Jumat, 10 Juli 2015

Stasiun Kereta Api Delanggu

Stasiun Kereta Api Delanggu (DL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Delanggu, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 133 m di atas permukaan lain.
Stasiun Delanggu terletak di Jalan Stasiun, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Pasar Delanggu yang berjarak sekitar 400 m.
Keberadaan jalur kereta api dari Surakarta menuju Yogyakarta tidak terlepas dari jasa Kolonel JHR Van Der Wijk, seorang petinggi Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Menurut Kolonel JHR Van Der Wijk, kereta api merupakan salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah pengangkutan dan akan sangat menguntungkan dalam bidang pertahanan. Ide awal yang ia rencanakan adalah pembangunan jalur kereta api Batavia-Surabaya melalui Yogyakarta dan Surakarta. Pemerintah Hindia Belanda menerima ide itu, tetapi jalur yang dibangun malah menghubungkan Semarang dan Yogyakarta. Hal ini tak terlepas dari eksistensi Surakarta dan Yogyakarta sebagai Vorstenlanden.


Daerah Vorstenlanden secara harafiah berarti “wilayah-wilayah kerajaan”. Sebutan ini dalam konetks sejarah Nusantara dipakai untuk menyebut wilayah yang sekarang menjadi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta dan wilayah Surakarta. Kedua daerah ini merupakan wilayah kekuasaan empat kerajaan (catur sagatra) yang menjadi penerus dinasti Mataram. Dua kerajaan ada di Karesidenan Yogyakarta, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Sedangkan, dua kerajaan lainnya berada di Karesidenan Surakarta, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pura Mangkunegaran.
Pada waktu itu, daerah Vorstenlanden terkenal sebagai penghasil tebu (gula) dan tembakau cerutu. Delanggu sebagai salah satu daerah di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta kala itu, pada 1871 memiliki luas perkebunan tebu mencapai 404 bau dengan hasil produksinya 16.183 pikul. Selain Delanggu yang ditanami tanaman ekspor (tebu/gula), beberapa kecamatan lain di Klaten juga mendukung ekspor, misalnya saja Kecamatan Wedi, Kecamatan Gondangwinangun, dan Kecamatan Ceper. Kecamatan Wedi merupakan wilayah penghasil tembakau utama di Klaten pada masa Hindia Belanda. Pada 1858, tembakau dari Klaten diekspor ke pasar internasional untuk pertamakalinya oleh Pemerintah Hindia Belanda.


Melihat potensi Klaten pada saat itu, selesai dibangunnya jalur kereta api yang menghubungkan Surakarta dan Yogyakarta pada 10 Juni 1872 yang merupakan hasil perpanjangan jalur Kemijen-Tanggung (Semarang) yang selesai terlebih dahulu, Pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun lima stasiun di Kabupaten Klaten, di antaranya Prambanan, Srowot, Klaten, Ceper, dan Delanggu.
Menurut catatan sejarah yang ada, Stasiun Delanggu dibangun NV. Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1884. Stasiun yang pada masa Hindia Belanda dikenal dengan Het Spoorweg Station van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij in Delanggoe ini, digunakan sebagai tempat pengangkutan hasil komoditas yang ada di daerah Delanggu, sehingga mempermudah arus distribusi barang hasil produksi maupun perkebunan dari ataupun ke Delanggu.
Seperti pada umumnya bangunan stasiun kereta api yang terdapat di Jawa, Stasiun Delanggu memiliki bagian-bagian yang membentuk fungsi stasiun, yaitu: halaman depan (front area), bangunan stasiun, peron dan emplasemen. Handinoto (1999: 51) menjelaskan, melihat fungsinya yang seragam maka banyak bangunan stasiun kereta api di Jawa dirancang dengan prototype yang sama menurut tingkat besar kecilnya stasiun tersebut.
Kini, Stasiun Delanggu masih berfungsi sebagai stasiun pada umumnya, yaitu sebagai tempat kereta api berhenti untuk menurunkan penumpang (manusia dan barang), sebagai tempat kereta api berangkat untuk mengangkut penumpang (manusia dan barang), dan sebagai tempat kereta api bersilang (menyusul atau disusul) yang memiliki 4 jalur kereta api. Hanya saja kereta api yang mengangkut penumpang dari stasiun ini merupakan kereta api kelas ekonomi saja, seperti: Sri Tanjung.
Melihat latar belakang historisnya, bangunan Stasiun Delanggu ini layak untuk menjadi bangunan cagar budaya (BCB) milik PT. KAI (Persero) yang dilindungi oleh Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [010515]

0 komentar:

Posting Komentar