Rabu, 05 Agustus 2015

Gedung Pertamina Perwira

Sehabis shalat Dhuhur di Masjid Istiqal, penulis mencoba menyusuri Jalan Perwira menuju Jalan Medan Merdeka Timur. Di situ terlihat bangunan lawas bermenara dengan dominasi warna putih. Bangunan lawas tersebut jelas mudah dikenali karena di atas menaranya terpasang logo dan tulisan Pertamina. Bangunan tersebut adalah Gedung Pertamina.
Gedung ini terletak di Jalan Perwira No. 2-4 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di barat daya Masjid Istiqlal.
Menurut catatan sejarah yang ada, pada tahun 1907 Shell dan KoninklijkeNederlandsche Petroleum Maatschappij membentuk perusahaan patungan yang diberi nama N.V. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) atau Perusahaan Perminyakan Batavia, setelah kedua perusahaan minyak tersebut terlibat persaingat sengit dalam mendapatkan konsensi ladang minyak di Hindia Belanda.


BPM merupakan perusahaan pengolahan perminyakan yang memiliki modal 80 juta gulden termasuk kilang dan pabrik penyulingan. Kemudian BPM berhasil menguasai seluruh produksi dan ekspor perminyakan di Hindia Belanda yang mengukuhkan monopolinya pada tahun 1911 dengan mengambil alih Dordtsche Petroleum. BPM adalah satu-satunya perusahaan perminyakan yang beroperasi di Hindia Belanda yang memiliki 44 konsensi, yaitu 19 di Sumatera, 18 di Jawa, dan 7 di Kalimantan. Keseluruhan produksinya pada tahun 1911 adalah 1.700.000 metrik ton yang terdiri atas 22% produksi Sumatera Utara, 10% dari Jawa Timur, dan 34% asal Kalimantan dan Pulau Tarakan sebesar 4%. Pada masa itu jumlah tersebut adalah 3,7% dari produksi perminyakan dunia. Shell-Koninklijke menjadi penghasil perminyakan tunggal di Hindia Belanda di masa-masa sebelum Perang Dunia I.
Kondisi yang baik ini mendorong BPM untuk mendirikan kantor pusatnya di Hindia Belanda yang berlokasi di Batavia pada tahun 1938. Kantor pusat BPM atau Hoofdgebouw van de Bataafsche Petroleum Maatschappij di Batavia dibangun megah dengan menaranya yang khas berbentuk kubus. Di puncak menaranya terdapat tulisan BPM di empat bidang pada kubus tersebut.
Pada tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan BPM-Shell Indonesia oleh PN Permina (Perusahaan Tambang Minyak Negara) dengan nilai US$110 juta. Lalu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1968 tertanggal 20 Agustus 1968 PN Pertamina dan PN Pertamin dimerger menjadi satu perusahaan bernama PN Pertamina. Sejak 17 September 2003, namanya berubah menjadi PT. Pertamina (Persero) sampai sekarang, dan secara otomatis gedung yang digunakan oleh BPM di Batavia tersebut berubah menjadi milik Pertamina. Puncak kubus dari gedung tersebut pun, logo BPM sekarang menjadi logo Pertamina. *** [071212]

Kepustakaan:
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008. Sejarah Nasional Indonesia V: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, Jakarta: Balai Pustaka
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Perminyakan_di_Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar