Senin, 22 Februari 2016

Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya

Jalan Kepanjen termasuk kawasan lama yang ada di Kota Surabaya. Dulu, jalan ini dikenal dengan Tempelstraat. Sebagai kawasan lama, banyak deretan bangunan lawas yang terdapat di sekitar jalan tersebut. Deretan bangunan kuno tersebut seakan-akan menjadi saksi bisu akan keberadaan jalan tersebut.
Salah satu bangunan tua yang bisa ditemukan di daerah tersebut adalah Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria. Bentuk bangunannya sangat menarik, unik dan khas. Temboknya batu bata tanpa plester dengan menara kembar yang menjulang. Gereja ini terletak di Jalan Kepanjen No. 4-6 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di belakang SMA Katolik Frateran, dan tidak begitu jauh dengan Kantor Pos Besar Surabaya.
Sejarah keberadaan gereja Katolik ini bermula dari kedatangan dua orang pastor yang bernama Hendrikus Waanders dan Phillipus Wedding dari Belanda dengan tujuan untuk menyebarkan agama Kristen Katolik kepada masyarakat yang ada di Hindia Belanda. Pada 12 Juli 1810, mereka tiba di Surabaya setelah melakukan pelayaran dengan menumpang kapal dari Belanda. Pastor Wedding kemudian ditugaskan ke Batavia, sedangkan Pastor Waanders tetap di Surabaya.


Saat Pastor Waanders tiba, di Surabaya memang belum ada gereja. Pastor Waanders kemudian mendirikan rumah sekaligus kapel (gereja kecil) di Jalan Gatotan. Kegiatan keagamaan dilakukan di kapel tersebut. Pada 10 Maret 1811 Pastor Waanders untuk pertama kalinya membaptis orang di Surabaya. Meski belum ada bangunan gereja, pada 1815 Pastor Waanders mendirikan stasi (wilayah administratif dalam gereja Katolik, yang biasa disebut dengan paroki). Itulah awal perubahan stasi Surabaya menjadi Paroki Kepanjen hingga saat ini.
Gereja Katolik dibangun pertama kali pada tahun 1821 di tikungan Roomsche Kerkstraat dan Komedieplein (kira-kira sekarang Jalan Cendrawasih dan Jalan Merak). Pada mulanya, gereja ini digunakan sebagai rumah sakit darurat bagi penderita kolera yang menyerang penduduk pada saat itu. Pada 22 Maret 1822 barulah gereja tersebut berfungsi sebagaimana mestinya.
Beberapa tahun kemudian, karena adanya rencana pembuatan jalan tembus di Surabaya, menyebabkan gereja ini harus dibongkar dan dipindahkan. Pada tahun 1889, pengganti Pastor Waanders, yaitu Pastor C.W.J. Wenneker, membeli sebidang tanah di Tempelstraat (alamat gereja sekarang).
Pada 14 Oktober 1896, dibuka Rapat Yayasan Dewan Gereja dan amal untuk pembangunan gereja. Rapat pada 1 Oktober 1898 menunjuk W. Westmaas dari Semarang sebagai arsitek. Tanggal 4 April 1899 pemasangan patok persisnya gereja akan dibangun. Pilar yang dibutuhkan sebanyak 790 buah. Pilar tersebut dari kayu galam yang didatangkan dari Kalimantan. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 19 Agustus 1899 oleh Pastor Van Santen SJ. Bahan kolom/pilarnya khusus didatangkan dari Eropa, demikian pula dengan bahan bangunan yang lain seperti tembok dari bata. Khusus untuk bangunan kayu menggunakan kayu jati, sedangkan kap dan puncak menara menggunakan sirap dari kayu besi.


Setelah tahap pembangunan selesai, pada 5 Agustus 1900 gereja ini resmi berdiri dan diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen SJ. Gereja tersebut diberi nama Onze Lieve Vrouw Geboorte Kerk. Ukuran gereja adalah panjang as bagian dalam 47,60 meter, lebar gereja 30,70 meter, transep 12,70 meter, dari lantai sampai ujung gevel 17,40 meter.
Pada bulan November 1945 terjadi revolusi fisik yang dikenal dengan pertempuran Surabaya. Kawasan Kepanjen dan Kebonrojo tak luput dari amukan artileri pasukan Inggris, baik dari arah laut maupun serangan-serangan dari pesawat udara. Akibat bombardir yang betubi-tubi ini menyebabkan gereja Katolik ini mengalami rusak parah. Atap gereja hancur, dan beberapa dinding porak poranda.
Setelah, situasi di Surabaya sudah aman dan stabil, dipikirkan untuk merenovasi gereja secara bertahap. Pada 1950 Pastor P.A. Bastiaensen, CM memerintahkan untuk melakukan renovasi terhadap gereja ini. Setelah selesai, gereja mulai difungsikan lagi pada Oktober 1951.
Kemudian pada tahun 1960 Pastor H.J.G. Veel, CM melakukan renovasi pada kaca-kaca jendela dengan hiasan indah yang yang diciptakan seorang seniman, yaitu Jacques Verheyen. Lalu, pada tahun 1996 menara gereja kembali direkonstruksi setelah selama 46 tahun gereja tanpa menara. Ketinggian menara masing-masing 15 meter.
Secara arsitektur, gereja ini sangat unik dan megah. Ciri khas arsitektur Eropa sangat terasa dari eksterior dan interior. Dari luar, gereja ini didominasi oleh batu bata merah yang tertata. Gedung ini juga tergolong tinggi walaupun hanya satu lantai. Interior gereja juga sangat megah dan terawat. Jendela dengan ornamen religius dan art glasses terlihat sangat menarik. Konsep bangunan gereja yang dirancang oleh W. Westmaas ini memiliki langgam Neo Gothic.
Kini, Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria masih difungsikan sebagai tempat bersembahyang umat Katolik di Surabaya. Gereja ini sesungguhnya merupakan Roomsche Katholieken Kerk te Soerabaja tapi acapkali disebut juga sebagai Gereja Kepanjen, karena lokasinya yang berada di Jalan Kepanjen. *** [200714]

Kepustakaan:
Reizsa Yoga Setyawan, 2014. Penerapan Gaya Gotik Pada gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya sebagai Sebuah Simbol Kristiani, dalam Makalah Non Seminar di FIB UI.
DIMENSI INTERIOR, Vol. 7, No. 1, Juni 2009: 52-64
Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor 3 Tahun 2014

0 komentar:

Posting Komentar