Kamis, 31 Maret 2016

Petirtaan Watugede Singosari

Memboceng motor Honda Supra X, saya diajak keliling Singosari oleh teman penelitian sewaktu di Aceh. Target sebenarnya adalah Stasiun Kereta Api Singosari, namun saya diajak singgah sebentar di sebuah situs yang tak jauh keberadaannya dengan stasiun tersebut. Situs tersebut bernama Petirtaan Watugede. Petirtaan ini terletak di Jalan Watugede, Dusun Sanan, Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi petirtaan ini berada sekitar 300 m sebelah timur Stasiun Singosari. Petirtaan Watugede berada di perbatasan antara Jalan Stasiun dengan Jalan Watugede. Sebelah utara atau seberang jalan berbatasan dengan permukiman warga, pada sisi timur berbatasan dengan sebuah bangunan bengkel milik warga, sebelah barat berbatasan dengan bangunan bekas pabrik Penyamakan Kulit Watugede, dan sebelah selatan selain berbatasan dengan pabrik tersebut juga berbatasan dengan sebuah sungai tempat pembuangan air yang berasal dari Petirtaan Watugede.
Bangunan petirtaan, atau masyarakat awam menyebutnya dengan pemandian, merupakan salah satu dari tipe peninggalan bangunan masa Hindu Buddha yang dikenal sampai saat ini.  Petirtaan memiliki kata dasar tirta. Tirta berarti air. Air dalam tradisi Hindu Buddha merupakan hal yang penting. Sehingga tempat mendirikan candi atau bangunan yang dianggap ‘suci’ lainnya pada umumnya lokasnya tidak lepas dari unsur air.
Dalam hal keagamaan, air yang dimaksudkan di sini adalah air suci yang dapat membuat suci seseorang. Air suci demikian layak disebut dengan tirta nirmala atau tirta amerta yang dipercaya mempunyai khasiat banyak. Selain membersihkan dosa-dosa maupun menyembuhkan berbagai penyakit, tirta amerta juga dipandang sebagai air keabadian.


Dalam buku Registrasi dan Penetapan yang dikeluarkan oleh BPCB Mojokerto (2008) dijelaskan, bahwa Petirtaan Watugede memiliki luas bangunan 112, 5 m² dengan luas lahan 2.516 m². Bangunan Petirtaan Watugede berada 9 m lebih rendah dibanding permukaan lahan di sekitarnya, terdiri dari dua petak kolam. Dasar kolam yang terletak di utara lebih tinggi dibanding kolam yang terletak di selatan. Dinding kolam selatan saat ini tertimbun tanah. Kolam utara berdenah peregi panjang berukuran 22,50 x 18 m, memiliki tangga di sisi barat. Struktur bangunan terbuat dari batu bata rata-rata berukuran 35 x 24 x 7 cm. Namun sayangnya bangunan pada saat ini tidak lagi sempurna karena bagian atas struktur, bata dan panjang struktur sudah tidak terdapat lagi. Situs petirtaan ini sempat tertimbun tanam beberapa tahun lamanya, dan kemudian ditemukan oleh seorang arkeolog Belanda pada tahun 1925.
Air yang terdapat pada kolam berasal dari mata air di bawah pohon Lo yang terdapat pada timur kolam/petirtaan. Dilihat dari asal sumber airnya, Petirtaan Watugede ini berupa sumber air alami yang mendapat tambahan dan pengerjaan lebih lanjut secara artifisial. Misalkan membuatkan pancuran (jaladwara) sebagai jalan keluarnya air, memperkeras tepian kolam dengan batu bata, menambahkan arca-arca dewata dan lainnya lagi. Sumber air tersebut diduga merupakan Taman Boboji yang disebut dalam Kitab Pararaton, yang merupakan tempat pemandian Ken Dedes, istri Akuwu Tunggul Ametung, penguasa Tumapel.
Di taman itulah Ken Arok melihat sesuatu yang bercahaya dari selangkangan Ken Dedes, sehingga ia bertekad menjadikan wanita itu istrinya dengan cara membunuh Tunggul Ametung. Menurut para pendeta Hindu Buddha zaman itu, perempuan yang memiliki tanda demikian disebut arda nariswari, perempuan utama yang akan melahirkan orang-orang ternama. Dalam Kitab Paraton, terekam percakapan antara pendeta Lohgawe dengan Ken Arok:

“Sumahur sira danghyang: “Sapa ikut kaki”.
Lingira ken Angrok: “Wonten, bapa, wong wadon katinghalan rahasyanipun deningsun”.
Lingira danghyang Lohgawe: “Yen hana istri mangkana, kaki, iku stri nariçwari arane, adimukyaning istri iku, kaki, yadyan wong papa angalapa ring wong wadon iku, dari ratu añakrawarti”.
Meneng sira ken Angrok, ri wekasan angling: “Bapa danghyang, kang murub rahasyanipun puniku rabinira sang akuwu ring Tumapel; lamun mangkana manira-bahud angeris sirakuwu, kapasti mati de mami, lamun pakanira angadyani”.
Sahunira danghyang: “Mati, bapa kaki, Tunggul ametung denira, anghing ta ingsun ta yogya yan angadyanana ring kaheripira, tan ulahaning pandita, ahingan sakaharepira”.


Dang Hyang menjawab: “Siapakah dia, buyung?”
Kata Ken Arok: “Bapa, memang ada sesorang perempuan, yang kelihatan rahasianya oleh hamba.”
Kata Dang Hyang: “Jika ada perempuan yang demikian, buyung, ia disebut Nariswari, yang berarti perempuan paling utama, buyung, siapa pun ia, meski berasal dari rakyat jelata sekali pun ia, jika memperistri perempuan itu, akan menjadi maharaja.”
Ken Arok diam, akhirnya berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bersinar kemaluannya itu adalah istri Sang Akuwu di Tumapel. Jika demikian saya akan bunuh akuwu, dan akan saya ambil istrinya. Tentu ia akan mati, itu kalau Bapa mengizinkan.”
Jawab Dang Hyang: “ Ya, tentu matilah, buyung, Tunggul Ametung olehmu, hanya saja tidak pantas memberi izin itu kepadamu. Itu bukan tindakan seorang pendeta, batasnya adalah kehendakmu sendiri.”

Setelah berhasil membunuh Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok menjadi akuwu di Tumapel sebagai penggantinya. Menurut Kitab Negarkertagama, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1104 Çaka atau tahun 1182 Masehi. Kemudian ia menikahi Ken Dedes yang pada waktu itu sedang hamil lima bulan dari perkawinannya dengan Tunggul Ametung. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memperoleh tiga orang putra dan seorang putri, yaitu Mahisa Wongateleng, Panji Saprang, Agni Baya, dan Dewi Rimbu.
Sedangkan, perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung mendapatkan seorang putra bernama Anusapati, yang kemudian menjadi anak tiri Ken Arok. Dari perkawinannya sebelumnya, yaitu dengan Ken Umang, Ken Arok mempunyai tiga orang putra dan seorang putri, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi.
Sejak ia menjadi akuwu di Kutaraja, semua penduduk di daerah sebelah timur gunung Kawi segan kepadanya. Kekuasaan dan kewibawaannya makin lama makin besar. Orang Tumapel senang jika Ken Arok suka menjadi raja. Kebetulan pada waktu itu sedang terjadi sengketa antara Raja Kertajaya (Dandang Gendis) dan para pendeta Siwa-Buddha. Raja Dandang Gendis menginginkan agar para pendeta menyembah belaiu. Para pendeta menolak perintah itu, karena belum pernah terjadi pendeta menyembah raja. Raja Dandang Gendis lalu memperlihatkan kesaktiannya. Tombak didirikan di atas tanah. Ia lalu duduk di atas ujung tombaknya. Meskipun demikian, para pendeta tetap menolak untuk menyembahnya. Mereka meninggalkan Daha, mengungsi ke Tumapel, berlindung di bawah kekuasaan Ken Arok. Dalam kedudukannya sebagai akuwu, Ken Arok ingat akan keturunan orang-orang yang pernah berbuat baik kepadanya. Mereka dipanggilnya ke Tumapel untuk menerima balas jasa.


Demikianlah, Bango Samparan dari Karuman, Mpu Palot dari Turiyantapada, anak Mpu Gandring dari Lulumbang, anak pendeta Lohgawe dan sebagainya diundang ke Tumapel dan menetap di sekeliling Ken Arok. Anak Kebo Ijo yang bernama Kebo Randi dijadikan pekatik.
Kemudian Ken Arok dinobatkan sebagai Raja Tumapel dengan mengganti nama negaranya menjadi Singosari (Singhasari) dengan gelar abiseka Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Setelah mengalahkan Dandang Gendis (Raja Kertajaya dari Kediri) di Desa Ganter, seluruh Daha takluk kepada Singosari, dan Ken Arok sebagai raja yang berkuasa penuh dalam wilayah luas di sebelah timur Gunung Kawi.
Dalam sejarah Singosari dan Majapahit, dari putra dan putri Ken Arok itu yang memegang peranan ialah Anusapati, Tohjaya, dan Mahisa Wongateleng. Terutama Mahisa Wongateleng dan Anusapati mempunyai hubungan dengan perkembangan sejarah Majapahit. Mahisa Wongateleng mempunyai keturunan Raden Wijaya yang menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit, sedangkan Anusapati menurunkan raja Kertanegara sebagai raja terakhir dari Kerajaan Singosari. Pemerintahan Tohjaya tidak mempunyai arti untuk perkembangan sejarah Kerajaan Singosari dan Majapahit.
Jadi, berdasarkan ceritera di atas, petirtaan ini sebenarnya merupakan tempat pemandian suci yang sering digunakan oleh kalangan istana Kerajaan Singosari di Desa Watugede, sehingga sekarang dikenal dengan Petirtaan Watugede. Dulu, Ken Dedes setiap mau mandi di petirtaan ini senantiasa menggunakan kereta yang ditarik oleh kuda dan dikawal oleh pasukan istana.
Petirtaan Watugede ini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.56/PW.007/MKP/2010 tentang Penetapan Lapangan Golf Ahmad Yani Surabaya, Petirtaan Songgoriti, Stupa Sumberawan, Petirtaan Watugede, Kompleks Makam Maulana Malik Ibrahim, Kompleks Makam Sunan Giri, Kompleks Makam Sunan Prapen, Kompleks Makam Leran, Makam Sunan Drajat, Makam Sendang Duwur, Kompleks Makam Sunan Boang, Petirtaan Panataran, Petirtaan Jolotundo, Gapura Jedong, Balai Sahabat, Yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, dan/atau Kawasan Cagar Budaya Yang Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selain itu, Petirtaan Watugede sekarang ini juga menjadi salah satu obyek wisata alam yang ada di Singosari, Kabupaten Malang. Tempatnya asri karena banyak tumbuhan besar nan rindang yang ada dalam obyek wisata tersebut dengan diselingi suara gemercik air yang berasal dari kolam tersebut. Cocok buat menyegarkan pikiran yang penat karena rutinitas harian. Sayangnya, tempat parkirnya kurang memadai bila pengunjung harus membawa mobil sendiri karena lokasinya sudah mepet dengan jalan. *** [010815]

Kepustakaan:
Korrie Layun Rampan, 2015. Anomali: Kumpulan Puisi, Karawang: Delacita
Rahadhian PH, dan Fery Wibawa C, 2015. Kajian Arsitektur Percandian Petirtaan di Jawa (Identifikasi), LPPM Universitas Katolik Parahyangan
Slamet Muljana, 2005. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, Yogyakarta: LKis
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbtrowulan/2015/02/09/petirtaan-watugede/
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.504275742931869.131448.119320814760699&type=3

0 komentar:

Posting Komentar