Selasa, 05 Januari 2016

Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Dayu

Sangiran telah menyumbang 50 persen dari temuan fosil Homo erectus di seluruh dunia. Sehingga, Sangiran boleh dikata merupakan ladang penelitian yang hingga kini menuai artefak prasejarah dan puluhan ribu fosil. Satu demi satu fosil masih terus akan ‘muncul’ di Sangiran. Situs purbakala Sangiran memiliki jangkauan yang cukup luas meliputi Krikilan, Dayu, Mbukuran, Ngepung, dan Plupuh.
Sebagai salah satu desa yang menyokong akan koleksi purbakala di Museum Sangiran, Dayu pernah tampil sebagai daerah yang juga banyak dikunjungi oleh arkeolog, baik dari dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1977, di Desa Dayu pernah dibangun sebuah museum yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah situs purbakala atau kawasan cagar budaya Sangiran di bagian sisi selatan dan sekaligus menjadi basecamp para peneliti. Tapi museum tersebut akhirnya dibongkar seiring telah dibangunnya museum baru yang gedungnya terlihat futuristik di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, pada tahun 1983. Semua koleksi temuan dari Desa Dayu diboyong juga ke museum baru tersebut, dan lokasi tempat museum di Dayu dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Masih banyaknya fosil yang acapkali ditemukan di Desa Dayu ini, dan prospek yang bagus bagi kepariwisataan, tercetus ide untuk mendirikan sebuah museum lagi di Desa Dayu. Mewujudkan ide tersebut ternyata tidaklah mudah, berliku dan memerlukan pergulatan pemikiran yang matang. Hal ini dikhawatirkan akan adanya dualisme museum di kawasan purbakala Sangiran.


Akhirnya digelontor dana kurang lebih sekitar 25 miliar dari APBN untuk mendirikan museum di Desa Dayu. Mulai dibangun pada tahun 2013, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. Boediono pada 19 Oktober 2014. Museum ini diberi nama Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Dayu, namun sering disingkat menjadi Museum Dayu saja. Museum ini terletak di Dusun Dayu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi museum ini bisa dijjangkau dari jalan di sebelah selatan Pasar Gondangrejo ke arah timur sekitar 5 kilometer.
Museum Dayu memiliki gedung yang tak kalah menariknya dengan ‘museum induknya’, yaitu Museum Sangiran. Dibangun mengikuti kontur tanah yang berlembah di mana fosil-fosil sering ditemukan. Museum Dayu ini memang berdiri di atas lahan yang khusus dipilih dan dirancang sebagai sajian contoh lapisan tanah dari 4 zaman dalam rentang masa 100 ribu hingga 1,8 juta tahun silam. Bentuk bangunannya pun seperti vila ketimbang museum pada umumnya.
Setiap pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp 5.000,- untuk masuk ke museum ini. Loket berada bagian depan halaman museum. Setelah itu, pengunjung bisa memasuki museum melalui pintu utama yang terbuat dari kaca. Di dalam gedung ini, pengunjung mengisi buku tamu dulu sambil menunjukkan tiket masuk museum kepada petugas. Di sini, pengunjung bisa istirahat dulu di hall yang lumayan luas, atau menyaksikan sejenak ruang pamer dari balkon yang berada di belakang hall tersebut. Perlu diketahui, bahwa antara gedung utama museum dan ruang pamer lokasinya tidak satu gedung.


Tapi kalau rasa penasaran ingin tahunya tak bisa ditahan, pengunjung bisa langsung menuju ke ruang pamer yang ada di belakang gedung utama museum tersebut. Untuk menuju ke ruang pamer yang dimiliki museum ini, pengunjung harus memiliki stamina yang kuat karena harus menuruni sejumlah undakan (anak tangga). Turun dari undakan yang pertama, pengunjung bisa melihat koleksi yang terdapat di Anjungan Notopuro. Di anjungan ini, dipajang fragmen tulang paha gajah purba yang ditemukan oleh Harjo Sutomo pada 9 Oktober di Desa Tanjung, Kecamatan Gondangrejo. Selain itu, terpampang juga banner mengenai Notopuro, dan satu TV yang bila ditekan tombolnya akan berisi kisah mengenai Anjungan Notopuro.
Turun undakan lagi, ada semacam pendopo kecil untuk beristirahat sejenak sambil menghela nafas untuk melanjutkan menuruni undakan berikutnya. Pada saat menuruni undakan tersebut, pengunjung bisa membaca prasasti yang dipasang di lapisan tanah. Lapisan tanah ini merupakan lapisan pasir anggota Formasi Kubah bagian atas dari Kala Plestosen Tengah yang berumur sekitar 350.000 tahun yang lalu. Kemudian, saat belok kiri sambil menuruni undakan ditemukan prasasti lagi yang menerangkan tanah yang ada di situ. Sedimen pasir dengan struktur silang siur merupakan ciri khas endapan Formasi Kabuh. Struktur ini terbentuk oleh arus air (sungai) yang lemah dengan arah aliran yang berubah-ubah. Lapisan ini terendapkan sekitar 400.000 tahun yang lalu.
Setelah itu, pengunjung akan menemukan Anjungan Kabuh. Di anjungan ini hampir sama isinya. Ada banner dan TV serta koleksi fosil. Pada Formasi Kabuh ini, dipajang tengkorak banteng purba yang ditemukan oleh Lasimin, Sukidi, dan Suginem pada 30 Oktober 1996 di Garas, Brangkal, Gemolong.
Turun undakan lagi, bertemulah pengunjung dengan Anjungan Grenzbank. Di anjungan ini juga ada banner dan TV serta fragmen gading gajah purba. Fosil ini ditemukan oleh Purwanto pada 28 Maret 2014 di Glagahombo, Ngebung, Kalijambe, Sragen.
Menuruni undakan lagi, pengunjung sampai pada lokasi di mana terdapat tujuh gazebo yang mengitari arena bermain anak, seperti ayunan, prosotan (papan peluncur), dan lain-lain. Arena ini yang digemari oleh anak-anak saat berkunjung ke museum ini. Di arena ini juga dilengkapi dengan mushola dan toilet serta taman yang asri. Banyak pengunjung yang suka beristirahat di sini.
Setelah meniti tangga, melewati deret anjungan Notopuro, Kabuh dan Grenzbank serta arena bermain anak, bagai menyisir perjalanan waktu surut ke belakang kini pengunjung menjejakkan kaki di kawasan sisa rawa-rawa 1,8 juta tahun silam. Dengan melewati sebuah jembatan, pengunjung bisa masuk ke Ruang Diorama. Di dalam ruangan ini, pengunjung bisa menyaksikan diorama mengenai kehidupan manusia purba kala itu. Terus keluar dari Ruang Diorama di pintu selatan, dijumpailah Ruang Pamer 1. Masuk ruangan ini, pengunjung akan menemukan rangka dari banteng purba, fosil tengkorak manusia purba, dan profil para peneliti manusia purba.
Kemudian dari Ruang Pamer 1 ada undakan menuju ke ruang bawah. Ruang ini berkisah mengenai proses ekskavasi yang dilakukan di lapangan. Setelah itu, pengunjung akan mengakhiri melihat-lihat koleksi yang dimiliki oleh museum ini, dan keluar melalui pintu keluar sambil menyisir tembok belakang Ruang Pamer 1. Di tembok ini, dihiasi dengan sejumlah lukisan dinding perihal kehidupan flora dan fauna pada masa purba dulu. Pada saat ada belokan ke kiri, pengunjung bisa menemukan prasasti lagi yang dipasang di tanah yang diterangkan dalam prasasti tersebut. Lapisan pasir dan pasir krikilan anggota Formasi Kabuh bagian bawah, terendapkan sekitar 700.000 tahun yang lalu. Keberadaan sendimen ini menunjukkan lingkungan situs Sangiran sudah menjadi daratan.
Lalu, pengunjung akan keluar melalui rute yang telah dilalui sebelumnya. Dalam perjalanan keluar tersebut, pengujung masih bisa bertemu dengan satu prasasti lagi yang menenrangkan bahwa horison tipis caliche pada lapisan pasir anggota Formasi Kabuh menunjukkan bahwa sekitar 400.000 tahun yang lalu pernah terjadi iklim yang sangat panas dan kering.
Itulah Museum Dayu yang mencoba mengeksplanasi fosil-fosil yang terdapat di situs Dayu. Situs Dayu adalah satu bab dalam kitab sejarah panjang Sangiran, yang lembarannya terbentang di hadapan kita. Fosil dan kandungan batuannya merekam memori kehidupan flora, fauna, manusia, bahkan iklim belahan bumi kita semenjak purbakala.
Untuk menuju museum ini tidaklah terlalu sulit. Dari terminal Tirtonadi Solo, pengunjung bisa mengambil jalur Solo-Purwodadi. Pada Km 10, atau tepatnya Pasar Gondangrejo, pengunjung bisa melanjutkan dengan ojek. Karena dari Jalan Solo-Purwodadi menuju museum, belum pernah berjumpa dengan angkutan desa yang melewati museum. *** [211215]

0 komentar:

Posting Komentar