Selasa, 17 November 2015

Rumah Singa

Usai menyaksikan kemegahan Gedung Yayasan Pendidikan Pancasila, cobalah menyeberang sejenak. Karena tepat dihadapan gedung tersebut ada bangunan tua yang tak kalah pesona heritagenya. Masyarakat sekitar menyebut bangunan tua tersebut dengan sebutan Rumah Singa.
Rumah Singa ini terletak di Jalan Hasanudin No. 11-14 RT.01 RW.04 Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Rumah Singa ini berada di depan Gedung Yayasan Pendidikan Pancasila, atau biasa disebut dengan Gedung Pancasila saja.
Dalam buku Profil Cagar Budaya Kota Pasuruan (2015) disebutkan, bahwa Rumah Singa ini pada awalnya merupakan rumah orang Belanda yang dibangun pada tahun 1825 namun kemudian dibeli oleh Tan Kong Seng, seorang Kapitein der Chineezen pada tahun 1840an. Kemudian pada tahun 1860 dilakukan renovasi dengan mendatangkan lantai marmer dan pagar besi dari Italia.
Pada awal abad ke-20, rumah ini dikenal sebagai rumah keluarga Kwee. Keluarga Kwee bersama keluarga Han dan Tan merupakan salah satu keluarga terkemuka (konglomerat) di Pasuruan yang diberi keistimewaan di bidang perdagangan dan pajak oleh Pemerintah Hindia Belanda. Mereka menguasai perdagangan hasil bumi dan ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengatur tata niaga opium. Bersama keluarga Tionghoa yang lain, keluarga Kwee dan Han mengembangkan industri gula di Pasuruan dan Probolinggo.


Sekarang ini, rumah tersebut menjadi milik Alan Douglas Rudianto Wardhana Zecha dan tetap dijadikan tempat tinggal. Rumah yang memiliki lahan seluas 1 hektar ini memiliki langgam Indische Empire. Hanya kolom-kolomnya sudah tidak memakai bahan bata lagi, tapi diganti dengan besi ulir yang mulai populer pada akhir abad ke-19. Hampir semua bahan bangunan, terutama yang dipergunakan untuk mendirikan rumah yang bagus di Kota Pasuruan didatangkan dari luar negeri kecuali pasir, bata maupun kapur. Hubungan dengan luar negeri cukup lancar bagi Kota Pasuruan pada abad ke-19 karena pelabuhannya digunakan untuk mengekspor hasil perkebunan selama cultuurstelsel sampai akhir abad ke-19.
Gaya arsitektur Indische Empire merupakan gaya arsitektur yang diadopsi dari aliran arsitektur Neoklasik yang berkembang di Perancis pada pertengahn abad ke-18, yang disebut sebagai arsitektur Empire Style. Gaya Empire Style ini dipopulerkan oleh mantan seorang perwira tentara Louis Napoleon dari Perancis, yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36, yaitu Herman Willem Daendels (1808-1811).
Daendels banyak mengubah bangunan yang ada di Hindia Belanda dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat yang berada di Hindia Belanda (Nederlands-Indië).
Pada waktu keluarga Kwee menempati rumah ini, dibuatlah patung singa yang ditempatkan di halaman depan. Hal ini yang menyebabkan rumah ini kemudian dinamakan Rumah Singa, dengan harapan rumah tersebut bisa selalu aman terjaga. Hal ini selaras dengan kepercayaan yang dianut di kalangan orang Tionghoa, bahwa patung singa dianggap sebagai dewa pelindung. Maklum, karena keluarga Kwee kala itu dikenal sebagai pengusaha paling kaya di Kota Pasuruan. *** [200915]

0 komentar:

Posting Komentar