Senin, 18 Januari 2016

Gedung Balai Kota Surabaya

Setiap ada waktu luang, saya biasanya berkeliling atau jalan-jalan di daerah yang saya kunjungi. Hari Sabtu libur kantor, waktu luang terbentang. Dengan memboceng motor milik teman, saya turun di daerah Ketabang. Kali ini yang saya kunjungi adalah Gedung Balai Kota Surabaya. Gedung ini terletak di Jalan Wali Kota Mustajab, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung balai kota ini berada di sebelah utara Gereja Maranatha.
Surabaya sebagai Resort Gemeente secara resmi mulai berdiri pada tanggal 1 April 1906. Sebelumnya Surabaya merupakan bagian dari karesidenan Pemerintah Gemeente yang dijalankan oleh Dewan Gemeente dan diketuai oleh asisten residen sebagai kepala daerah.


Tahun 1916 diangkat Wali Kota Surabaya pertama, A. Meyroos yang bertugas sampai tahun 1921. Pada waktu A. Meyroos menjabat, G. Cosmas Citroen mengajukan desain pertama untuk balai kota karena Surabaya saat itu memang belum mempunyai kantor pemerintahan. Lokasi awal yang dipilih adalah di depan Tugu Pahlawan, tapi karena pada waktu itu terkendala biaya terpaksa hasil rancangan Citroen tidak bisa diwujudkan oleh A. Meyroos.
Baru setelah wali kota yang kedua, G.J. Dijkermann terpilih, rencana membangun gedung balai kota diwujudkan. Namun, rancangan Citroen harus didesai ulang menyesuaikan dengan lokasi tempat dibangunnya gedung balai kota tersebut. Lokasi yang disediakan adalah di daerah Ketabang sehingga desainnya harus memangkas rancangan bangunan yang ada di bagian belakang bangunan utama. Hal ini didasarkan pada pertimbangan kalau dibangun di daerah Ketabang, gedung balai kota tersebut tidak menghadap ke alun-alun (Dulu, Tugu Pahlawan masih berupa alun-alun atau Alun-alun Lor). Sehingga, bangunan utama harus diundurkan agar kesan focal point terlihat.


Gedung utama balai kota di daerah Ketabang itu mulai dibangun pada tahun 1920 dan selesai pada tahun 1925. Pelaksanaan pembangunan fisiknya dilakukan oleh N.V. Hollandsche Beton Maatschappij. Biaya seluruhnya, termasuk perlengkapan dan lain-lainnya, menghabiskan dana sekitar 1.000 gulden. Nama Dijkermann sendiri pernah diabadikan menjadi nama jalan yakni Dijkermannstraat (sekarang adalah Jalan Yos Sudarso, sebuah ruas jalan menuju Balai Kota Surabaya).
Pada bulan Januari 1937, Balai Kota Surabaya menjadi tempat untuk menyambut Ratu Juliana dan pangeran Bernhardfeesten ketika berkunjung ke Surabaya. Semenjak didirikan, gedung yang memiliki panjang 102 m dan lebar 19 m ini memang berfungsi sebagai Balai Kota Surabaya hingga saat ini. Bentuknya tidak berubah, hanya bagian atapnya yang dulu terbuat dari sirap diganti dengan genteng.
Kini, di tangan Tri Rismaharini, wali kota wanita pertama Surabaya, gedung Balai Kota Surabaya menjadi asri. Halaman depan dari gedung balai kota ini, dibuat taman-taman yang menghijau yang tepat di tengah halaman depan terdapat air mancur. *** [090116]

0 komentar:

Posting Komentar