Senin, 22 Februari 2016

RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo merupakan salah satu rumah sakit lawas yang ada di Kota Surabaya. RSUD ini menarik perhatian setiap orang yang melintas di depannya lantaran bangunan depannya yang memiliki arsitektur peninggalan kolonial Belanda. RSUD ini terletak di Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo No. 6-8 Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi RSUD ini terletak di depan gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
RSUD Dr. Soetomo merupakan rumah sakit yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Nama awal dari rumah sakit ini adalah Nieuwe Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (NCBZ). Peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit ini dilaksanakan pada 29 Oktober 1938 di daerah yang pada waktu itu dikenal dengan Desa Karangmenjangan. Kontraktor yang dipercaya untuk menangani pembangunan rumah sakit ini adalah NV Nedam (Nederlandsche Aannemings Maatschappij). Pengerjaannya memakan waktu satu tahun dan menelan biaya 1.900.000 gulden.
Pada 1943 ketika Jepang menduduki Surabaya, pembangunan rumah sakit Karangmenjangan ini dilanjutkan kembali dan setelah selesai diganti menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat (RS AD). Hal ini bertujuan untuk melayani masalah kesehatan pada Tentara Dai Nippon (pasukan Jepang) yang berada di Surabaya.
Pada 1945 rumah sakit ini berhasil dikuasai kembali oleh Belanda, yang kemudian namanya diubah menjadi Marine Hospitaal (RS AL Belanda). Tidak berapa lama, rumah sakit ini menjadi Rumah Sakit Oemoem (RSO) Soerabaja.


RSO Soerabaja yang berada di bawah Departemen Kesehatan RI ini, pada tahun 1950 berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Pusat. Seiring itu pula, secara bertahap Rumah Sakit Simpang yang berada di Jalan Pemuda dipindahkan ke rumah sakit di Karangmenjangan.
Lalu, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nomor 26769/KAB/76 tanggal 20 Mei 1964 RSUP Surabaya berubah nama menjadi RS Dr. Soetomo. Setahun kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 1965 penyelenggaraan RS Dr. Soetomo diserahkan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Tingkat I Jawa Timur.
Pada 1979 keluar SK Menkes lagi yang menetapkan RS Dr. Soetomo sebagai Rumah Sakit Klas A, dan dikenal sebagai Rumah Sakit Pelayanan, Pendidikan dan Penelitian; Rumah Sakit Pusat Rujukan Wilayah Indonesia Timur (Top Referal); dan rumah sakit terbesar di Wilayah Indonesia Bagian Timur.
Pada 1980 semua kegiatan pelayanan kesehatan yang ada di RS Simpang dijadikan satu di RS Dr. Soetomo karena RS Simpang dijual (sekarang menjadi Delta Plaza/Surabaya Plaza). Kemudian pada 2002 keluar Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Timur yang menetapkan perubahan nama RS Dr. Soetomo menjadi RSUD Dr. Soetomo.
Seperti rumah sakit lainnya, RSUD  ini juga senantiasa berbenah mengikuti perkembangan zaman. Fasilitas selalu disesuaikan dengan kebutuhan. Di sebelah selatan kompleks rumah sakit ini, didirikan bangunan baru yang menjulang bernama Graha Amerta. Total kapasitas tempat tidurnya lebih dari seribu kamar.
RSUD Dr. Soetomo yang berdiri di atas tanah dengan luas 163.875 m² ini, kini menjadi salah satu rumah sakit milik pemerintah yang cukup disegani di tanah air. Keberhasilan demi keberhasilan dalam bidang kesehatan yang telah ditorehkannya merupakan suatu pembuktian bahwa rumah sakit ini patut menjadi salah satu rumah sakit rujukan di tanah air, terutama untuk wilayah Indonesia Bagian Timur. Kehebatan para dokter dan tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit ini tidak perlu diragukan lagi kemampuan mereka.
Walaupun telah banyak tumbuh dan berkembang rumah sakit swasta baik yang ada di Surabaya maupun yang ada di beberapa tempat di tanah air, rumah sakit ini tetap dihormati dan disegani. Bagaimana tidak, dari rumah sakit ini telah lahir begitu banyak dokter berbobot. Mereka memulai karir dari rumah sakit yang cukup besar dan megah ini. Inilah rumah sakit terbesar dan menjadi rumah sakit pusat rujukan wilayah timur Indonesia.
Apresiasi positif pun bermunculan seiring prestasi yang dicapai oleh RSUD Dr. Soetomo. Yang tak kalah pentingnya, bukan hanya prestasi dari rumah sakit itu saja yang perlu diapresiasi tapi juga keinginan rumah sakit tersebut yang masih berkenan mempertahankan bangunan lawasnya (heritage building). Dengan model bangunan kuno, rumah sakit ini juga sangat menarik sebagai salah satu sumber pengetahuan tentang arsitektur. Bangunan berlantai dua ini memiliki pintu utama yang khas. Tampak atapnya memiliki menara kecil seperti atap bangunan yang ada pada gereja.
Bangunan zaman Hindia Belanda itu terkenal dengan kekuatan rangkanya. Ketebalan temboknya, dan kemegahan bentuknya. Bagi yang senang dengan arsitektur, bangunan rumah sakit ini pasti sangat menarik. Apalagi kini ada bangunan baru yang dilengkapi dengan ruang terbuka hijau yang cukup indah. Pepohonan yang ada di rumah sakit ini masih terjaga. Angin yang berhembus dengan lembut membuat suasana menjadi lebih segar.
Semua keindahan dan kemegahan gedung dengan arsitektur kolonial itu memberikan efek yang baik bagi semua pasien yang menginap. Efek yang baik ini tentu saja akan membuat waktu inap mereka berkurang. Itu artinya mereka cepat sehat dan cepat pulang serta berkumpul kembali dengan keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa rumah sakit yang tidak seperti rumah sakit akan memberikan nuansa lain. Rumah sakit dengan konsep penggabungan antara kesehatan dan rekreasi tidak akan membuat orang stres. *** [290615]

0 komentar:

Posting Komentar