Jumat, 05 Februari 2016

Hotel Majapahit Surabaya

Dalam perkembangan sejarah kota, selain unsur manusia atau masyarakat, pertumbuhan dan pembangunan kota secara fisik merupakan peranan penting dalam mendorong kemajuan dan kemunduran kota.
Dengan adanya pelabuhan modern (Tanjung Perak) sebagai akses perdagangan di Surabaya, telah menjadikan kota tersebut tidak seperti kota-kota besar lainnya di pulau Jawa. Howard Dick dalam bukunya East Java (1983: 58) mengatakan, bahwa Surabaya adalah kota industri dan perdagangan terbesar sepanjang abad ke-19 melebihi kota-kota seperti Calcutta, Rangoon, Singapura, Bangkok, Hongkong bahkan Shanghai.
Surabaya memiliki banyak bangunan yang didirikan pada periode yang berbeda. Yaitu mulai tahun 1870-an sampai dengan tahun 1940-an dengan langgam arsitektur yang beragam, sehingga membuat kota ini memiliki karakter yang khas. Maka tak mengherankan bila sekarang Kota Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota industri, akan tetapi juga dikenal sebagai kota wisata, kota kenangan yang bernilai sejarah.


Sebagai kota industri dan kota wisata, Surabaya menjadi tempat lazim didatangi oleh para wisatawan, dan para eksekutif dalam dan luar negeri. Melihat kenyataan itu maka untuk memebuhi kebutuhan mereka di Surabaya, keberadaan tempat menginap atau tempat tinggal sementara dirasa penting kehadirannya. Hotel Majapahit Surabaya adalah tempat yang dirasa ideal untuk menjawab semua itu. Selain merupakan tempat bersejarah yang harus dilestarikan, hotel tersebut juga merupakan hotel bintang lima yang menyediakan fasilitas yang diperlukan oleh para wisatawan dan eksekutif, baik dari dalam maupun luar negeri.
Hotel Majapahit ini terletak di Jalan Tunjungan No. 65 Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi hotel ini berada di sebelah selatan Varna Culture Hotel Soerabaia, atau di depan gedung Badan Pertanahan Nasional. Dari hotel ini hanya perlu 5 menit menuju pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza, 15 menit dari Grand City Mall dan Convention Hall, 45 menit dari Bandara Internasional Juanda, dan 20 menit dari Stasiun Kereta Api Gubeng.
Berdasarkan brosur Hotel Majapahit yang brief history, dijelaskan dengan gamblang bahwa hotel ini adalah milik Lucas Martin Sarkies. Peletakan batu pertama dalam pembangunan hotel ini dilakukan oleh Eugene, anak laki-laki Lucas Martin Sarkies, pada 1 Juni 1910. Perlu diketahui bahwa Sarkies Bersaudara adalah pebisnis asal Iran yang membangun bisnis perhotelan di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19. Mereka adalah Martin Sarkies, Tigran Sarkies, Aviet Sarkies, dan Arshak Sarkies. Keempatnya membangun Eastern & Oreinetal Hotel di Penang, Malaysia pada 1880, Raffles Hotel di Singapura pada 1887, dan Strand Hotel di Burma pada 1901.


Lucas Martin Sarkies, anak laki-laki dari Martin Sarkies, melanjutkan tradisi keluarga dengan membuka Hotel Oranje di Surabaya pada 1911. Lucas lahir di New Jaya, Teheran, Iran pada 1876. Saat usianya 11 tahun, Lucas pindah ke Hindia Belanda, dan menetap di Surabaya. Ia menikah dengan sosialita Belgia, Charlotte Heyligers, pada 1896.
Pada 1900 Lucas Martin Sarkies membeli tanah seluas 1.000 m² di Jalan Tunjungan untuk mengikuti jejak ayahnya membangun hotel mewah. Dia menyewa desainer terkenal Alfred Bidwell untuk membangun hotel bergaya Art Nouveau Kolonial Belanda. Pembangunan hotel tersebut menghabiskan 500.000 gulden, dan peresmiannya dibuat dengan acara yang meriah pada 1911. Nama Oranje yang disematkan untuk nama hotel milik Lucas Martin Sarkies ini, mengambil dari nama pahlawan Belanda yang bernama Willem van Oranje, yang bertujuan untuk mengabadikan namanya.
Antara tahun 1923 sampai tahun 1926 dilakukan renovasi pada hotel tersebut dengan melebarkan dua bangunan sayap yang terdapat di sebelah kanan dan kiri bangunan utama. Pada tahun 1931 di depan pintu masuk lama sebagian ruang masuk yang baru dibangun dalam gaya Art Deco oleh arsitek Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Gaya Art Deco merupakan langgam yang menggunakan ornamen-ornamen historikal dan tradisional, sehingga Art Deco bisa dikatakan sebagai langgam yang memiliki muatan lokal. Setiap negara yang menerima langgam Art Deco selalu mengembangkannya sendiri-sendiri. Art Deco di suatu tempat akan berbeda dengan Art Deco di tempat lain, namun secara keseluruhan mereka memiliki semangat yang sama yaitu keterbukaan pada sesuatu yang baru, sehingga karya Art Deco hampir selalu inovatif dan eksperimentatif.


Kemudian pada tahun 1936 lobi bergaya Art Deco diperluas dan diresmikan oleh Pangeran Leopold III dan Putri Astrid dari Belgia serta bintang film terkenal Charlie Chaplin yang ditemani istrinya, aktris Paulette Goddard, serta Joseph Conrad, seorang novelis berdarah Inggris-Polandia.
Pada waktu Jepang menguasai Hindia Belanda pada tahun 1942, Hotel Oranje diambil alih oleh Tentara Dai Nippon dan namanya diganti menjadi Hotel Yamato. Kemudian selain itu, Hotel Yamato juga dijadikan markas bagi Tentara Dai Nippon di Surabaya.
Menjelang Jepang menduduki Hindia Belanda, Lucas Martin Sarkies meninggal dunia di Lawang, Malang pada 1941. Sedangkan, istrinya meninggal saat berada di kamp Jepang di Jawa Tengah pada 1945, dan pada tahun itu juga Belanda yang dibantu Sekutu berhasil menguasai Surabaya. Kemudian pada 19 September 1945, Belanda berusaha mengibarkan bendera negaranya di Hotel Yamato. Hal ini memicu kemarahan rakyat dan pemuda yang meminta agar bendera diturunkan. Pemuda S. Kasman bersama-sama dengan pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yaitu Roeslan Abdoelgani dan Sumarsono berhasil menggerakkan massa rakyat untuk datang ke Jalan Tunjungan.
Pemuda Kusno (pegawai kantor Kabupaten Surabaya) dengan segala rintangan dan ancaman dari pihak Belanda maupun serdadu Jepang mampu naik ke atas lalu menyobeknya dan menaikkannya kembali yang hanya tinggal merah putih dalam ukuran yang tidak seimbang. Dari pihak Belanda yaitu Plugman tewas, tubuhnya robek-robek bekas tusukan senjata logam.


Akibat insiden perobekan bendera Belanda  yang dilakukan oleh rakyat dan pemuda dengan semangat heroiknya, nama hotel diganti menjadi Hotel Merdeka.
Pada 1946 Sarkies bersaudara berusaha menguasai hotel ini, dan mengganti namanya menjadi Hotel L.M.S, singkatan dari Lucas Martin Sarkies. Penggantian nama ini memang untuk mengenang sang pendiri hotel ini, Lucas Martin Sarkies.
Pada 1969 terjadi pergantian kepemilikan lagi. Mantrust Holding Co. Menjadi pemilik baru dan mengganti nama hotel dengan nama kerajaan besar yang pernah ada di Tanah Jawa ini, yaitu Majapahit. Kemudian pada 1993 Mandarin Oriental Group yang bergabung dengan Sekar Group, membeli hotel ini dan menganggarkan US$35 juta untuk renovasi selama tiga tahun hingga selesai.
Pada 1996 hotel diluncurkan ulang di bawah bendera Mandarin Oriental dengan nama Mandarin Oriental Hotel Majapahit, dan menerima penghargaan pelestarian arsitektur serta menjadi National Heritage landmark of Indonesia.
Sepuluh tahun kemudian, Hotel Majapahit tak lagi dikelola oleh Mandarin Oriental Group. Pada 2006 CCM Group, salah satu perusahaan besar di Indonesia, mengambil alih hotel tersebut dan namanya dikembalikan menjadi Hotel Majapahit lagi.
Pada waktu dibangun, Hotel Majapahit berdiri di atas lahan yang luasnya hanya 1.000 m². Namun, seiring perkembangan bisnis hotel tersebut, hotel ini mengalami beberapa renovasi dan sekaligus menambah luas lahannya. Luas bangunan Hotel Majapahit pada saat ini adalah 19.408 m² yang berdiri di atas lahan seluas 19.205 m² yang terdiri atas dua lantai.
Sejak dilakukan renovasi secara menyeluruh pada tahun 2009 untuk menyesuaikan dengan kebutuhan modern, Hotel Majapahit dengan fasilitas bintang 5 ini tetap mempertahankan sebagai hotel yang bernuasa heritage. *** [030215]

0 komentar:

Posting Komentar