Kamis, 14 Januari 2016

Bank Mandiri KCP Medan Balai Kota

Kawasan Lapangan Merdeka (Merdeka Walk) merupakan bagian awal terbentuknya Kota Medan yang diawali sebagai daerah perkebunan Tembakau Deli. Bangunan-bangunan yang ada sampai saat ini merupakan ceritera masa lalu yang bisa diangkat kembali untuk dijadikan identitas kawasan yang diambil dari awal Kota Medan sebagai kota perkebunan dan Kota Medan sebagai kota kolonial dalam perkembangannya. Salah satu bangunan yang sampai saat ini masih terlihat kontinuitasnya dan persistensinya serta memiliki histori yang kuat yang ikut membentuk Lapangan Merdeka sebagai kawasan kolonial saat itu adalah Bank Mandiri KCP Medan Balai Kota. Bank ini terletak di Jalan Balai Kota No. 8-10 Lingkungan VII, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi bank ini berada di simpang Jalan Raden Saleh dan Balai Kota, atau di timur laut Lapangan Merdeka.
Dulu, gedung Bank Mandiri yang berdiri kokoh tepat depan Lapangan Merdeka ini merupakan gedung kantor Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Society (NTS). Gedung ini dibangun pada tahun 1929 dengan menggunakan hasil rancangan seorang arsitek Belanda, J. de Bruyn, yang bekerja pada N.V. Architecten-Ingenieursbureau te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amasterdam.


NHM adalah sebuah perusahaan milik Belanda yang didirikan berdasarkan Besluit No. 163 pada tanggal 29 Maret 1824 atas prakarsa Raja Willem I. Tujuan pendirian NHM adalah untuk menggantikan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) yang bangkrut akibat korupsi yang dilakukan oleh pejabat VOC sendiri. Selain itu, juga bertujuan untuk menghidupkan kembali perekonomian Negeri Belanda yang hancur akibat peperangan dengan negara tetangganya, Belgia. Sejak awal berdirinya, NHM bertugas melakukan perdagangan ke seluruh dunia, yang meliputi Amerika, Asia Kecil, Tiongkok, India, Persia, dan Jazirah Arab. Namun dalam perkembangan selanjutnya, perusahaan NHM lebih memfokuskan ke Hindia Belanda.
Setelah sistem tanam paksa dicabut pada 1870, Factorij NHM Medan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan. NHM melakukan usaha sebagai bank modern dengan menerima dana pihak ketiga dalam bentuk deposito, rekening koran, dan produk jasa lainnya. Ketika Jepang menguasai Hindia Belanda selama 3,5 tahun, berpengaruh juga pada gedung NHM. Pada masa itu, gedung NHM digunakan sebagai kantor Gunseikanbu (staf pemerintah militer pusat) di Medan.
Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan nasionalisasi perusahan-perusahan Belanda, melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan NHM. Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Ekspor Impor. Kemudian pada 31 Desember 1968, NHM berubah menjadi Bank Export Import (Bank Exim). Bersamaan itu pula, gedung NHM pun beralih menjadi gedung Bank Exim, bank pemerintah yang membiaya kegiatan ekspor dan impor.
Pada waktu itu, selain menjadi kantor Bank Exim gedung ini juga digunakan untuk kantor pemasaran bersama PT. Perkebunan Nusantara I sampai IV Cabang Medan. Lalu, pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah, yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Export Import (Bank Exim) dan Bank Pembangunan Indonesia, dilebur menjadi Bank Mandiri di mana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia.
Seiring dengan adanya merger dari empat bank tersebut, maka gedung yang semula didirikan oleh NHM ini pun akhirnya menjadi aset Bank Mandiri. Sehingga, gedung berlanggam Art Deco tersebut menjadi salah satu cabang dari Bank Mandiri yang ada di Kota Medan. *** [130314]

0 komentar:

Posting Komentar