Kamis, 26 November 2015

GPIB Jemaat Immanuel Bangil

Pulang dari Kota Pasuruan untuk kembali ke Surabaya, penulis melintas Kota Bangil yang jalan utamanya penuh sesak dengan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Sebelum melewati jembatan Kedung Larangan yang mengarah alun-alun Bangil, terlihat sebuah gereja yang khas di tepi jalan pantura. Gereja tersebut adalah GPIB Jemaat Immanuel Bangil. Gereja ini terletak di Jalan Jaksa Agung Soeprapto No. 06 Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di sebelah barat Taman Makam Pahlawan (TMP) Bangil.
Sepintas dilihat dari fisik gereja, menandakan bahwa bangunan gereja tersebut merupakan peninggalan kolonial di Hindia Belanda. Sayangnya, penulis rada kesulitan mencari informasi mengenai riwayat gereja ini. Karena pada waktu penulis singgah di gereja tersebut dalam keadaan pagar digembok dan sepi, sehingga informasi yang didapat belumlah maksimal.
Chr. G.F. de Jong dalam sebuah artikelnya Voorloping overzicht van Nederlands kerkelijk erfgoed in Indonesië uit periode 1815-1042, yang diunggah di www.cgfdejong.nl, menerangkan bahwa GPIB Jemaat Immanuel Bangil ini dulunya adalah De Protestantse Kerk in Nederlandsch-Indië, atau yang lebih dikenal dengan Indische Kerk. Namun nama resminya gereja ini pada era Kolonial di Hindia Belanda adalah De Protestanse Kerk Nederlandsch-Indie te Bangil.


Bangunan De Protestanse Kerk te Bangil  ini didirikan pada tahun 1924. Kendati kecil dan tidak memiliki halaman yang cukup, namun kiprah gereja ini mempunyai peranan yang penting dalam mewartakan Injil di Bangil dan sekitarnya. Tak hanya itu saja, gereja ini juga mempunyai kekhasan dalam langgam arsitekturnya. Seperti pada gereja lawas umumnya, gereja ini bergaya aristektur Gothic yang ditandai dengan gevel yang semakin meruncing ke atas, dan diakhiri dengan menara kecil. Pada atap menara gereja ini, terdapat empat dormer yang dulunya berfungsi sebagai salah satu sarana pengumpul angin bagi ruangan di dalam gereja tapi sekarang sudah ditutup dengan kayu.
Seiring adanya dinamika dalam De Protestantse Kerk in Nederlandsch-Indie, yaitu begitu luasnya wilayah pelayanannya maka secara bertahap gereja-gereja tersebut yang berada di Hindia Belanda mulai diberi kemandirian yang lebih besar untuk mengatur pelayanannya sendiri yang dimulai pada tahun 1933 dari wilayah timur. Begitu pula dengan yang ada di wilayah barat, dalam Sidang Sinode De Protestantse Kerk in Nederlandsch-Indie yang diadakan di Buitenzorg (sekarang dikenal dengan Bogor) menyepakati bahwa gereja mandiri keempat akan dibentuk dengan wilayah pelayanan di bagian barat Indonesia. Pada tanggal 31 Oktober 1948, dalam ibadah Minggu Jemaat di Willem Kerk (sekarang Gereja Immanuel Jakarta), dilembagakan gereja mandiri keempat di wilayah Gereja Protestan di Indoensia (GPI) yang tidak terjangkau oleh GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), GPM (Gereja Protestan Maluku) dan GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor), yang pada waktu itu bernama De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat), atau GPIB. Termasuk De Protestantse Kerk in Nederlandsch-Indie te Bangil ini akhirnya berubah menjadi De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie, dan kemudian diberi nama GPIB Jemaat Immanuel Bangil. *** [200915]

0 komentar:

Posting Komentar