Kamis, 19 November 2015

Gedung Wolu

Sejarah mencatat bahwa Pasuruan pernah menjadi salah satu kota pelabuhan yang terbesar di pantai utara Jawa sepanjang abad ke-19. Sebagai kota pelabuhan tersebut, Pasuruan mempunyai penduduk yang lebih heterogen jika dibandingkan dengan kota-kota yang ada di pedalaman Jawa. Hinterlandnya yang subur membuat Pasuruan sebagai salah satu penghasil gula terbesar di Jawa. Semuanya ini berdampak langsung terhadap orang Tionghoa di Pasuruan yang sebagian besar bergerak sebagai pedagang perantara dan pemilik perkebunan tebu dan pabrik gula, terutama sesudah tahun 1870.
Kemakmuran membuat mereka mampu membangun rumah-rumah mewah dalam skala cukup besar. Pergaulan sehari-hari antara orang-orang setempat dan penguasa Belanda, mengakibatkan timbulnya suatu percampuran kebudayaan yang unik. Semuanya ini tercermin dalam pembangunan rumah tinggal mereka. Salah satu di antaranya adalah Gedung Wolu. Gedung ini terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 58 Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini di sebelah timur Toko Roti Matahari, atau sebelah selatan BCA.
Bangunan Gedung Wolu diperkirakan dibangun pada awal abad ke-20 oleh seorang Kapitein der Chineezen untuk dijadikan sebagai tempat tinggal atau rumah pribadi. Kemudian seiring dengan perjalanan waktu, rumah ini mengalami perubahan fungsi dan kepemilikan. Dari info masyarakat sekitar, dulu pernah ada pemilik rumah ini yang menyukai kuda. Sehingga, rumahnya kerap mendapat julukan sebagai kandang kuda. Lalu oleh pemilik sekarang, yaitu pengusaha yang memiliki dealer motor besar di Padang diubah menjadi gedung pertemuan dan restoran yang diberi nama Gedung Wolu.


Penamaan Gedung Wolu ini berdasarkan nama kawasan yang ada pada masa itu. Dulu, di sebelah barat dari gedung ini terdapat deretan rumah yang memiliki gaya arsitektur yang sama dan jumlahnya ada delapan (delapan dalam bahasa Jawa disebut wolu). Di mulai dari rumah yang ada di sebelah Gedung Wolu hingga sampai rumah yang sekarang menjadi Toko Roti Matahari di ujung baratnya. Masyarakat Pasuruan menyebut kawasan tersebut dengan bahasa dan aksen Jawa sebagai Dong Wolu. Dong berarti gedung, dan Wolu berarti delapan.
Jadi, bila Anda sedang melintas di depan gedung ini, janganlah heran bila tepat di gerbang pintu masuk ke gedung tersebut di belah oleh angka 8 (delapan) dengan ukuran yang lumayan besar. Pengunjung restoran akan masuk ke gedung tersebut dari sebelah kiri, dan keluarnya dari sebelah kanan. Sejenak makan di Depot Gedoeng Wolu (nama resmi dari usaha restoran tersebut), pengunjung akan memenuhi kebutuhan perut secara hakiki dengan sejumlah menu makanan dan minuman yang tersedia, dan sekaligus bisa menikmati pesona dari bangunan lawas dari restoran tersebut.
Dilihat dari fasadnya, bangunan ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire. Semua elemen yang menyusun bagian wajah bangunan memberikan kesan mewah dan megah pada bangunan. Kolom ionic ganda berbahan beton dengan ukuran besar yang terletak berjajar di bagian depan bangunan memberikan kesan kokoh pada bangunan. Pintu-pintu ganda yang terbuat dari kayu jati dengan hiasan yang khas pada bagian atasnya memberikan kesan anggun pada bangunan. Lantai terbuat dari bahan marmer juga menambah kesan mewah dari bangunan Gedung Wolu ini.
Gedung yang dibangun di atas lahan seluas 10.161 m² ini berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pasuruan Nomor 188/496/423.031/2015 tentang Penetapan Cagar Budaya Kota Pasuruan ditetapkan sebagai salah satu dari 20 bangunan atau kawasan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan seusai yang tertera pada Diktum Kesatu. *** [200915]

0 komentar:

Posting Komentar