Sabtu, 23 April 2016

GPIB Jemaat Koinonia Jakarta

Pada zaman dulu, orang-orang tua di Jakarta mengenal Jatinegara dengan sebutan Meester Cornelis. Sebutan ini diambil dari nama seorang kaya dari Pulau Lontar, Banda, Maluku, yang bernama Cornelis Senen. Ia adalah orang pribumi. Setelah tempat asal kelahirannya Banda dihancurkan oleh Coen maka ia pindah ke Batavia. Selama berada di Batavia ia menjadi guru Injil di sana, melayani jemaat-jemaat yang berbahasa Melayu dan Portugis. Mengingat tugasnya yang begitu mulia maka ia kemudian hari diangkat menjadi pendeta. Walaupun setelah mengalami ujian dihadapan pendeta-pendeta dari Barat dan dinyatakan tidak lulus akan tetapi ia tetap bekerja dengan setia sampai akhir hayatnya untuk melayani umat.
Pada waktu itu, wilayah Meester Cornelis masih berupa hutan-hutan yang subur. Hal ini wajar, karena wilayah ini dilalui oleh sungai Ciliwung yang memberikan banyak manfaat bagi keadaan alam di sana. Setelah Cornelis Senen berada di Batavia, ia diberi kekuasaan penuh oleh Belanda untuk mengelola dan memberdayakan wilayah kekuasaannya. Wujud pemberdayaan wilayah tersebut selama di tangan Cornelis Senen adalah dengan memanfaatkan dan mengelola hutan-hutan yang ada, kemudian membuka lahan-lahan perkebunan di wilayah itu. Hal ini dilakukan dengan mempekerjakan penduduk sekitar, yang kemudian penduduk diharuskan menyerahkan sebagian hasilnya kepada Cornelis Senen. Kebijakan yang dilakukan oleh Cornelis Senen dalam memberdayakan wilayah tersebut lebih banyak menguntungkan penduduk sekitar, sehingga mereka dengan senang hati bekerja pada Cornelis Senen. Hal itulah yang menyebabkan wilayah tersebut berkembang pesat walaupun termasuk daerah pinggiran pusat kota Batavia. Kemudian sepeninggal Cornelis Senen, namanya diabadikan sebagai nama wilayah yang termasuk daerah penguasaannya. Sebutan Meester oleh orang biasa tersebut, sebagai bentuk penghargaan tertinggi penduduk sekitar terhadap orang yang berjasa dalam membangun wilayah tersebut menjadi wilayah pinggiran kota Batavia yang maju dan berkembang. Maka, daerah tersebut akhirnya dikenal oleh penduduk sekitar dengan sebutan Meester Cornelis.
Nama Jatinegara baru muncul pada tahun 1942, ketika pasukan Jepang menduduki Hindia Belanda. Nama Meester yang terlalu berbau Belanda mulai dihapus dan diganti menjadi Jatinegara. Sejak itulah, baru nama Meester Cornelis perlahan menghilang dari telinga orang-orang tua, dan telinga mereka menjadi akrab dengan Jatinegara sampai sekarang.


Bentuk kemajuan dan perkembangan yang tampak di wilayah Meester Cornelis (sekarang menjadi Jatinegara) adalah terdapatnya beberapa fasilitas umum yang digunakan sebagai sarana pendukung bagi kegiatan dan aktivitas masyarakat di sekitar wilayah tersebut. Sarana pendukung yang ada untuk kegiatan dan aktivitas masyarakat saat itu, antara lain stasiun kereta api dan jalur trem (kendaraan khusus yang mengenakan rel, hanya saja jalurnya bercampur dengan kendaraan biasa) yang digunakan sebagai sarana trasportasi saat itu, pasar pada saat itu difungsikan sebagai tempat melakukan aktivitas jual beli, dan gereja yang difungsikan sebagai tempat melakukan peribadatan jemaat Kristiani pada saat itu.
Salah satu bangunan gereja yang masih berdiri kokoh dan megah di wilayah Jatinegara saat ini adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia. GPIB ini terletak di Jalan Matraman Raya No. 216 Kelurahan Bali Mester, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi Lokasi GPIB ini berada di penghujung Jalan Matraman yang kemudian terbelah menjadi dua jalan, yaitu Jalan Mataram dan Jalan Jatinegara Barat, tak jauh dari Halte Busway Kebon Pala.
Menurut sejarahnya, GPIB Koinonia ini dibangun pada 28 Maret 1889 dengan bentuk yang masih cukup sederhana. Kemudian direnovasi pada tahun 1911-1916 atas sumbangsih dari Keuchenius. Seperti disebutkan A. Heuken dalam bukunya, Gereja-Gereja Tua di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2003), sekitar awal 1900-an seorang pendeta ultra liberal menyampaikan kotbah di Willemsker (sekarang Gereja Immanuel di kawasan Jalan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat) yang membuat marah seorang bernama Keuchenius. Dia adalah mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Batavia.
Keuchenius akhirnya tidak mau datang lagi ke Willemskerk, dan dia menyumbang dana cukup besar untuk membangun rumah peribadatan di kawasan Meester Cornelis. Maka berdirilah sebuah gereja yang diberi nama Bethelkerk in Meester Cornelis te Batavia, atau yang biasa disingkat menjadi Gereja Bethel. Bethel berarti Bait Allah atau Rumah Allah.
Pada 1948, Gereja Bethel ini masuk dalam tata kelola Indische Kerk, yaitu Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). GPIB didirikan pada 31 Oktober 1948, yang pada waktu itu masih menggunakan bahasa Belanda, De Protestantse Kerk in Westelijke Indonesie, berdasarkan Tata Gereja dan Peraturan Gereja yang dipersembahkan oleh proto Sinode kepada Badan Pekerja Am (Algemene Moderamen) Gereja Protestan Indonesia. Sejak itu, nama Gereja Bethel pun kemudian diganti menjadi GPIB Bethel Jemaat Djatinegara.
Pada 1 Januari 1961, nama gereja ini berganti lagi menjadi GPIB Jemaat Koinonia, dan sampai sekarang nama tersebut masih digunakan. Nama Koinonia ini diambil dari bahasa Ibrani, yang berarti Persekutuan. Berubahnya nama menjadi GPIB Jemaat Koinonia ini terjadi sejak adanya otonomi terhadap gereja-gereja. Perubahan nama menjadi GPIB Jemaat Koinonia bertujuan untuk memperluas wilayah pelayanan gereja terhadap jemaatnya. Dengan pelayanan yang semakin luas cakupannya maka wilayah-wilayah tersebut nantinya akan menjadi bakal jemaat yang akan dilayani dan dibina agar menjadi jemaat yang berdiri sendiri.
GPIB Jemaat Koinonia ini memiliki desain dan bentuk yang sederhana serta tidak rumit. Bentuk dan denah bangunan memiliki pola simetris. Bangunannya mempunyai tiga lantai. Lantai pertama merupakan tempat ruang utama berada, dan pada lantai kedua merupakan tempat menampung jemaat apabila lantai pertama atau ruang utama tidak bisa menampung jemaat lagi. Selain itu, fungsi lain dari lantai kedua ini adalah sebagai tempat untuk paduan suara jika hari ibadah tiba atau hari-hari besar datang. Sedangkan, lantai ketiga dari gereja ini merupakan ruang doa, tempat ini merupakan tempat khusus, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruang ini tanpa izin dari pengelola gereja tersebut.
Gereja ini memiliki empat anak tangga yang berada di setiap sudut bangunan. Keempat anak tangga ini menjadi penghubung tiap lantainya. Dua buah anak tangga yang berada di sisi depan bangunan merupakan penghubung antara lantai satu dengan lantai kedua, sedangkan dua buah anak tangga yang berada di belakang bangunan gereja merupakan penghubung antara lantai pertama dengan lantai ketiga. Empat lokasi anak tangga yang berada di setiap sudut bangunan gereja membuatnya terlihat seperti empat buah menara yang mengapit bangunan utama apabila terlihat dari luar bangunan. Bagian dalamnya berbentuk salib simetri, yang menjadi letak jemaat berdoa pada waktu diadakan misa.
Gereja tiga laintai ini ini masuk dalam kategori benda cagar budaya (BCB) pada 30 September 1997. Sedangkan, pengajuan untuk menjadi bangunan BCB dilakukan pada Februari 1992 berdasarkan surat dari Dinas Tata Bangunan dan Pemugaran Pemerintah DKI Jakarta tentang permohonan untuk pelestarian bangunan GPIB Jemaat Koinonia, yang ditandatangani oleh Pendeta Iswiadji.
Bangunan gereja ini akhirnya memperoleh plakat sebagai bangunan sadar pelestarian budaya untuk pemeliharaan dan pemugaraan lingkungan dan BCB di Provinsi DKI Jakarta pada 2005, yang disahkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, bangunan gereja ini juga menjadi salah satu dari 60 bangunan terpilih yang menjadi bangunan penting dalam sejarah perkembangan kota Jakarta. Keaslian bangunan GPIB Jemaat Koinonia yang masih terawat sampai saat ini, memperlihatkan bahwa bangunan ini merupakan salah satu aset sejarah perkembangan kota Jakarta. *** [210416]

Kepustakaan:
A. Heuken. 2003. Gereja-Gereja Tua di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka
Rinno Widianto, 2009. Gereja Koinonia, Meester Cornelis Jatinegara: Gaya dan Ragam Hias, dalam Skripsi di FIB UI, Depok
https://id.wikipedia.org/wiki/Jatinegara,_Jakarta_Timur
http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Gereja_Koinonia

0 komentar:

Posting Komentar