Selasa, 26 April 2016

Pantjoran Tea House Jakarta

Pada zaman dulu, sekitar tahun 1920-1930-an, Jalan Pancoran dikenal sebagai kawasan toko obat Tiongkok. Banyak orang Tionghoa yang mengais rezeki melalui berdagang obat khas Tiongkok tersebut, sehingga sepanjang Jalan Pancoran terlihat deretan toko penjual obat Tiongkok.
Maka tak mengherankan bila pada waktu itu, Pancoran dikenal sebagai sentra toko obat Tiongkok yang paling lengkap di Indonesia. Ada beberapa toko obat Tiongkok yang cukup eksis kala itu, yaitu Tay Seng Ho, Si Nei, Hau Hau, Bang Seng, dan Apotek Chung Hwa. Meskipun, berdirinya paling akhir dari keempat toko obat yang lainnya, yaitu pada tahun 1928, namun karena letak Apotek Chung Hwa dan bentuk bangunannya yang khas, menjadikan Apotek Chung Hwa ini cukup dikenal bagi masyarakat Jakarta tempo doeloe.
Kekhasan bangunannya yang terletak di sudut jalan ini, menjadikan bangunan lawas bekas Apotek Chung Hwa menjadi salah landmark yang terdapat kawasan Glodok dan Kota Tua Jakarta. Hal ini yang menginspirasi PT JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corporation) yang berkerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk memasukkan Apotek Chung Hwa sebagai salah satu bangunan yang direvitalisasi.
Pemugaran bangunan bekas Apotek Chung Hwa memakan waktu sekitar 8,5 bulan, dan selesai pada 15 Desember 2015. Gedung yang awalnya memiliki luas bangunan 400 m² itu, kini hanya tersisa sekitar 218 m². Luas bangunan ini berkurang, karena terpotong proyek pelebaran jalan di kawasan Glodok.


Sekarang gedung tersebut telah utuh kembali, berdinding warna krem dan didesain dengan hiasan jendela kaca memanjang mengelilingi bagian luarnya. Bohlam-bohlam lampu bercahaya kuning temaram menggantung menghiasi ruangan. Kendati sudah purna pugar dan siap dihuni lagi, namun bangunan tua ini tidak akan dimanfaatkan kembali sebagai toko obat atau apotek lagi, melainkan difungsikan sebagai Pantjoran Tea House. Kedai teh ini terletak di Jalan Pancoran No. 6 Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi kedai teh ini berada di sebelah utara Pasar Glodok/Eks Harco, atau berada di persimpangan Jalan Pancoran dan Jalan Pintu Besar Selatan.
Pantjoran Tea House adalah sebuah kedai teh bernuansa Tiongkok. Interiornya pun dibuat dengan unsur Tiongkok yang kuat. Terlihat dari pemilihan ornamen kisi-kisi dan pintu bergaya Tiongkok dan lantai keramik dengan gaya serupa. Desain ini memang dipilih dalam merevitalisasi bangunan tua ini, untuk mempertahankan budaya Tiongkok yang identik dengan China Town sebagai bagian dari Kota Tua Jakarta.
Selain itu, pengalihfungsian menjadi kedai teh ini tidak serta merta tanpa alasan yang mendasar. Dalam sejarahnya, Apotek Chung Hwa berdiri di daerah Patekoan Glodok. Kata Patekoan, berasal dari bahasa Tiongkok, yang terdiri dari Pa dan Tekoan. Pa artinya delapan, dan tekoan berarti teko. Jadi, Patekoan bermakna Delapan Teko.
Kisahnya bermula dari seorang Kapitein der Chineezen bernama Gan Jie yang gemar menyediakan delapan teko berisi teh di depan rumahnya. Tujuannya memberikan teh gratis untuk orang-orang yang singgah di depan rumahnya, sembari berteduh selepas berdagang keliling atau hanya kelelahan berjalan. Di depan rumahnya, Gan Jie memasang meja-meja kecil. Setiap pagi dan sore ia menyediakan cangkir-cangkir berisi air teh di atas mejanya.
Gan Jie menyediakan delapan teko ini untuk isi ulang bila teko yang satu sudah habis, orang lain yang mau minum masih bisa kebagian. Sehingga, air teh yang disediakan oleh Gan Jie dalam delapan teko ini mampu mencukupi keperluan warga yang melintas di depan rumahnya. Perbuatan mulia Gan Jie ini pun akhirnya dikenal oleh warga, dan persediaan air teh pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi rumah Kapiten Tionghoa itu. Warga pada umumnya mengatakan, di mana ada teh-teh itu di situlah tempat tinggal Gan Jie.
Kisah inilah yang mengilhami kedai teh tersebut. Kota Tua Jakarta yang diwarnai suasana Pecinan, di mana banyak etnis Tionghoa tinggal, tentu akrab dengan tradisi minum khas negeri Tirai Bambu. Teh menjadi minuman yang populer di tengah-tengah keluarga Tionghoa, karena bukan sekadar rasanya tetapi juga kualitas teh tersebut bagi kesehatan.
Sesuai namanya, Pantjoran Tea House ini diusung menjadi brand kedai teh yang ada di kawasan Glodok, yang dulunya merupakan pintu gerbang menuju Kota Tua Jakarta. Teh, memang menjadi menu unggulan yang terdapat di kedai teh ini, di samping menu makanan yang lainnya, seperti nasi goreng, mie goreng, bakso tahu kuah, bubur ayam, dan aneka masakan lainnya.
Kedai teh ini juga tak mau kalah dengan museum pada umumnya. Di kedai tersebut, pengunjung kedai teh tersebut bisa menikmati secangkir teh khas Tiongkok sambil membaca documentary story board ala museum. Ada dua story board di situ, yaitu Timeline Sejarah Teh: Kelahiran di Cina dan Kebudayaan Teh Jepang. Teguk mantapnya, dan dapatkan sejarahnya! *** [240416]

0 komentar:

Posting Komentar