Rabu, 26 Agustus 2015

Mengenal Masyarakat Tengger di Sukapura

Pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2015 sebelum peringatan 70 tahun Indonesia Merdeka, penulis berkesempatan mengikuti Pilot Test yang diselenggarakan oleh Regional Economic Development Institute (REDI) bekerjasama dengan EP-Performance Oversight and Monitoring Jakarta dalam Field Survey EOPO 1 Endline Evaluation.
Kesempatan ini menyenangkan sekali bagi penulis karena selain melaksanakan tugas di tempat yang begitu dingin udaranya, juga bisa menyalurkan naluri sosiologisnya untuk mengenal lebih dekat dengan masyarakat setempat di sekitar lokasi pilot test tersebut maupun base camp. Base camp kebetulan berada tidak jauh dengan Kantor Kecamatan maupun Polsek Sukapura, atau tepatnya adalah Hotel Sukapura Permai yang terletak di Jalan Raya Bromo No. 135 Sukapura, Probolinggo. Hotel ini berjarak 18 kilometer ke Gunung Bromo namun memerlukan sedikitnya waktu 40 menit mengingat jalannya terus menanjak dan berkelok-kelok.
Biasanya penulis mengawali keingintahuan mengenal lebih dekat dengan masyarakat di sana, bermula dari pertanyaan etimologi dan epistemologi yang menjadi predikat masyarakat itu sendiri dan terus mengalir dengan sendirinya. Tentunya, proses ini hanya bisa dijalankan ketika penulis telah melakukan tugas wajibnya. Pada saat mencari makan siang atau malam, penulis bisa melempar pertanyaan di warung makan, hotel tempat menginap maupun di tempat lain saat penulis bersantai. Dari informasi yang didapat itulah, penulis bisa melakukan triangulasi dengan penelitian yang lain atau melalui kepustakaan yang ada.



Letak Geografis Sukapura
Kecamatan Sukapura merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Probolinggo yang terletak sekitar 35 kilometer ke arah barat daya dari kantor pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Sukapura mencapai 10.208,53 hektar atau 102,08 kilometer persegi. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Lumbang, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Sumber, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lumajang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.
Dilihat dari topografinya, Kecamatan Sukapura berada di lereng Pegunungan Tengger yang terkenal dengan Gunung Bromonya, dengan ketinggian 600-1.850 meter dari permukaan air laut. Sehingga, semua desa di Kecamatan Sukapura berada pada desa lereng/punggung bukit, dan suhu udara dingin. Tanahnya banyak mengandung mineral yang berasal dari letusan gunung berapi yang berupa pasir batu, lumpur bercampur tanah liat yang berwarna kelabu. Sifat tanah semacam ini memiliki tingkat kesuburan yang baik sehingga sangat cocok untuk menanam sayur-sayuran, seperti kentang, kol, wortel, sawi, tomat, dan sebagainya.
Dari 12 desa yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Sukapura, penulis berkesempatan berkeliling ke Desa Sukapura, Desa Sariwani, dan Desa Ngadisari, yang cukup untuk mengenal masyararakat Tengger secara umum di Sukapura. Karena Kecamatan Sukapura ini merupakan bagian dari wilayah adat suku Tengger bagian timur (Sabrang Wetan), terutama terasa kental di Desa Ngadisari yang berhadapan langsung dengan Gunung Bromo. Sedangkan, wilayah Sabrang Kulon diwakili oleh Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Dalam skala yang lebih luas, sesungguhnya daerah Tengger tidak hanya melingkupi wilayah Sabrang Kulon dan Sabrang Wetan saja melainkan luas daerah Tengger kurang lebih 40 kilometer dari utara ke selatan, 20-30 kilometer dari timur ke barat, di atas ketinggian 1.000 – 3.675 meter. Luas tersebut meliputi empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Tiper permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger, atau masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah Segoro Wedhi, adalah lautan pasir yang sangat luas yang berada pada ketinggian 2.300 meter dengan panjang 5-10 kilometer. Kawah Gunung Bromo dengan ketinggian 2.392 meter, dan masih aktif. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter.




Asal Mula Orang Tengger
Nama Tengger, berdasarkan salah satu legenda masyarakat, berasal dari paduan suku kata terakhir dari nama dua nenek moyang mereka, Rara Anteng dan Jaka Seger (teng dan ger). Rara Anteng dipercaya sebagai putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit, sementara Jaka Seger diyakini sebagai putra seorang brahmana yang bertapa di dataran tinggi Tengger (Legendanya bisa dibaca di sini).
Sehingga, masyarakat Tengger pada umumnya meyakini nenek moyang orang Tengger adalah keturunan Majapahit. Pada waktu itu, Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Kemuduran ini disebabkan dari dalam kerajaan sendiri maupun dari luar kerajaan. Bersamaan itu pula, penyebaran agama Islam di Jawa sedang dilakukan oleh para sunan yang berafiliasi dengan Kerajaan Demak.
Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Demak pada saat itu mengalami ketidakharmonisan. Ketidakharmonisan tersebut menyebabkan penduduk Majapahit memilih untuk melarikan diri ke daerah Bali dan ke pedalaman sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Yang melarikan diri ke Bali, akhirnya melahirkan kebudayaan Bali. Begitu pula, yang memilih tinggal di pedalaman sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru pada akhirnya juga menurunkan orang-orang Tengger yang kita kenal, dan sekaligus membentuk kebudayaannya sendiri yang seolah-olah memisahkan diri dari kebudayaan Majapahit yang sangat India-sentris.
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan Hindu Dharma di Bali maupun Hindu-Siwa di Majapahit. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger lebih ke Hindu Mahayana yang telah bercampur dengan adat istiadat setempat. Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih roh leluhur yang bersemayam di Gunung Bromo sehingga mereka lebih suka memuja Roh Gunung atau persembahan kepada Sang Hyang Gunung Brahma. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo.
Perayaan Kasodo adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14,15, atau 16 bulan Kasodo, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra sulung Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban untuk melindungi orang Tengger dari bencana alam dahsyat.
Gunung Bromo yang dianggap sebagai tempat suci orang Tengger digunakan sebagai persembahan hewan ternak dan hasil bumi pada perayaan Kasodo. Upacara dimulai di Pura Luhur Poten Gunung Bromo, sebuha pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo, dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Persembahan-persembahan tersebut nantinya akan dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.

Kearifan Lokal Orang Tengger
Bentuk-bentuk kerarifan lokal dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Tengger di Sukapura kental akan nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang merupakan bentuk nilai-nilai kearifan lokal, di antaranya adalah tata nilai yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger dalam mengatur tentang etika penilaian baik-buruk serta benar atau salah.
Masyarakat Tengger di Sukapura memiliki ketentuan adat berupa aturan-aturan adat dan hukum adat yang berfungsi sebagai sistem pengendalian sosial dalam masyarakat untuk mencegah timbulnya ketegangan sosial yang terjadi dalam masyarakat, seperti tidak boleh menyakiti atau membunuh binatang kecuali untuk korban atau dimakan, tidak boleh mencuri, tidak boleh melakukan perbuatan jahat, tidak boleh berdusta, dan tidak boleh minum-minuman yang memabukkan.
Sejak zaman Majapahit, dataran tinggi Tengger dikenal sebagai daeraht titileman, yaitu suatu daerah terbebas dari membayar pajak. Mereka telah lama mendiami kawasan Tengger dalam damai dan bahagia. Thomas Stamford Raffles, yang menjadi Letnan Gubernur Jawa ketika Kerajaan Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda, pada 11 September 1815 melaporkan perjalanannya ke beberapa distrik di Jawa bagian timur lewat pidato di depan Masyarakat Seni dan Sains Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Saat berkunjung ke kawasan Tengger, ia dapati masyarakat Tengger hidup dalam damai, tertib, teratur, rajin bekerja, jujur, dan selalu riang-gembira.
Selanjutnya, dalam The History of Java ia menulis, mereka tidak mengenal candu dan judi. Ketika ia tanyakan tentang pencurian, perselingkuhan, perzinahan, atau berbagai kejahatan lainnya, mereka para orang gunung itu menjawab, hal-hal buruk itu tidak ada di Tengger.
Ayu Sutarto, seorang budayawan dan peneliti tradisi dari Universitas Jember yang juga menjabat wakil ketua Masyarakat Peduli Bromo melalui makala yang disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal 7-10 Agustus 2006 silam menyatakan, kejujuran dan ketulusan orang Tengger masih dapat dilihat sampai hari ini. Angka kejahatan di desa-desa Tengger pada umumnya hampir selalu nol. Suasana damai, tenteram, aman, dan penuh toleransi yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger dapat dijadikan acuan dalam periode formatif Indonesia modern. Tengger adalah sebuah pusaka saujana (cultural landscape) yang apabila dibina dan dikelola dengan benar, eksistensinya akan memberi sumbangan yang lebih berarti bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi Indonesia. *** [130815]

Kepustakaan:
Ayu Sutarto, 2006. Sekilas tentang Masyarakat Tengger, dalam Makalah yang disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006
__________ , 2013. Hikayat Wong Tengger: Kisah Peminggiran dan Dominasi, Pentingnya Meningkatan Keberdayaan Masyarakat Tengger untuk Melestarikan Kawasan Konservasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, __________
http://probolinggokab.bps.go.id/data/publikasi/publikasi_79/publikasi/files/search/searchtext.xml

0 komentar:

Posting Komentar