan Cornelis Chastelein, seorang keturunan Belanda berdarah ningrat Perancis, dan para budaknya – yang kelak dimerdekakan dalam kristiani – di Depok. Sebelumnya, mereka melakukan ibadah di sebuah kapel berukuran 23 x 8 meter di Batavia, yang telah didirikan terlebih dulu oleh Cornelis Chastelein di dekat purinya di Jalan Kenanga Pasar Senen. Konon, sekalipun harus berjalan selama kurang lebih 14 jam pulang pergi ke Weltevreden di Batavia untuk beribadah di sana, para pekerja di Depok melakukannya dengan penuh kesetiaan.


Pada mulanya, gereja di Depok ini dibangun secara sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Namun, akibat pelapukan yang terjadi, pada tahun 1715 dan 1792 gereja itu direnovasi. Pada tahun 1834, sebuah gempa besar yang terjadi meruntuhkan seluruh bangunan sehingga akhirnya gereja itu didirikan kembali dari batu. Banyak orang beranggapan bahwa pembangunannya kembali baru dilakukan 15 tahun setelah selesainya pembangunan Gereja Willemskerk di Batavia. Itu berarti gereja Depok baru dibangun kembali pada tahun 1854, suatu masa jeda yang cukup panjang.
Dalam perkembangan gereja tersebut tidak ditemukan satu catatan atau prasasti pun mengenai adanya peletakkan batu pertama pembangunan gereja yang sudah dilakukan berulang kali itu, selain prasasti marmer yang dibuat tahun 1892. Prasasti ini merupakan peninggalan peringatan terhadap Cornelis Chastelein sejak ditemukannya kembali naskah surat wasiatnya.
Pada tahun 1980, seiring dengan bertambahnya jumlah anggota jemaat, gereja ini mengalami pemugaran kembali untuk kesekian kalinya, memperlebar sayap kiri bangunan. Pemugaran besar-besaran atas gereja ini dilakukan pada tahun 1998, yang mengubah sebagian besar struktur keaslian bangunan utama. Jendela-jendela mengalami perubahan, bentuk kanopi gereja yang khas diubah, batas dinding di sayap kiri dan kanan diperlebar sehingga menyatu dengan bangunan utama dan hanya menyisakan sedikit untuk jalan keluar masuk. Bagian dalam gereja pun secara keseluruhan mendapat sentuhan-sentuhan arsitektur modern. Akibatnya, ciri keaslian bangunan lama sudah tidak terlihat lagi.
Akan tetapi, bangunan gereja ini setidak-tidaknya telah menunjukkan kepada masyarakat Depok bahwa di kawasan tersebut telah terjadi dinamika dalam kehidupan masyarakatnya. *** [060514]

2 komentar:

  1. banyak kenangan di gereja ini dari tahun 1978-1991. dari tempat sekolah minggu dan Katekisasi

    BalasHapus
  2. banyak kenangan di gereja ini dari tahun 1978-1991. dari tempat sekolah minggu dan Katekisasi

    BalasHapus