Rabu, 02 Maret 2016

Kedai Seni Djakarte

Kesempatan mengunjungi Kota Tua Jakarta (Oude Batavia) kembali terlaksana setelah empat tahun berjalan. Kali ini tampak banyak perubahan. Bangunan-bangunan lawas yang dulunya rusak atau bahkan hampir runtuh, sekarang terlihat mengalami renovasi. Suasana Eropa perlahan mulai tampak di lingkungan Kota Tua.
Salah satunya yang telah mengalami renovasi adalah Kedai Seni Djakarte. Kedai seni ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 17 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi kedai seni ini berada di sebelah selatan Café Bang Kopi, atau di sebelah utara Café Historia.
Kedai Seni Djakarte dulunya merupakan bagian dari kompleks bangunan kantor bernama Batavia Zee en Brand Assurantie Maatschappij. Kantor asuransi tersebut dibangun pada tahun 1913 oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen (26 Juni 1879-1 April 1955).
Ia masuk Akademi Antwerpen di Belgia untuk memuaskan hobi menggambarnya. Pada waktu itu, Antwerpen merupakan pusat seni Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke 17. Di Antwerpen, Moojen juga mempelajari  ilmu arsitektur. Lulus pada 1899, ia langsung pindah ke Den Haag, Belanda dan memulai karir sebagai seorang arsitek.
Meski lahir dan meninggal di Belanda, Moojen besar di rantau. Ia pergi ke Hindia Belanda pada tahun 1904. Pada masa itu, pesona negeri koloni menjanjikan masa depan gemilang. Ini menarik perhatian banyak pemuda Belanda, termasuk di antaranya adalah Moojen.


Bangunan Kedai Seni Djakarte ini berbentuk persegi panjang. Tampak muka yang menghadap Kali Besar dipengaruhi langgam Neo Klasik (bernama gedung Jasa Raharja), sedangkan yang menghadap Jalan Pintu Besar merupakan tipikal bangunan Eropa dengan material bata. Bangunannya terletak memanjang dari arah Jalan Kali Besar Timur (tampak muka) hingga ke Jalan Pintu Besar Utara (tampak belakang).
Dari sumber Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, Dinsdag 28 October 1913 p. 5, dapat diketahui bahwa lokasi Kedai Seni Djakarte saat ini adalah bekas bagian belakang kantor Batavia Zee en Brand Assurantie Maatschappij yang dulu diperuntukkan sebagai garasi dan gudang.
Dalam  perjalanannya, gedung asuransi ini pernah mengalami beberapa ganti kepemilikan dan alih fungsi bangunan. Pada tahun 1941, gedung ini pernah menjadi gedung Java Sea & Fire Insurance Co. Ltd. Plakatnya masih tertempel di dinding luar, di antara dua pintu besarnya.
Sekitar tahun 1963 gedung ini diambil alih oleh perseorangan. Foto lawas memperlihatkan bahwa gedung tersebut berubah menjadi gedung Bar-Bar. Hal ini diketahui dari tulisan Bar di atas pintu besar yang berada di selatan, dan tulisan Bar yang satunya ditempatkan di atas pintu besar yang berada di utara.
Pada tahun 1983 gedung ini selanjutnya dijadikan kantor untuk gudang distribusi alkohol ke apotek-apotek yang ada di Jakarta. Lalu, pada tahun 1990 gedung ini ditinggalkan dan dibiarkan kosong lagi. Sehingga, gedung ini hampir ambruk di mana atapnya sudah rontok.
Pada tahun 1998 bagian dari gedung ini yang menghadap ke Kali Besar, kepemilikannya berpindah tangan ke Jasa Raharja. Sedangkan, bagian bangunan yang menghadap ke Museum Sejarah Jakarta pada tahun 2008 difungsikan untuk usaha tekstil.
Pada tahun 2013 gedung ini menjadi sebuah kafe setelah memperbaiki bagian atapnya yang rusak. Kafe ini diberi nama Kedai Seni Djakarte, dan dikelola oleh Susi Ratnawati. Renovasi tak selesai sampai di situ, di awal 2014 kembali dilakukan perbaikan karena ternyata saluran air rusak. Kemudian di tahun 2015, Kedai Seni Djakarte mendapat bantuan dari UNESCO. Tujuan utama dalam pemugaran ini adalah perbaikan kuda-kuda atap yang lapuk untuk menjamin kekokohan dan perpanjangan umur bangunan. Selain itu juga dalam upaya untuk memperbaiki tampak bangunan agar utuh dan sesuai dengan kondisi aslinya. Pekerjaan ini adalah proyek percontohan pemugaran bangunan cagar budaya oleh UNESCO Jakarta, yang merupakan bagian dari program revitalisasi Kota Tua Jakarta.
Nama kafe ini memang terdengar agak unik. Ide membuat kedai dan galeri pun hadir setelah pemugaran selesai. Pada awalnya, galeri menjadi ide pertama karena suami dari pengelola kafe ini adalah seorang seniman. Tapi karena melihat pasar, akhirnya menghidupkan terlebih dahulu sisi kedainya.  Jadi, penamaan kedai seni ini sesungguhnya lahir dari ide untuk membuat kedai dan toko seni.
Namun, sekarang ini rencana tersebut seiring waktu sudah mulai mendekati kenyataannya. Lantai 1 digunakan sebagai kafe yang menyediakan berbagai aneka masakan dan minuman, dan lantai 2 pengunjung bisa melihat berbagai lukisan hasil karya pemilik kedai ini, yang tak lain adalah suami dari pengelola kedai seni ini.
Bila ada waktu luang, cobalah kunjungi kedai seni ini. Nikmatilah aneka hidangan yang ada dalam menu kafe tersebut, dan sekaligus manjakanlah pandangan Anda dengan deretan bangunan lawas yang ada di sekitar kedai seni termasuk juga gedung yang digunakan oleh Kedai Seni Djakarte. Anda terasa dibawa ke masa silam yang penuh ceritera, mengingat bangunan dua lantai ini telah dimasukkan dalam Status Cagar Budaya (heritage register) Kelas A berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) atau Governor Decree Nomor 36 Tahun 2014. *** [250216]

0 komentar:

Posting Komentar