Selasa, 09 Februari 2016

Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Setiap melintas Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo, Anda akan terkagum-kagum pada bangunan lawas bercat putih yang menghadap ke selatan. Bagian depan berpagar besi memanjang dengan dua pintu di kiri dan kanan untuk masuk-keluar. Gedung dilengkapi taman yang ditumbuhi rumput hijau sehingga memberi kesan asri.
Bangunan lawas tersebut adalah sebuah kampus dari universitas kenamaan yang berada di Kota Surabaya. Bangunan lawas tersebut adalah Gedung Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair). Gedung FK Unair ini terletak di Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo No. 47 Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung FK ini berada di depan RSUD Dr. Soetomo, atau sebelah timur Rumah Sakit Husada Utama.
Dulu, gedung ini dikenal sebagai gedung Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda. Huib Akihary dalam bukunya, Architectuur & Stedebouw in Indonesie 1870/1970 (De Walburg Pers, Zutphen, 1990) menerangkan, bahwa gedung NIAS ini dirancang oleh Ir. F.L. Wiemans dari Landsgebouwendienst yang pembangunannya dikerjakan dari tahun 1920 dan selesai pada tahun 1921.


Perlu diketahui, NIAS pertama didirikan di Viaductstraat No. 47 dengan nomor telepon Z 623 (sekarang menjadi Jalan Kedungdoro No. 38 Surabaya) pada tanggal 1 Juli 1913. Tujuan didirikan NIAS ini untuk mendidik dokter-dokter yang langsung bekerja untuk melayani kesehatan masyarakat sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 365 Tahun 1913. Kemudian pada tanggal 2 Juli 1923 NIAS pindah ke gedung baru yang berada di Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo No. 47 ini. Sebagai rumah sakit pendidikan, mula-mula digunakan Gavengenis Hospital Simpang kemudian Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ). CBZ yang dikenal juga sebagai Rumah Sakit Simpang yang kini menjadi Surabaya Plaza
Pada waktu Jepang menduduki Hindia Belanda, NIAS yang berada Di Surabaya dan STOVIA yang berada di Batavia ditutup oleh pemerintah Jepang. Lalu, pada tahun 1943 pemerintah Jepang membuka sekolah dokter dengan nama Ika Daigaku Shika.
Setelah kekuasaan Jepang berakhir, sekolah ini kembali mengalami beberapa pergantian nama. Namun sejak Unair berdiri pada tahun 1954 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1954 dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 November 1954, gedung NIAS menjadi Gedung FK Unair sampai sekarang.
Gedung FK yang memiliki luas bangunan 43.309 m² yang berdiri di atas lahan seluas 70.353 m² ini berbentuk simetris segi empat. Pintu masuk utamanya ada 3 buah, besar dan tinggi berbentuk dua pintu bukaan. Di atas pintu utama terdapat 4 jendela yang juga terbuat dari campuran kaca dan kayu, tinggi, besar, memanjang, dan berjajar. Atap bangunannya dibuat susun, dan di sisi kanan-kiri gedung utama terdapat pintu gerbang berbentuk lengkung dari beton untuk masuk-keluar mobil maupun pejalan kaki.
Menurut catatan yang ada di Daftar Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi UU RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.23/PW.007/MKP/2007 tertanggal 26 Maret 2007. *** [300615]

0 komentar:

Posting Komentar