Kamis, 11 Februari 2016

Jembatan Petekan Surabaya

Jalan-jalan menyusuri Kali Mas di Surabaya memberikan kesan tersendiri. Dari Jembatan Merah ke arah utara, deretan bangunan lawas terbentang seolah memagari Kali Mas. Mulai pergudangan, pabrik mesin, pabrik verban, maupun kantor dagang zaman Hindia Belanda.
Setelah itu, lanjut ke arah utara akan bertemu dengan sebuah jembatan lawas nan kuno. Jembatan tersebut bernama Jembatan Petekan. Jembatan ini terletak di atas Kali Mas, yang secara administatif berada di Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi jembatan berada di perbatasan batas wilayah Kelurahan Perak Timur dengan Kelurahan Perak Utara, yang diapit oleh dua jalan, yaitu Jalan Jakarta.
Nama Petekan diambil dari bahasa Jawa. Petekan artinya dipencet atau ditekan. Dulu, jembatan ini bisa dibuka dan ditutup ketika ada kapal berukuran besar yang lewat dari Laut Jawa menuju Jembatan Merah hingga Mojokerto. Terbuka dan menutup kembali itulah dengan cara dipencet, yang kemudian menimbulkan tek ... tek ... tek.


Jembatan ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1936 dengan biaya 133.100 gulden. Pengerjaan fisiknya diserahkan kepada N.V. Machinefabriek Bratt, perusahaan konstruksi yang berada di Surabaya. Pada awalnya, perusahaan yang didirikan pada tahu 1901 ini menangani jasa pemugaran ke pabrik-pabrik gula, manufaktur jembatan dan konstruksi baja lainnya, kemudian berubah fungsi menjadi penghasil senjata sejak pendudukan Jepang untuk memasok kebutuhan perang.
Pengerjaan jembatan ini memakan waktu tiga tahun. Setelah berdiri dengan sempurna, jembatan ini mulai dioperasikan untuk pertama kalinya pada 16 Desember 1939. Pada saat itu diumumkan pula nama resmi dari jembatan ini, yaitu Ferwerdabrug.
Ferwerdabrug berasal dari gabungan dua kata, yaitu Ferwerda dan Brug. Ferwerda merupakan nama dari seorang panglima perang AL Hindia Belanda yang berjasa dalam membuka akses dari Ujung (saat PT. PAL) menuju pangkalan udara Morokembangan (sekarang dikenal dengan Kodikal). Nama lengkap panglima perang tersebut adalah Laksamana Hendrikus Ferwerda (1885-1942). Sedangkan, brug berasal dari bahasa Belanda yang artinya jembatan. Jadi, Ferwerdabrug sejatinya adalah sebuah bangunan jembatan di mana pada jembatan tersebut diabadikan nama seorang Laksamana Hendrikus Ferwerda, karena sebelum ada jembatan ini pasukan marinir yang akan ke Morokembangan dari Ujung atau sebaliknya harus memutar lebih jauh melalui Jembatan Merah.
Seiring dengan adanya pendangkalan di Kali Mas, Jembatan Petekan yang merupakan ophaalbrug (jembatan angkat) sehingga lama-kelamaan tidak bisa berfungsi lagi sebagai mana awalnya. Hal seperti ini juga dialami oleh Jembatan Kota Intan (Het Middelpunt Brug) yang berada di Kota Jakarta.
Kendati sudah tidak berfungsi lagi sebagai jembatan angkat, dan usianya yang memasuki uzur, seyogyanya jembatan ini tetap dipertahankan kelestariannya (in situ). Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 dengan nomor 47 yang telah menetapkan Jembatan Petekan sebagai bangunan cagar budaya. Konstruksi jembatan peninggalan kolonial ini sebagai penunjang kawasan Kota Lama. *** [170116]

0 komentar:

Posting Komentar