Minggu, 24 April 2016

Stasiun Kereta Api Jatinegara

Stasiun Kereta Api Pasar Jatinegara (JNG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jatinegara, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian +16 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang cukup besar.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Bekasi Barat No. 1 RT. 13 RW. 16 Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini terletak di depan Pasar Batu Mulia Jakarta, atau yang dikenal dengan Jakarta Gems Center.
Keberadaan Stasiun Jatinegara tidak terlepas dari adanya pembangunan jalur kereta api dari Jakarta Kota-Bekasi lewat Pasar Senen sepanjang 27 kilometer oleh Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) pada tahun 1887, dan kemudian dilanjutkan ke Kedunggedeh yang selesai pada 1891 serta diteruskan lagi hingga ke Karawang.
Pada saat membangun jalur Kedunggedeh-Karawang, Maskapai BOS mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak mampu meneruskan jalur tersebut, dan tidak bisa merawat jalur yang sudah ada. Akhirnya, jalur bekas milik Maskapai BOS ini dibeli oleh Pemerintah Hindia Belanda pada Agustus 1898, dan pengelolaannya diserahkan kepada Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda). Kemudian Staatsspoorwegen (SS) melanjutkan pembangunan jalur Kedunggedeh-Karawang sepanjang 6 kilometer pada 1898. Dari Kerawang, SS meneruskan pembangunan jalur rel ke Cikampek hingga Purwakarta sepanjang 41 kilometer pada 1902. Tak hanya itu, SS juga membangun jalur rel Cikampek-Cirebon sepanjang 137 kilometer pada 1912, yang pada akhirnya terkoneksi dengan jalur kereta api dari Jawa Tengah.


Awalnya, bangunan Stasiun Jatinegara ini masihlah sederhana pada saat dibangun oleh Maskapai BOS. Wilayah Jatinegara dulunya masih bernama Meester Cornelis. Nama Meester Cornelis mengacu kepada seorang bernama Cornelis Senen, seorang pria kaya asal Pulau Lontor, Banda, Maluku yang bermukim di Batavia sejak tahun 1621. Di Batavia, Cornelis Senen menjadi guru agama Kristen, membuka sekolah dan memimpin ibadat agama Kristen serta menyampaikan khotbah dalam bahasa Melayu dan Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat ia mendapat sebutan “Meester” atau “Tuan Guru.”
Pada waktu itu, Cornelis Senen berkeinginan sekali menjadi pendeta, niat itu ditolak oleh Belanda karena tidak memenuhi syarat. Meski demikian, Belanda tetap mengizinkan Cornelis Senen menjadi guru agama Kristen, dan sekaligus diberi wilayah berupa hutan di tepi Ciliwung untuk ditempati dan sekalgus digarapnya. Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis.
Seiring perjalanan waktu, daerah Meester Cornelis semakin berkembang dan kian menjadi ramai sekitar tahun 1905. Banyak orang Tionghoa yang juga berdatangan ke daerah itu untuk mengadu nasib, dan orang Belanda yang bermukim di situ. Seiring itu pula, banyak bangunan fasilitas publik dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada periode tersebut. Termasuk SS akhirnya juga berencana melakukan rancang bangun stasiun lama yang sudah dibuat oleh Maskapai BOS menjadi stasiun yang lebih besar untuk mengantisipasi perkembangan pesat di wilayah Meester Cornelis. Pembangunan stasiun tersebut kemudian dikerjakan pada tahun 1910, dan desain arsitekturnya dirancang oleh Ir. S. Snuyf dari Departement van Burgelijke Openbare Werken (BOW). Stasiun ini dirancang sebagai stasiun penghubung yang penting sebagai rangkaian yang baru ke stasiun Weltevreden dan jalur yang ada ke Tanjung Priok melalui Stasiun Pasar Senen.
Dalam perjalanannya stasiun ini pernah beberapa kali berganti nama. Pada waktu jalur ini masih dikelola oleh Maskapai BOS, stasiun ini dikenal dengan Stasiun BOS. Kemudian setelah diambil alih oleh SS, nama stasiun ini berubah menjadi Stasiun Staatsspoorwegen. Lalu, setelah dibangun kembali dan diperluas, stasiun ini menjadi Stasiun Meester Cornelis. Dan, setelah Jepang menduduki Jakarta, stasiun ini diganti oleh Jepang menjadi Stasiun Jatinegara sampai saat ini. Hal ini mengikuti perubahan nama dari Meester Cornelis menjadi Jatinegara yang dilakukan oleh Jepang, karena Jepang tidak suka dengan nama-nama yang masih berbau Belanda.
Dilihat dari fasade bangunan stasiun ini, tampak seperti gaya peralihan antara Indische Empire dengan gaya kolonial modern. Tampak depan tidak simetris, namun terlihat adanya penekanan bagian tengah sebagai focal point melalui ukuran ruang dan ketinggian bangunan yang lebih menonjol. Di bagian atas puncak atapnya terdapat kubah kecil (louvre), sedangkan di bagian muka atap terdapat semacam domer tapi membentuk gevel kecil.
Memasuki bangunan stasiun dari pintu utama, akan menjumpai hall yang tinggi langit-langitnya. Sehingga memungkinan adanya jendela atap (clerestory), yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Di hall tersebut ada beberapa loket untuk penjualan karcis. Dulu, sewaktu stasiun ini masih digunakan untuk pemberangkatan kereta api ke Jawa Tengah maupun Jawa Timur, pemandangan di loket selalu berjubel. Tapi semenjak digunakan untuk stasiun commuter line, sudah tidak berjubel lagi namun masih menunjukkan keramaian juga.
Stasiun ini juga memiliki beberapa jalur aktif sebanyak 5 jalur. Hal ini dikarenakan Stasiun Jatinegara merupakan jalur penghubung antara Stasiun Manggarai, Stasiun Pasar Senen, dan Stasiun Bekasi. Bagian peronnya telah ditinggikan dengan atap tambahan berbentuk sayap.
Stasiun Jatinegara ini telah ditetapkan sebagai daftar tinggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011/M/1999 tanggal 12 Januari 1999. *** [240416]

0 komentar:

Posting Komentar