Jumat, 08 April 2016

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Setelah melepas lelah sambil menyejukan diri di Taman Suropati, saya melanjutkan langkah ke arah rute jalur bus KOPAJA P20 yang mengarah ke Mampang Prapatan. Dalam perjalanan menuju rute tersebut, langkah kaki pun terhenti sejenak lantaran pesona gedung lawas yang megah.
Gedung lawas yang menghadap ke utara ini, kini digunakan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Museum ini terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1 RT. 09 RW. 04 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini berada di sebelah barat GPIB Paulus, atau sebelah timur kediaman duta besar Saudi Arabia.
Dalam brosur yang diterbitkan oleh museum ini, menyebutkan bahwa gedung ini didirikan sekitar tahun 1920-an dengan menggunakan gaya arsitektur Art Deco. Rancangan gedung ini dikerjakan oleh arsitek Belanda J.F.L Blankenberg di atas tanah seluas 3.914 m² dan luas bangunannya 1.138 m². Pada tahun 1931, pemiliknya atas nama PT Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah Perang Pasifik, gedung ini dipakai Britse Consul Generaal (British Consul General) sampai Jepang menduduki Hindia Belanda.


Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda. Tadashi Maeda lahir di Kagoshima, Jepang, pada tahun 1898. Selama masa pendudukan Jepang atas Hindia Belanda, beliau menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat tentara Kekaisaran Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda sampai Sekutu mendarat di Hindia Belanda, September 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Pemindahan status kepemilikan gedung ini, terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya.
Pada 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai dengan 1981. Selanjutnya gedung ini diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 Desember 1981. Tahun 1982, gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.
Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia karena pada 16-17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pada tahun 1984 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/1996 tanggal 24 November 1992, gedung ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yaitu sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang Kebudayaan di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kini Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 47 tahun 2012 tanggal 20 Juli 2012.

Ruang Pamer dan Koleksi Museum
Sesuai dengan denah yang ada di layar monitor yang disediakan oleh Museum Perumusan Naskah Proklamasi, gedung ini memiliki dua lantai. Baik lantai bawah maupun lantai atas terdapat sejumlah ruang pamer.
Pengunjung yang ingin masuk ke dalam museum akan diterima oleh petugas jaga museum, dengan mempersilakan pengunjung untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu dan kemudian petugas akan menyodorkan karcis masuk dengan biaya Rp 2.000,00. Lalu, pengunjung akan dipersilakan menikmati koleksi museum yang ada di dalamnya, tentunya dimulai dari ruang lantai bawah terlebih dahulu baru menyusul ke lantai atas.

Lantai Bawah
Di lantai bawah ini sebenarnya terdapat sebelas ruang, namun untuk ruang pamer museum ini hanya disajikan empat ruang saja. Keempat ruang tersebut adalah:

Ruang I: Ruang Pra Perumusan Naskah Proklamasi
Pada ruang I ini terdapat satu set meja kursi yang dulu digunakan untuk pertemuan dengan Tadashi Maeda. Kursi yang berwarna kuning terdiri atas empat buah dengan satu meja berbentuk bulat dan berukuran kecil.
Pada tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo diterima oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda di kediamannya sekitar pukul 22.00 sepulang dari Rengasdengklok. Mereka menjelaskan kepada Maeda tentang akan diadakannya pertemuan untuk persiapan menjelang Indonesia merdeka.
Maeda memberitahukan pesan Gunseikan (Pemerintah Militer Jepang) kepada rombongan yang pulang dari Rengasdengklok agar menemuinya. Kemudian mereka dengan ditemani Maeda dan Miyoshi Sunkichiro (Juru bicara Angkatan Darat Jepang) berangkat ke Gunseikan dan bertemu dengan Mayor Jenderal Nishimura Otoshi. Mayor Jenderal Nishimura menjelaskan bahwa pihak Jepang tidak dapat membantu, karena telah ada kesepakatan dengan pihak Sekutu untuk mempertahankan status quo di Indonesia. Ia juga melarang adanya rapat yang akan dilangsungkan di rumah Maeda.
Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo tiba kembali di rumah Maeda sekitar pukul 02.30 WIB. Mereka menjelaskan kepada Maeda akan memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia sekarang juga. Maeda tidak campur tangan dan mengundurkan diri ke kamarnya di lantai atas, yang sekarang digunakan sebagai Ruang I.

Ruang II: Ruang Perumusan Naskah Proklamasi
Ruang II ini memiliki ukuran yang lebih besar ketimbang ruang I. Di dalam ruang ini terdapat satu set meja dan kursi. Mejanya berukuran besar berbentuk bulat telur dengan warna pelitur, sedangkan kursi berjumlah banyak mengelilingi meja tersebut. Dulu, ruangan ini merupakan ruang makan.
Menjelang dini hari sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebarjo memasuki ruang makan, mereka duduk mengitari meja makan panjang. Bung Karno mulai mempersiapkan draft Naskah Proklamasi, sedangkan Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan.


Setelah teks diberi judul “Proklamasi”, dialog pertama yang dihasilkan dari kesepakatan tiga tokoh nasional itu adalah, “Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”.
Kemudian kalimat kedua ditambah oleh Bung Hatta, berupa pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan. Akhirnya, selesailah konsep naskah proklamasi dengan beberapa coretan sebagai tanda pertukaran pendapat dalam merumuskannya.
Setelah selesai, naskah tersebut dibawa ke serambi muka untuk dibacakan dihadapan para tokoh yang telah menunggu.

Ruang III: Ruang Pengetikan Naskah Proklamasi
Ruang III ini berukuran kecil dan letaknya berada di bawah tangga menuju ke lantai atas. Ruang ini dulu digunakan oleh Sayuti Melik dalam mengetik naskah proklamasi bersama B.M. Diah.
Setelah konsep naskah proklamasi yang disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo disetujui oleh hadirin, Bung Karno meminta Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi tersebut.
Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi di ruang bawah dekat dapur, dengan ditemani oleh B.M. Diah.


Pada saat pengetikan, Sayuti Melik melakukan perubahan tiga kata. Kata “tempoh” menjadi “tempo”, kata wakil-wakli Bangsa Indonesia”, berubah menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”, begitu pula dalam penulisan hari, bulan dan tahun.
Setelah naskah proklamasi selesai diketik segera dibawa kembali ke tempat hadirin untuk ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Bung Karno dan Bung Hatta menandatangani naskah tersebut di atas piano yang terdapat di bawah tangga ruangan.

Ruang IV: Ruang Pengesahan Naskah Proklamasi
Ruang VI ini merupakan ruangan yang paling besar yang ada di lantai bawah. Setiap pengunjung yang masuk ke dalam museum ini sebenarnya tanpa disadari telah memasuki ruang IV, hanya saja karena pengunjung berkeliling ruangan maka mereka akan mengikuti denah ruangan tersebut. Ruang IV ini merupakan Ruang Pengesahan Naskah Proklamasi dan tempat berkumpulnya para tokoh yang hadir.
Konsep naskah proklamasi yang telah dirumuskan oleh Bung karno, Bung Hatta, dan Ahmad Soebardjo dibawa ke serambi muka menemui para hadirin yang telah menunggu. Bung karno kemudian membacakan rumusan pernyataan kemerdekaan yang telah dibuat itu secara perlahan-lahan dan berulang-ulang.


Sesudah itu beliau bertanya kepada para hadirin, setuju atau tidaknya terhadap rumusan itu. Menurut Bung Hatta, jawaban dari hadirin adalah gemuruh suara menyatakan setuju. Kemudian diulangi lagi pertanyaan oleh Bung karno, “Benar-benar saudara setuju?” jawabannya adalah sama, yaitu “setuju”.
Kemudian sempat timbul pertentangan pendapat mengenai siapa yang akan menandatangani naskah proklamasi tersebut.
Akhirnya Sukarni maju ke muka dan dengan suara lantang mengatakan: “Bukan kita semua yang hadir di sini, harus menandatangani naskah, cukup dua orang saja menandatanganinya atas nama rakyat Indonesia, yaitu Soekarno dan Hatta”.
Usul itu pun diterima hadirin dengan tepuk tangan dan berseri. Kemudian Bung Karno memerintahkan Sayuti melik untuk mengetik naskah proklamasi tersebut.

Lantai Atas
Di lantai atas ini sebenarnya terdapat sembilan ruang ditambah dengan 3 balkon. Dua balkon berada di depan, terletak di sisi timur dan barat. Sedangkan, balkon satunya berada di belakang di sisi timur.
Dari kesembilan ruang tersebut, lima ruang saja yang disajikan untuk memajang koleksi museum ini. Kelima ruang tersebut adalah:

Ruang I: Kamar Tidur Maeda
Semula ruang I ini merupakan kamar tidur yang digunakan oleh Tadashi Maeda. Pada ruang I ini banyak didominasi koleksi museum yang berkisah mengenai biografi beberapa tokoh yang hadir dalam perumusan naskah proklamasi, antara lain Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Burhanudin Mohamad Diah, Anang Abdul Hamidhan, Ki Hadjar Dewantara, Mr. R. Soepomo, Mr. Johannes Latoeharhary, Dr.KRT Radjiman Wedyodiningrat, Dr. G.S.S.J Ratulangi, Sukarni, Mr. I Goesti Ketut Poedja, dan Mr. R. Iwa Kusumasumantri.
Selain itu, juga terdapat beberapa baju mereka dalam perjuangan disertai topi dan juga stempel di kala itu.

Ruang II: Ruang Kerja Pribadi
Pada awalnya ruang II ini merupakan ruang kerja bagi Laksamana Muda Tadashi Maeda. Kemudian disulap menjadi ruang pamer II yang memajang sejumlah koleksi museum ini. Koleksi museum ini pada umumnya berupa documentary board yang mengisahkan berbagai sejarah perjanjian antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda, seperti Perjanjian Renville, Meja Bundar, dan sebagainya.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan secara fisik saja tetapi juga dengan cara diplomasi. Awal perjuangan diplomasi terjadi di gedung ini, yaitu 17 November 1945 diadakan pertemuan antara pihak Indonesia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir dan pihak Belanda yang dipimpin oleh DR. H.J. Van Mook, sedangkan dari pihak Sekutu diwakili oleh Letnan Jenderal Christisson.
Selain itu, juga terdapat foto Laksamana Muda Tadashi Maeda bersama para pembantunya.
Pada 7 Oktober 1946, atas jasa baik Inggris perundingan dilakukann lagi di gedung ini yaitu antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir dan pihak Belanda oleh Prof. Schermerhorn, sedangkan sebagai penengahnya adalah Lord Killearn.

Ruang III: Kamar Tidur Sekretaris
Ruang III ini dulunya merupakan kamar tidur sekretaris Maeda. Kemudian digunakan menjadi ruang pamer III yang mengetengahkan sejumlah peristiwa sejarah yang berhubungan dengan pergerakan di Indonesia.

Ruang IV: Ruang Perkantoran Staf Rumah Tangga dan Tempat Istirahat
Semula ruang IV ini merupakan ruang kantor bagi staf rumah tangga Laksamana Muda Tadashi Maeda, dan sekaligus sebagai ruang istirahatnya.
Di dalam ruang ini terdapat sejumlah peninggalan yang berhubungan dengan alat-alat perkantoran yang digunakan di ruangan ini, ditambah dengann documentary board yang dipasang di dinding. Documentary board tersebut berkisah tentang peristiwa sejarah seputaran kemerdekaan Indonesia.

Ruang V: Kamar Tidur Pembantu Wanita
Ruang V ini berada di dekat tangga naik ke lantai atas. Dulu, ruangan ini merupakan kamar tidur pembantu wanita Laksamana Muda Tadashi Maeda.
Ruang V ini juga memuat koleksi museum yang berkisah mengenai peristiwa sejarah lainnya yang berkenaan dengan seputar Indonesia merdeka.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini terletak di lokasi yang strategis di dekat Taman Suropati, sehingga mudah diakses dengan menggunakan kendaraan bermotor, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kendaraan umum yang melewati museum ini adalah Patas AC 76 Jurusan Senen-Ciputat, Patas AC 16 Jurusan Rawamangun-Lebak Bulus, Patas AC 11 Jurusan Pulau Gadung-Grogol, dan bus PPD 213 Jurusan Kampung Melayu-Grogol. Semua trayek tersebut berhenti di halte museum ini. *** [060416]

0 komentar:

Posting Komentar