Rabu, 05 Agustus 2015

Gedung Kimia Farma Jakarta

Menyusuri Jalan Budi Utomo memang seperti melakukan perjalanan tempo doeloe. Kawasan tersebut, dulunya dikenal dengan Weltevreden. Weltevreden didirikan, sebagai perluasan Batavia pada waktu. Sehingga, di kawasan Weltevreden ini juga meninggalkan jejak berupa bangunan kuno peninggalan Hindia Belanda yang berada di kawasan ini. Salah satunya adalah Gedung Kimia Farma.
Gedung ini terletak di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah kanan gedung Kementerian Keuangan, atau sebelah barat SMK 1 Jakarta.
Dulu, Jalan Budi Utomo dikenal dengan nama Jalan Freemasonry, atau yang dalam bahasa Belanda disebut Vrijmetselaarweg. Dinamakan Jalan Freemasonry, karena di sepanjang jalan tersebut ada Loji Freemasonry pertama di Asia yang dibangun di Batavia (kini Jakarta). Loji tersebut dinamakan Loji La Choisie atau Loji “Kaum yang Terpilih”.
Gedung ini dibangun pada tahun 1761 oleh Petrus Albertus van der Parra atas prakarsa Jacob Cornelis Matthieu (JCM) Radermacher yang pada waktu masih berusia 20 tahun. Orang ini sangat berperan penting dalam gerakan persaudaraan Freemasonry di Batavia dan juga Asia.


Setelah jadi, gedung tersebut digunakan sebagai pusat gerakan Freemansory, atau tempat perkumpulan kaum theosofi De Ster in het Oosten atau Bintang Timur. Makanya di sejumlah literatur berbahasa Belanda, gedung tersebut kerap ditulis dengan nama Logegebouw De Ster in het Oosten (Bangunan Loji Bintang Timur). Perkumpulan tersebut merupakan underbow zionisme sejak abad ke-18 di Hindia Belanda. Dahulu, di sebelah loji ini terdapat perumahan para perwira dan petinggi Hindia Belanda.
Di dalam bangunan loji tersebut, para anggotanya sering melakukan aktivitas ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita pikiran tertinggi manusia. Bahkan, beberapa aktivitasnya di dalam loji adalah memanggil arwah-arwah atau jin dan setan. Karena itu, gedung tersebut sering disebut oleh masyarakat Betawi sebagai rumah atau gedung setan, karena memang di tempat itu mereka dulu menyembah roh-roh dan setan.
Gedung tersebut kemudian dirombak pada tahun 1848 menjadi megah seperti sekarang ini. Teras depan dengan deretan kolom gaya Doric menjadikan gedung tersebut memiliki ciri khas arsitektur gaya Indische Empire. Gaya arsitektur seperti ini berkembang di Hindia Belanda, pada awalnya mencoba meniru arsitektur Eropa pada pertengahan abad ke-18  dengan datangnya Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daendels adalah bekas perwira tentara Louis Napoleon dari Perancis. Pada waktu itu, di Perancis timbul aliran arsitektur Neoklasik.
Dandels mengubah beberapa bangunan yang sudah berdiri maupun yang akan dibangun di Hindia Belanda pada waktu itu, dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.
Seiring dengan perjalanan sejarah, gedung tempat Loji La Choisie ini pada tahun 1917 dipakai sebagai kantor N.V. Chemicalien Handle Rathkamp & Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi eks perusahaan-perusahaan Belanda, di tahun 1958 pemerintah RI melebur sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF Bhinneka Kimia Farma. Selanjutnya pada 16 Agustus 1971 bentuk hukumnya diubah jadi Perseroan Terbatas menjadi PT. Kimia Farma (Persero). Perubahan inilah yang menyebabkan gedung loji tersebut menjadi Gedung Kimia Farma seperti sekarang ini. *** [071212]

Kepustakaan:
Handinoto, 1994. “Indische Empire Style”: Gaya Arsitektur “Tempo Doeloe” yang Sekarang Sudah Mulai Punah, dalam DIMENSI 20/Ars Desember 1994
http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/batavia-loji-mason-pertama-di-asia.htm
http://m.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/04/26/m32p4w-jaringan-zionis-di-rumah-setan

0 komentar:

Posting Komentar