Selasa, 09 Februari 2016

Rumah Sakit William Booth Surabaya

Jalan Diponegoro, pada masa Hindia Belanda dulu dikenal dengan Reinersz Boulevard. Di jalan tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan sebagai permukiman elite sebagai bagian integral dari kawasan Darmo. Kawasan tersebut pada waktu itu disebut sebagai Bovenstad atau Kota Atas.
Sebagai kawasan yang diperuntukkan bagi perumahan-perumahan elite tempo doeloe, daerah di seputar kawasan Darmo tumbuh dengan segala fasilitas publik yang melengkapi permukiman tersebut. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS) William Booth (Gebouw van de William Booth Stichting te Soerabaja).
RS William Booth terletak di Jalan Diponegoro No. 34 Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di depan Rumah Sakit Vincentius. Sebelah utara berbatasan dengan rumah warga, sebelah timur berbatasan dengan Jalan Cimanuk, sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Ciliwung, dan sebelah barat berbatasan dengan Jalan Diponegoro.
Menurut sejarahnya, pembangunan RS William Booth ini tidak terlepas dari peran Gereja Bala Keselamatan, sebuah lembaga gereja yang berawal dari sebuah organisasi misi Kristen di kawasan London Timur, Inggris, yang dipelopori oleh William Booth seorang pendeta Metodis pada tahun 1865.
Mulai tahun 1878 organisasi tersebut diberi nama Salvation Army (Bala Keselamatan). Organisasi ini disusun mirip dengan organisasi kemiliteran, petugas-petugas diberi pakaian seragam (putih) serta pangkat, mulai dari jenderal sampai dengan prajurit, Kepercayaan didasarkan atas Injil dan markas besarnya berada di London, Inggris.
Konsep tentang “tentara” datang secara gradual, nama itu lahir dari sebuah inspirasi yang tiba-tiba, beberapa bulan setelah semi-militer konstitusi telah ditentukan sebelumnya. Hal ini bisa dipahami bahwa misi Kristen adalah sebuah tentara volunteer (Volunteer Army) dan William Booth menegaskan bahwa “misi Kristen adalah sebuah tentara keselamatan (Salvation Army). Jadi, William Booth mensintesakan semangat tentara seperti tindakan agresif dan kepemimpinan terpusat di dalam gerejanya dengan semangat evangelisasi (pekabaran Injil).


Mereka menyebut diri sebagai bala tentara Allah yang setiap hari maju berperang, rohani melawan iblis dan dosa yang menyebabkan penderitaan manusia serta mengalahkan segala bentuk kejahatan dalam kehidupan masyarakat, sekaligus memenangkan hati Kristus bagi jiwa-jiwa manusia yang paling jahat sekalipun. Karena itu, pakaia seragam dan perangkat musik mereka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengabdian mereka memberitakan serta memberlakukan Injil dan kasih Kristus melalui pelayanan kemanusiaan yang cakupannya sangat luas, terutama bagi lapisan masyarakat terbawah di kota-kota besar maupun di perdesaan.
Pada waktu itu, masyarakat Inggris sedang mengalami krisis sosial sebagai dampak dari Revolusi Industri. Oleh karena itu, pada awal kemunculannya organisasi ini tidak hanya berperan dalam menyiarkan Injil di kalangan masyarakat London Timur yang miskin melainkan juga membantu mencarikan jalan keluar untuk menolong mereka dalam mengatasi masalah hidup. Pengaruh dari situasi dan kondisi tersebut menyebabkan organisasi ini memiliki karakteristik unik dan bersifat khas Gereja Bala Keselamatan, yaitu pelayanan sosial terhadap masyarakat tanpa membedakan latar belakang mereka.
Di Hindia Belanda gerakan organisasi Bala Keselamatan ini dimulai sejak 24 November 1894 di daerah Purworejo, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai Het Leger Des Heils. Di Surabaya, bidang pelayanan sosial yang dilakukan oleh Gereja Bala Keselamatan adalah di bidang kesehatan.
Di Surabaya, Bala Keselamatan mengawali dengan membuka Klinik Ibu dan Anak maupun pasien lainnya di sebuah ruang yang sempit di Benedenstad (Kota Bawah). Kota Bawah merupakan pusat regional yang berada di Surabaya Utara yang menjadi awal mula sejarah perkembangan Kota Surabaya. Pusat pemerintahan ketika itu masih berada di utara Jembatan Merah, sehingga segala pusat kegiatan masyarakat termasuk di dalamnya perdagangan dan jasa serta permukiman berada di sekitar Jembatan Merah, Ampel dan Kembang Jepun. Kota Bawah ini sering disebut sebagai kota tuanya Surabaya (Oude stad).
Setelah beberapa tahun klinik berjalan, pada tahun 1915 Bala Keselamatan mendirikan Rumah Bersalin dengan menggunakan sebuah rumah bertingkat di Jalan Tambak Bayan. Seiring berjalannya sang waktu, pekerjaan makin berkembang sehingga Rumah Bersalin Tambak Bayan sudah tidak sanggup memenuhi kebutuhan. Bala Keselamatan kembali mencari lahan untuk mengembangkan Rumah Bersalin tersebut. Akhirnya, diperolehlah sebidang tanah yang berada di Reinersz Boulevard 34, sekarang bernama Jalan Diponegoro. Di persil ini segera dibangun Rumah Sakit Bersalin yang peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh Ny. G. Hillen atas nama Residen saat itu pada tanggal 3 Januari 1924. Pembangunannya berjalan selama satu tahun dan pembukaan dilakukan pada tahun 1925. Menjelang perpindahan ini, peralatan dan obat-obatan yang masih berada di Rumah Bersalin Tambak Bayan secara berangsur telah diangkut ke tempat yang baru. Setelah itu, Rumah Bersalin di Tambak Bayan tidak menerima pasien baru lagi dengan harapan pada hari terakhir di Tambak Bayan tidak perlu memindahkan pasien ke tempat yang baru.
Walaupun rumah sakit yang baru telah ada, namun pelayanan di luar rumah sakit masih dijalankan terus. Para opsir Bala Keselamatan langsung membagi tugas mereka yang memiliki latar belakang pendidikan medis bertugas di rumah sakit, dan yang lainnya di bagian administrasi atau tenaga rumah tangga. Kurangnya tenaga membuat para opsir itu bertugas ganda, dengan jam kerja tidak terbatas. Biasanya setelah bertugas di rumah sakit, sebagian lalu mengayuh sepedanya ke klinik di kota. Yang tidak ke klinik bertugas jaga dan juga mengerjakan tugas kerohanian.
Pekerjaan berkembang terus sehingga tempat perlu diperluas dan di samping itu jenis pertolongan tidak terbatas pada kasus ibu dan anak. Pada tahun 1939 bangunan tambahan didirikan di sebelah kanan bangunan pertama. Bagian-bagian lain, seperti ruang bedah, asrama, ruang anak-anak juga dibangun kemudian. Sehingga, semakin berkembang tidak menjadi Rumah Sakit Bersalin lagi tetapi menjadi rumah sakit umum yang diberi nama Rumah Sakit William Booth. Penamaan rumah sakit didasarkan pada nama pendiri Bala Keselamatan.
Pada masa pendudukan Jepang, Rumah Sakit William Booth diambil alih oleh pasukan Jepang. Rumah sakit swasta ini dijadikan rumah sakit khusus sebagai bagian dari Rumah sakit Umum Pusat. Setelah Indonesia merdeka, rumah sakit ini dipegang oleh pemerintah hingga tahun 1947. Ketika rumah sakit dikembalikan lagi ke Bala Keselamatan, maka semua dokter dan tenaga pemerintah ditarik kembali ke rumah sakit milik pemerintah.
Itulah lika-liku perjalanan Rumah Sakit William Booth. Paska ditinggalkan semua dokter dan tenaga pemerintah, rumah sakit ini dikelola tanpa satu pun dokter kecuali beberapa perawat dan opsir Bala Keselamatan. Untung keadaan ini tidak berlangsung lama karena seorang dokter misionaris wanita tiba dan mulai bertugas sepenuhnya dalam 24 jam. Selain dinas biasa, dokter tersebut juga merupakan satu-satunya dokter jaga.
Selama masa perang dan revolusi fisik, banyak peralatan rumah sakit terutama perabotan rumah tangga hilang. Pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa pihak rumah sakit boleh mencari perabotan rumah sakit tersebut di rumah penduduk sekitar dan bila dapat membuktikan perabotan tersebut sebagai milik rumah sakit, rumah sakit tersebut boleh mengambilnya. Seorang opsir wanita setiap selesai dinas di rumah sakit selalu bersepeda keliling untuk mencari kursi, meja atau lemari yang hilang.
Pada tahun 1971 rumah sakit ini membangun gedung untuk pasien paru-paru. Biaya untuk membangun bagian ini diterima dari Compbell Trust di London. Tahun 1974 bersamaan dengan perayaan ulang tahun Rumah Sakit William Booth ke 50, kamar operasi yang baru, laboratoriu, poliklinik dan bagian pendidikan yang berlantai 2 diresmikan. Bangunan ini merupakan sumbangan dari ICCO Nederland. Bulan September 1982 bangunan rontgen bersama peralatannya diresmikan penggunaannya. Bagian atas bangunan ini dipakai sebagai kantor dan ruang pertemuan. Biaya untuk membangun gedung beserta alat-alat radilogi yang modern merupakan hasil sumbangan dari NORAD Norwegia.
Pada tahun 1984 dibangun gedung baru berlantai 3 yang akan digunakan sebagai asrama siswa SPK Rumah Sakit William Booth. Gedung ini merupakan sumbangan dari SIDA Swedia.
Rumah Sakit William Booth teus berkembang menjadi lembaga pemberi pelayanan kesehatan masyarakat yang menyeluruh, meliputi aspek peningkatan kesehatan, pencegahan penyakir, pengobatan maupun pemulihan kesehatan. Rumah sakit ini akan selalu memberikan pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang paripurna, terstruktur, berkualitas dan mudah terjangkau oleh masyarakat.
Selaras dengan perkembangan pelayanan kesehatan masyarakat dan teknologi kesehatan, Rumah Sakit William Booth Surabaya berupaya menjadi sebuah rumah sakit yang mampu berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan masyarakat, informasi kesehatan dan pelayanan sosial di bawah naungan Yayasan Bala Keselamatan Surabaya.
Rumah Sakit William Booth memiliki luas bangunan 5.504 m² yang berdiri di atas lahan seluas 14.540 m². Dari luas bangunan tersebut, terdapat bangunan induk bergaya Amsterdam School dengan dominasi atap dan bukaan yang tinggi serta kubah sebagai penanda ruang penerima (hall) dan ruang lonceng. Kesan lawas masih terlihat.
Berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/29/436.1.2/2011 tentang Penetapan Bangunan Gedung Rumah Sakit William Booth Jalan Diponegoro Nomor 34 Surabaya sebagai Bangunan Cagar Budaya, bangunan induk tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang ada di Kota Surabaya. *** [160115]

Kepustakaan:
Purnowo, 2008. Pelayanan Sosial Gereja Bala Keselamatan dalam Masyarakat (Studi Peran Gereja Bala Keselamatan dalam Pengelolaan Panti Asuhan Putra Tunas Harapan), dalam Skripsi di Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Yance Pany, 1999. Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Atas Jasa Rawat Inap di Rumah Sakit William Booth Surabaya, dalam Internship di Program Pascasarjana, UNDIP Semarang

0 komentar:

Posting Komentar